TEKNOLOGI

Yussi "Tony Stark" Perdana, Produsen Radar Milenial yang Sanggup Bangun AESA

Minggu, 10 November 2019 10:25
Penulis : Beny Adrian
Yussi

Direktur Teknik PT Radar Telekomunikasi Indonesia Yussi Perdana Saputera. Sumber: angkasa.news/ beny adrian

Angkasa.news – Tampil santai dan sedikit lucu, kehadiran Direktur Teknik PT Radar Telekomunikasi Indonesia (RTI) Yussi Perdana Saputera cukup mencairkan suasana diskusi yang semula serius.

Yussi hadir sebagai pembicara dalam seminar “Peran Industri Pertahanan Swasta Nasional Dalam Menunjang Pertahanan Nasional dan 10 Tahun Revitalisasi Industri Pertahanan”, yang digelar Jakarta Defence Studies (JDS) di Galeri Foto Jurnalistik Antara, Jakarta Pusat (7/11).


Mengaku mewakili kaum milenial yang mencari peruntungan di industri pertahanan, Yussi bersama timnya yang berjumlah 14 orang itu membuat produk pertahanan radar.

Di Galeri Foto Antara ini, Yussi mengusung dua produk andalannya. Yaitu portable manpack radar Antareja (generasi 1) dan Arjuna (generasi 2). “Ini asli buatan anak bangsa loh, dibuat di Bandung,” aku Yussi bangga memperkenalkan produknya.

Manpack radar yang dikembangkan PT RTI ini berfungsi untuk mendeteksi manusia dan kendaraan pada saat pasukan berada di lapangan pada jangkauan sekitar 3 km untuk manusia dan 10 km untuk kendaraan besar.

Radar ini bisa menggantikan fungsi penglihatan manusia yang terbatas, dan juga bermanfaat pada saat operasi di malam hari. Pasalnya radar ini dapat berfungsi dengan baik dalam segala kondisi cuaca.

Karena model manpack, radar Antareja dapat dibawa oleh dua personel dengan cara dipanggul. Sumber daya dari baterai kering dan display menggunakan laptop standar militer.

Menceritakan pengalamannya mengembangkan radar dan perangkat elektronika, sejatinya Yussi sudah lama merintis usaha ini. Hanya saja sebelum membentuk PT RTI, ia hanya semata produsen dari produk pesanan perusahaan yangmenerima tender.

Di antara produknya adalah radar navigasi laut Cantaka yang digunakan nelayan untuk mendeteksi objek jarak jauh. “Harganya di bawah Rp 50 juta,” ujar Yussi. Masa itu ia juga mendapat kerjaan membuat radar surveillance untuk Arhanud TNI AD.

Portable manpack radar ini pernah saya tawarkan ke Paskhas, namun tidak ada respon,” katanya tersenyum kecut.

Setelah sekian tahun sebagai subkontraktor, Yussi pun memberanikan diri membentuk perusahaan sendiri. Maka sejak Februari 2016 mulailah ia sebagai start up dengan 70 persen SDM adalah kelompok milenial.

Menggeluti dunia radar ternyata tidaklah mudah. Hal itu sudah dirasakan Yussi bahkan sejak masih kuliah di ITB, Bandung. Di kampus dimana ia kemudian meraih master radar.

“Tidak banyak yang mau kuliah radar, saya satu angkatan 2012 hanya 4 orang, saya satu-satunya laki-laki,” kenang Yussi.

Lalu bagaimana sekarang? Hanya ia sendiri yang masih bergelut di dunia radar. Sementara tiga temannya beralih profesi dengan bekerja di bank dan PNS. “Mereka bilang, ya, bagaimana, tidak ada yang menyerap kita sehingga mereka mencari pekerjaan di sektor lain,” curhat Yussi yang mengaku belum mendaftar sebagai industri pertahanan swasta di kementerian pertahanan.

Saat ini dengan 14 orang karyawan, Yussi harus mengeluarkan Rp 150 juta setiap bulannya untuk gaji karyawan. Ia bersyukur memperoleh kerjaan dari Dirjen Pendidikan Tinggi untuk membuat manpack radar, sehingga bisa meringankan beban keuangan perusahaannya.

Namun dengan idealisme untuk mengembangkan industri pertahanan di tanah air dan ikut berkontribusi, membuat Yussi bertahan di bidang radar.

Ketika ditanya berapa harga radar buatannya ini, Yussi tidak ragu menyebut kisaran Rp 3-4 miliar. Harga yang menurutnya jauh dibanding radar sejenis buatan luar negeri yang sekitar tujuh miliar rupiah.

Kesulitan lain yang menghadang industri radar adalah, belum memadainya industri komponen elektronika dalam hal ini industri semikonduktor di Indonesia.

Menjadi tantangan untuk mewujudkan industri elektronika adalah kesiapan memproduksi komponen paling kecil yang menjadi komponen vital semua peralatan elektronik. Yakni  integrated circuit (chip) yang umumnya disebut industri semikonduktor.

Saat ini perusahaan semikonduktor terbesar di dunia adalah Taiwan Semiconductor Manufacturing Company Ltd. (TSMC) di Taiwan.

“Industri pendukungnya belum ada, jadi komponennnya impor. Resistor, konduktor, IC masih impor. Walaupun kami jago memprogram IC tapi IC-nya masih impor,” ungkap Yussi.

Yussi menjelaskan produk radar kepada Kolonel Bejo Suprapto dari Dispenau. Sumber: angkasa.news/ beny adrian

Apalagi mencari komponen dengan standar military specification, akan semakin sulit. Yussi mencontohkan satu konektor standar sipil bisa ditebus di Cikapundung (Bandung) seharga Rp 50.000 saja. Namun untuk yang milspec mencapai Rp 2 juta.

Karena itu menurut Yussi, jika semua komponen elektronika ini tersedia di dalam negeri, bahkan membuat radar tercanggih AESA (active electronically scanned array) pun menurutnya tidak akan sulit.

Yussi pun berbagi pengalaman.

Ia pernah melakukan penelitian tentang radar AESA. Untuk itu ia harus membeli sejumlah modul dari Amerika Serikat.

Saat membeli komponen ini, Yussi memanfaatkan posisinya sebagai dosen sehingga pembelian dilakukan untuk keperluan penelitian. Itupun hanya bisa modul dalam jumlah hitungan jari.

“Karena kalau tidak untuk penelitian, akan banyak pertanyaan,” jelas Yussi yang menyebut dirinya Tony Stark Indonesia. Tony Stark adalah miliuner penggila teknologi yang memerankan karakter Iron Man dalam film Avengers.   

Karena berbagai prestasi dan inovasi berdasarkan kemandirian yang dilakukan Yussi bersama timnya, menarik perhatian pemerintah Taiwan. Tahun ini pun ia menjadi satu-satunya orang Indonesia yang menerima undangan dari Presiden Taiwan Tsai Ing-wen.

Perusahaannya menjadi perwakilan Indonesia untuk menghadiri pertemuan negara-negara maju dalam forum penelitian komunikasi jarak jauh.

“Kami ingin mengembangkan industri pertahanan Indonesia, bisa bersaing di negeri orang. Bagaimana orang lain mau pakai barang kita kalau ibu kita sendiri saja tidak mau pakai,” ucap Yussi menyindir pemerintah agar terlebih dahulu membeli produk anak bangsa sebelum menjualnya ke negara lain.



Komentar