TEKNOLOGI

Sekelumit Hawk 109/209 TNI AU, Penempur Terkecil Asean dan Diandalkan Operasi di Aceh dan Kupang

Rabu, 17 Juni 2020 14:52
Penulis : Beny Adrian
Sekelumit Hawk 109/209 TNI AU, Penempur Terkecil Asean dan Diandalkan Operasi di Aceh dan Kupang

Hawk 209 TT-0211 mendarat menggunakan dragchute. Foto diambil tahun 2007. Sumber: dok. angkasa

Angkasa.news - Ketika akhirnya Indonesia memutuskan memborong dua skadron Hawk 100/200 pada Juli 1992, pengamat sempat latah bergosip: BAe membuat gelombang di Asia Tenggara. Gelombang apa?


Dimaksud tak lain pesanan Indonesia akhirnya melengkapi order dari tiga negara Asean.

Kalau Indonesia (awalnya) memesan 24 Hawk 100/200 (8 Hawk 100, 16 Hawk 200), Malaysia membeli 18 Hawk 100 dan 10 Hawk 200 serta Brunei. Namun Brunie akhirnya batal membeli 16 Hawk 100/200.

Seperti pernah ditulis Majalah Commando beberapa tahun silam, kontrak ini tidak saja berarti dana segar senilai 500 juta poundsterling atau sekitar Rp 1,8 triliun (kurs saat itu) bagi BAe Inggris, tapi juga mengakhiri dua hal.

Pertama, mengakhiri kompetisi dengan pesaing AMX dari Italia, serta yang kedua, katanya, saat itu BAe tengah dililit masalah keuangan.

Oleh BAe, Hawk Indonesia diberi kode 9. Hingga penulisannya sah-sah saja jadi Hawk 109/209 bila menyebut Hawk Indonesia.

Ketika diputuskan, Hawk sempat mengundang pertanyaan begini: kenapa setelah F-16 kok pilih Hawk? Menjawabnya rada-rada susah. Karena pengamat langsung mempinalti, Hawk kalah jauh dibanding F-16 Fighting Falcon

Namun dengan mengetahui alasan umum pengadaan senjata, kiranya bisa menjadi renungan.

Alasan pertama, pengganti yang sudah uzur; ada ancaman kemanan; karena kemampuan ekonomi; namun tak jarang terjangkit tren lomba senjata. Indonesia ada dimana, mungkin di nomor satu dan tiga.

Seperti diketahui, nasib A-4 Skyhwak dan F-5E/F Tiger II yang makin menua serta keuangan negara yang pas-pasan.

Menelusuri keberadaan Hawk 109/209 di Indonesia, pesawat ini pernah menjadi tulang punggung TNI AU. Karena pertimbangan geopolitik pula, Skadron Udara 1 dipindahkan ke Pontianak. Dan lagi-lagi, pilihan jatuh kepada Hawk. Walau di Pekanbaru juga sudah bercokol Skadron 12. 

Gebrakan terakhir Hawk 109/209 adalah ketika mendukung operasi Darurat Militer di Nanggroe Aceh Darussalam, Mei 2003. Empat Hawk asal Skadron 12 di-BKO-kan kepada penguasa darurat militer. 

Juga ketika lepasnya Timor Timur dari NKRI, satu flight Hawk 100/200 standby di Lanud El Tari, Kupang. Kala itu pula, pemerhati militer dalam negeri menyadari betapa tangguhnya Hawk ketika mencegat F/A-18 Hornet Australia

Dibanding armada yang digantikannya (A-4 dan F-5), Hawk tak kalah jauh. Salah satu fighter terkecil ini unggul dalam serangan udara-darat dan pertahanan udara lapis kedua. 

Sebagai pesawat latih, Hawk 100 lebih maju dari Hawk Mk-53.

Berat maksimum lepas landas meningkat 17 persen, 33 persen untuk bom dan tangki cadangan, 30 persen terbang feri serta aerodinamis. Mesinnya 25 persen lebih kuat dan dilengkapi FLIR (forward looking infra red).

Begitupun Hawk 200, nyaris seimbang dengan F-5 atau A-4.

Kalau kecepatan F-5 mencapai 1.705 km/jam, A-4E 1.370, maka Hawk 1.040. Terbang feri F-5 sejauh 3.174 kilometer, A-4 1.480, maka Hawk justru lebih unggul dengan 3.610. 

Begitupun untuk pengoperasiannya, terbilang gampang. Pokoknya semua landasan yang bisa didarati C-130 Hercules bisa didatangi armada Hawk 100/200. Mulai dari Medan hingga Kupang. 

Hanya saja pengamat yang skeptis, menilai Hawk belum mampu mengatasi ancaman mutakhir. Hawk juga tidak dalam kemampuan untuk menjadi sarana proyeksi kekuatan.


Dalam konteks kekinian, deterrent-nya lemah dibanding armada negara tetangga. 

Setahun setelah kedatangan Hawk 100/20 pertama, TNI AU melengkapi penggunaan pesawat ini dengan membeli simulator. Namanya Simulator Hawk 209 TTSL (Thomson Training Simulator Limited). Dibuat oleh Inggris dan ditempatkan di Pekanbaru. 

Namanya juga simulator, tujuannya sudah pasti untuk meningkatkan keterampilan pilot. Mulai dari prosedur start engine, take off-landing, navigation, air to air dan air to ground combat maneuver, night flight hingga air refueling. Bahkan kerusakan mesin atau tertembak pesawat lawan pun, bisa diset. 

Pada suatu masa paca krisis ekonomi dan embargo, keberadaan simulator ini menjadi berlipat ganda karena jatah jam terbang ditebas. Tahun 1998 saja, jatah di Skadron 12 dipangkas dari 3.240 menjadi 2.170 jam terbang. 

Simulator Hawk 209 terdiri dari replika kokpit lengkap dengan HUD (head up display). Lima proyektor di dalam dome ditambah layar, data bus, host computer, pembangkit citra gambar, pembangkit tekanan hidrolik, dan tabung oksigen. 

Pilot juga bisa merasakan getaran roda saat taxi atau mendarat dengan menyimulasikan getaran pada kursi dan kokpit. Termasuk efek gravitasi.

Kompresor bertekanan turut dimainkan memberikan efek berat-ringan pada kemudi. Baik throttle, stick, dan pedal. 

RIWAYAT HAWK 109/209 TNI AU

  • 27 Juli 1992: KSAU Marsekal Siboen umumkan pembelian dua skadron Hawk 100/200. 
  • 27 Mei 1993: KSAU Marsekal Rilo Pambudi menandatangani kontrak pembelian Hawk dengan Managing Director BAe John P. Weston. 
  • 19 Desember 1995: Inggris setujui nilai 500 juta poundsterling (Rp 1,8 triliun) untuk 24 Hawk. 
  • 17 Mei 1996: 3 Hawk 100 tiba di Pekanbaru mengawali kedatangan 8 Hawk 100 dan 16 Hawk 200.
  • 9 Juli 1996: Hawk 200 pertama tiba di Skadron 12.
  • 14 Mei 1997: 24 Hawk diserahkan secara resmi oleh Dephan kepada Panglima TNI dan selanjutnya KSAU. 
  • 16 Juli 1997: Simulator Hawk 209 resmi digunakan.
  • September 1999: Tiga Hawk tertahan di Bangkok buntut krisis Timtim.
  • 16 September 1999: Dua Hawk terlibat dog fight dengan dua F/A-18 di Kupang. 
  • 22 September 1999: Misi penyelamatan Hawk yang tertahan di Bangkok.
  • 2000: Dua Hawk 100 jatuh. 
  • 19 Oktober 2000: Hawk 100 jatuh di Lanud Supadio, Pontianak. Korban Letkol Pnb Teddy Kustari dan Lettu Pnb Doni Kristian.
  • 16 November 2001: Hawk 209 gagal take off di Pekanbaru. Pilot Mayor Pnb Agung Sasongkojati eject dengan selamat.
  • 6 Juni 2002: Hawk 100 tergelincir di Lanud Medan. 
  • 2003: Hawk 200 TT-1208 Skadron 12 yang jatuh, dijadikan tugu di Mako Koopsau I.
  • 8 April 2004: Hawk 200 TT-1205 tergelincir di Bandara Sultan Syarif Kasim II Pekanbaru.
  • 21 November 2006: Hawk 209 tergelincir saat mendarat di Pekanbaru. Pilot Mayor Pnb Dadang selamat dengan ejection seat
  • 30 Oktober 2007: Hawk 209 jatuh di Desa Maharatu, Pekanbaru, Riau.
  • 16 Oktober 2012: Hawk 200 jatuh di sekitar perumahan Pandau Permai, Kabupaten Kampar, Riau.
  • 15 Juni 2020: Hawk 200 TT 0209 Skadron Udara 12 jatuh di Kabupaten Kampar, Riau.



Komentar