TEKNOLOGI

Pesawat Latih Buatan China Ini Siap Diproduksi. Sekolah Pilot di Indonesia Minat?

Selasa, 23 Juni 2020 10:00
Penulis : Remi
Pesawat Latih Buatan China Ini Siap Diproduksi. Sekolah Pilot di Indonesia Minat?

AG100 saat terbang perdana, Sabtu (20/6/2020). Sumber: Twitter/@chineseflyer

Angkasa.news - Pesawat latih buatan China, AG100, berhasil menjalani penerbangan perdananya pada Sabtu pagi (20/6/2020). AG100 melakukan penerbangan perdananya di bandara Moganshan di Kabupaten Deqing, Provinsi Zhejiang, China timur.

Proyek pesawat latih ini sempat diterlantarkan karena Aviation Industry Corporation of China (AVIC), pengembang AG100, lebih fokus pada pengembangan pesawat regional.

Menurut pilot uji, selama penerbangan 10 menit itu pesawat menunjukkan kemampuan manuver dan stabilitas yang baik. Semua sistem pun beroperasi secara normal.


Pesawat latih AG100 dikembangkan untuk memenuhi permintaan yang tinggi akan pesawat latih sipil baik di dalam pasar China maupun pasar global. Pabrikan mengklaim bahwa AG100 sangat mudah dioperasikan dan memiliki efektivitas biaya yang tinggi.

Pesawat ini memiliki konfigurasi tiga kursi dengan menggunakan bahan bakar bensin. Untuk menggerakkan pesawat, AG100 menggunakan mesin Rotax 915iS dengan GPS Garmin G3X

Perlengkapan keamanan untuk menunjang program latihan calon pilot juga sudah terbilang lengkap. AG100 telah dilengkapi sistem Whole Aircraft Rescue Parachute Systems buatan BRS yang meminimalisir resiko saat pesawat kehilangan kendali. Pesawat ini juga telah dilengkapi kantong udara buatan AmSafe di seluruh kursinya untuk meningkatkan keselamatan bagi penumpang dan pesawat.

AVIC mengklaim bahwa pihaknya telah mengantongi pesanan untuk produksi perdana AG100. Saat ini tim masih berfokus untuk menggarap pasar dalam negeri sebelum meningkatkan angka ekspor.

Selama ini, pasar pesawat latih di dunia masih dikuasai oleh pesawat-pesawat buatan Cessna dan Piper. Di Indonesia sendiri, hampir semua sekolah pilot, terutama sekolah pilot swasta, menggunakan Cessna 152 dan Cessna 172.



Komentar