TEKNOLOGI

Penyamaran Mi-17 Berhasil Kelabui Kelompok Bersenjata FARC di Kolombia, Kok Bisa?

Sabtu, 15 Februari 2020 16:50
Penulis : Beny Adrian
Penyamaran Mi-17 Berhasil Kelabui Kelompok Bersenjata FARC di Kolombia, Kok Bisa?

Helikopter Mi-17 yang digunakan dalam Operación Jaque. Sumber: caracol.com.co

Angkasa.news – Menurut catatan Wikipedia per 2007, sebanyak 12.000 helikopter Mil Mi-8/ Mi-17 Hip sudah diproduksi oleh Kazan Helicopter. Jumlah yang tidak sedikit, membuktikan kepercayaan atas keandalannya seperti halnya kepada C-47 Dakota dan variannya.


Majalah Commando pernah mengangkat kisah Mi-17 yang sangat epik. Kiprah Mi-17 dalam salah satu misinya, membuktikan tidak hanya kehebatannya tapi juga kelebihannya karena banyak digunakan sehingga disebut “pasaran”.

Keluarga Mi-8/Mi-17 merupakan heli yang penampakannya paling umum selain UH-1 Huey. Selain dipakai militer, juga oleh sipil. Di Indonesia, heli ini menjadi andalan dalam misi pemadaman kebakaran hutan di Pekanbaru dan Kalimantan.

Di luar itu, PBB cukup sering memakai Mi-8 dan Mi-17. Termasuk kontraktor militer atau keamanan. Karena luasnya pemakaiannya, heli ini paling gampang disewa oleh kelompok bersenjata atau kelompok separatis.

Operasi memanfaatkan “pasarannya” Mi-17 yang cukup terkenal adalah Operación Jaque atau Operation Checkmate (Operasi Skakmat). 

Operación Jaque yang dilangsungkan 2 Juli 2008 adalah pembebasan 15 orang yang disandera kelompok separatis FARC (Fuerzas Armadas Revolucionarias de Colombia) atau Angkatan Bersenjata Revolusioner Kolombia (Revolutionary Armed Forces of Colombia) yang beraliran Marxist.

Selain anggota kepolisian dan militer Kolombia, di antara yang terbebaskan adalah tiga warga negara AS dan Ingrid Betancourt Pulecio, mantan Senator Kolombia yang diculik dan disekap FARC sejak 23 Februari 2002. 

Saat itu wanita kelahiran Desember 1961 itu merupakan salah satu kandidat presiden menjelang pemilu presiden Kolombia 2002. Betancourt diculik kala berkampanye di San Vicente del Caguan yang dikenal sebagai buffer zone atau DMZ. 

Berbagai upaya pembebasan ditempuh baik dengan cara negosiasi maupun operasi klandestin termasuk oleh Perancis, namun semuanya gagal. 

Perancis ikut berkepentingan karena Betancourt selain warga Kolombia juga merupakan warga negara Perancis. 
Betancourt yang pernah mengenyam pendidikan di Institut d'Études Politiques de Paris sempat menikah dengan seorang diplomat Perancis, sehingga otomatis memperoleh kewarganegaraan. 

Upaya intelijen Kolombia membebaskan sandera telah cukup lama dimulai sebelum 2008. Ditengarai sudah lebih dari setahun beberapa agen intel Kolombia disusupkan dalam FARC dan lambat laun mendapat kepercayaan bergabung dengan kelompok tersebut. 

Tugas mereka bukanlah membebaskan sandera melainkan untuk memastikan keberadaan dan posisi sandera. Untuk menghindari deteksi dan kejaran militer Kolombia, sel FARC yang menyandera ke-15 orang tersebut senantiasa berpindah-pindah di tengah lebatnya belantara selatan. 

Keberadaan mereka terpisah dari pemimpin FARC waktu itu, Alfonso Cano, dan otomatis komunikasi amat terbatas. 
Tak dimungkinkannya komunikasi melalui radio lantaran kekhawatiran terdeteksi pihak Kolombia ataupun satelit mata-mata AS yang menganggap FARC kelompok teroris.

Sekitar bulan Maret, intel yang disusupkan berhasil melokalisasi area yang dipakai untuk menyembunyikan Betancourt dan 14 sandera lainnya kendati masih nomaden. 

Di sekitar sungai tempat para sandera maupun penyanderanya kerap mandi, diam-diam mereka berhasil memasang sensor deteksi gerak (motion sensor) dan kamera mini tersembunyi.

Presiden Kolombia, Álvaro Uribe sendiri yang memberi lampu hijau operasi pembebasan. Idenya, para intel lainnya yang menyamar sebagai mediator dari organisasi nonpemerintah (NGO) akan meyakinkan pemimpin sel penyandera untuk membawa para sandera langsung pada Alfonso Cano, pemimpin tertinggi FARC. 

Tindakan ini cukup wajar mengingat sejumlah LSM memang diketahui aktif melakukan mediasi antara FARC dan pemerintah Kolombia. 

Bukan saja menyangkut 15 sandera bersangkutan, juga terhadap beberapa sandera di sel-sel FARC lainnya. 
FARC dikenal kerap menggalang dana lewat penculikan demi uang tebusan selain perdagangan ilegal narkotika dan obat bius. FARC pun kerap aji mumpung, memanfaatkan sarana transportasi para LSM tersebut untuk menghemat dana operasional.

Persiapan militer Kolombia tak main-main. Pelajaran “akting” sebagai tim LSM berlangsung sekitar dua minggu. Ada yang berperan sebagai kamerawan dan jurnalis serta relawan LSM. 

Karena beberapa LSM pernah dibantu pihak Venezuela (yang bersimpati pada FARC), beberapa kali melakukan mediasi pembebasan sandera, para intel pun mempelajari tata cara yang telah biasa ditempuh. 

Salah satu yang menyolok adalah penggunaan Mi-17 yang kerap disewa LSM. Heli ini kerap dipakai karena berjangkauan terbang cukup jauh dan mampu membawa peralatan dalam jumlah banyak.

Kapasitas angkut personelnya lebih dari cukup untuk mengangkut seluruh sandera. Kebetulan Kolombia memiliki Mi-17 yang mirip. 

Langkah persiapan akhir adalah mengecat salah satu heli semirip mungkin dengan yang pernah dipakai sejumlah LSM mediator, lengkap dengan nomor registrasi yang dipalsukan.

Pagi hari, 2 Juli 2008, dua intel yang berhasil diterima FARC ikut bersama rombongan “LSM”, untuk meyakinkan sel FARC penyandera Betancourt itu agar membawa ke-15 sandera berikut beberapa penjaga ke lokasi Alfonso Cano yang dirahasiakan. 

Heli mendarat di tengah hutan di kawasan Guaviare, di seberang sungai tempat para sandera dikumpulkan dari beberapa lokasi terpisah, diikat tangannya sebelum dinaikkan ke heli.

Dua pentolan sel penyandera tersebut, Gerardo “Cesar” Aguilar Ramírez dan Alexander “Enrique Glasses” Farfan memutuskan ikut serta untuk menjaga para sandera. 

Mi-17 samaran itu menghabiskan waktu terkritisnya selama 22 menit di landing zone dengan mesin terus menyala pada setelan high power agar sewaktu-waktu siap lepas landas. 

Setelah semua sandera (ditemani Ramírez dan Farfan) naik ke helikopter beserta “para aktivis LSM dan jurnalis”, pintu-pintu ditutup dan heli dengan cepat membubung tinggi.

Ketika kecepatan terbang kian meninggi, “para aktivis LSM dan jurnalis” yang tak lain para intel militer Kolombia yang menyamar itu pun menyergap Ramírez dan Farfan. 

Dengan terpana para sandera menyaksikan keduanya diborgol dan kepala mereka diselubungi kain penutup. 

Belum pulih dari keterkejutan, salah seorang intel berkata, Somos el Ejército Nacional, están en libertad! yang berarti kami prajurit Kolombia, Anda sudah dibebaskan.

Terlepas dari sejumlah kritik atas penggunaan dan pemalsuan lambang Palang Merah Internasional serta tuduhan teori konspirasi bahwa sebenarnya ada uang tebusan yang bermain, Mi-17 dalam Operation Checkmate telah memainkan perannya tanpa hambatan.



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.