TEKNOLOGI

Marsdya (Pur) Eris Herryanto Bicara Soal KFX/IFX: Korea Itu Tulus, Mereka Mau Ngasih Apapun ke Kita

Jumat, 19 Juli 2019 13:00
Penulis : Beny Adrian
Marsdya (Pur) Eris Herryanto Bicara Soal KFX/IFX: Korea Itu Tulus, Mereka Mau Ngasih Apapun ke Kita

Marsdya (Pur) Eris Herryanto. Sumber: angkasa.news/ Trisna Bayu

Angkasa.news - Jika angkasa.news tidak keliru, Marsdya (Pur) Eris Herryanto adalah salah satu dari sedikit purnawirawan perwira tinggi TNI yang sangat fasih menjelaskan tentang program pesawat tempur nasional IFX (Indonesian Fighter).

IFX dan KFX adalah proyek pengembangan pesawat tempur generasi 4,5 yang digawangi Korea Selatan. Pada 2009, Indonesia menyatakan minat untuk terlibat, yang ditandai dengan penandatangan letter of intent (LoI).

Proyek ini dinamakan Korean Fighter Experimental (KFX) dan Indonesian Fighter Experimental (IFX). Pesawat akan diproduksi sebanyak 168 unit dengan rincian 120 unit untuk Korsel dan Indonesia diperkirakan 48 unit. Produksi massal rencananya dimulai 2026.

Pada 15 Juli 2010, pemerintah Indonesia setuju untuk mendanai 20% proyek KFX dengan imbalan sekitar 50 pesawat untuk TNI AU. September 2010, Indonesia mengirimkan tim ahli hukum dan ahli penerbangan ke Korea Selatan untuk membahas masalah hak cipta.

Di Indonesia sendiri, pemberitaan terkait program IFX naik turun ibarat ombak di laut. Ada yang bilang tetap jalan, terseok-seok, bahkan yang ekstrem bilang sudah berhenti.

Bertanyalah kepada yang paham, itu kata orang bijak. Untuk itu Angkasa pun menemui Marsdya (Pur) Eris Herryanto di lapangan terbang Pusdirga, Cibubur. Penerbang F-5E/F Tiger II dan F-16 Fighting Falcon ini sudah terlibat proyek KFX/IFX sejak awal.

Dengan jabatannya sebagai Dirjen Sarana Pertahanan Kemenhan (2007-2009), Irjen Kemenhan (2010), dan Sekjen Kemenhan (2010-2013), menjadikannya paham betul sejatinya program IFX.  

Usai mendaratkan pesawat aerobatik Pitts S-2C yang rutin diterbangkannya setiap akhir minggu di Cibubur, Marsdya Eris bicara banyak tentang program KFX/IFX.

Publik selalu bertanya, apakah program IFX masih jalan?

Masih jalan, karena kita masih mengikutsertakan 72 ahli sesuai bidangnya. Misalkan bidang aerodinamika, ya mereka, yang lain belum. Banyak sekali tenaga ahli yang terlibat dari kita untuk KFX/IFX.

Program ini terkesan tidak berjalan lancar, apakah tidak ‘dikunci’ saja sebagai program nasional?

Kalau ditanya bisa atau tidak, saja jawab bisa. Masalahnya pemimpin harus diberi masukan, apa manfaatnya untuk kita di kemudian hari. Karena ada yang berpikiran Indonesia itu teknologinya belum advanced, jadi kenapa ambisi memiliki pesawat dengan teknologi canggih. Kenapa tidak beli saja, nggak susah-susah. Lalu ada ahli yang bilang, saya sudah sekolah tinggi-tinggi S3 di luar negeri, kalau tidak diberi mainan untuk apa saya sekolah. Jadi harus ada program yang disepakati bersama. Jangan semua bagian punya maunya sendiri-sendiri. Pemimpin harus bilang bisa, dengan masukan yang benar.

Apakah komitmen IFX tidak fixed dari awal?

Karena orangnya ganti-ganti. Programnya sudah fixed, tapi kalau pejabatnya baru dan dia tidak mengerti lalu tanya-tanya dan tidak dapat penjelasan, sampai ada yang punya keinginan lain, jadinya berubah. Contohnya radio. TNI butuh radio yang memiliki interoperability darat, laut, dan udara. Oleh karena itu supaya tidak tergantung, bikin sendiri. Ok, industri bilang bisa asal diberi kesempatan. Tetapi komitmennya harus terus, karena industri investasi di situ sehingga butuh long term. Tiba-tiba ada pejabat bilang, kok radionya begini, beli saja dari luar. Itu yang kita hadapi sejak lama.

Apakah dengan kondisi seperti ini, IFX masih jauh dari harapan?

Tidak jauh sih, tinggal bilang full support, masih ngejar. Kita terlambat 1-2 tahun saja, jadi masih bisa ngejar.

Bisa dijelaskan keuntungan yang akan diraih Indonesia jika menguasai teknologi pesawat tempur?

Saya sering bilang, Indonesia tahun 2035 akan kekurangan sumber daya alam yang kita ekspor. Apakah batu bara, nikel, minyak dll. Menurut Pak Jokowi sudah habis semuanya. Kalau sudah habis, lalu apa yang bisa kita ekspor. Satu-satunya ya teknologi. Kalau kita mau ekspor teknologi, mulai dari sekarang. Kalau tidak, bagaimana kita menguasai teknologi di tahun 2035.

Jangan underestimate orang Indonesia, pintar-pintar kok. Di PTDI itu banyak ahli kedirgantaraan. Saya tanya mereka, gaji tidak masalah buat mereka. Bagi mereka, mainannya mana. Jadi pemimpin harus tahu itu semua bahwa mereka siap mengerjakan.

Mungkin Indonesia berat memenuhi komitmen 20% karena masalah keuangan?

Kita hanya memberikan kontribusi satu tahun Rp 2,1 triliun untuk KFX/IFX. Anggaran belanja kita 2.000 triliun, 2 triliun dari 2.000 triliun hanya 0,01 persen. Tetapi ini akan menjadi backbone ekspor setelah 2035 yang nilainya tidak sedikit.

Anggap saja satu pesawat dihargai 75 juta dolar AS, itu 20 persen dari nilainya sudah ada di Indonesia. Kalau satu tahun kita bisa buat IFX sebanyak 30 unit, berarti 30 x 75 x 20%, berapa perputaran ekonomi di Indonesia. Itu memang nanti kalau jalan, dan kondisinya ideal. Termasuk marketing.

Saya berpendapat banyak nilai positif bisa kita dapat jika program ini jalan.

Eris melakukan pre-flight check sebelum menerbangkan Pitts S-2C. Sumber: angkasa.news/ Trisna Bayu

Apakah perlu forum untuk mengangkat kembali isu ini?

Tidak salah, tapi sekarang kita harapkan siapa. Pemerintah yang utama, yaitu Kementerian Pertahanan. Kita kan sedang development jadi perlu komitmen pemerintah, TNI AU perlu terus mendorong. Leading sector-nya ya Kemenhan.

Kalau saya melihatnya dari segi apapun, program KFX/IFX menguntungkan. Dari segi keamanan, ekonomi, SDM. Zaman Pak Habibie kirim orang belajar ke luar negeri, mereka butuh mainan. Kita punya banyak orang seperti ini.

Mereka tidak cari pendapatan besar kok di luar negeri. Mereka bilang, kasih mereka rumah di Indonesia, gaji secukupnya, saya bangun teknologinya.

Jadi siapa orangnya sekarang, saya tidak tahu. Nanti saya dibilang sok tahu he he he. Tidak ada yang tidak mungkin untuk kepentingan bangsa.

Bagaimana soal teknologi AS di dalam pesawat, apakah akan jadi ganjalan?

Kita kerja sama dengan Korea, mereka bilang akan kasih semuanya ke Indonesia. Indonesia tidak perlu khawatirnya, katanya. Saat ini ada empat teknologi yang belum dikuasai Korea. Tapi mereka tidak bilang, karena mereka sedang dan sudah lakukan R&D, jadi saya tahu sudah dikuasai.

Korea sebetulnya sudah tidak tergantung kepada AS. Namun mereka tidak mau begitu, karena tetap menjaga hubungan. Jadi kalau terjadi sesuatu dalam hubungan dengan Indonesia, Korea yang akan bilang bahwa mereka berteman dengan Indonesia. Korea butuh Indonesia, hanya kadang kita curigaan kepada orang.

Kalau kita diskusi dengan mereka, pahami pemikiran mereka. Mereka diikat UU yang ketat. Kalau  melanggar UU seperti korupsi, ampun, hukumannya berat. Mereka sangat takut. Jadi pahami mereka. Mereka all out. Memang curiga itu boleh karena kita sama-sama punya kepentingan dan kita tidak bisa memaksakan kepentingan kita kepada mereka. Tapi mereka punya teknologinya.

Seperti soal kapal selam, Korea peroleh ilmunya dari Jerman dan tekonologinya dikasih ke kita, Jerman nggak protes. Karena apa, sudah dimodifikasi seluruhnya oleh Korea dan sudah dikuasai karena R&D-nya bagus. Walaupun disebut U-209 tapi tidak diprotes Jerman.

Demikian pula pesawat. Saya tahu 129 teknologi yang mereka punya sudah dikuasai. Hanya dalam pembuatan ini (KFX/IFX) Korea minta support.

Jadi kita ikuti saja, jangan kita belum menguasai sesuatu tapi sudah kemaki (sok-sokan). Saya ingat cerita Angling Dharma, yang bisa jadi orang digdaya karena belajar sama orang. Disuruh angkut rumput pun dia kerjakan asal ilmunya diberikan. Kata orang Jawa, ngawulo. Tapi ini kan tidak, belum apa-apa kita sudah kemaki.

Jadi, bagaimana sebaiknya kita menyikapi kerja sama dengan Korea?

Korea beda dengan China. Kalau China melakukan reverse engineering. Mereka beli lalu bongkar dan berani (bongkar) meski dilarang AS. Lalu di-reverse. Jadi polanya beda dengan Korea.

Soal kapal selam, saya diceritakan sejarahnya. Orang Korea pertama yang mempelajari kapal selam ke Jerman, namanya Admiral An. Di Jerman, semua orang Korea yang belajar dianggap buruh, itu tahun 1980 selama 20 tahun. Semua mulai dari bawah, mereka pelajari dan sekarang mereka kuasai dan bisa bikin sendiri. Orang Korea berbakti kepada negaranya sangat tinggi.

Perusahaan penerbangan mereka mulai 1980, dan sekarang kita beli T-50 dari mereka. Tapi kenapa kita berhenti ketika Pak Nurtanio sudah memulai dulu 1946. Apa yang dilakukan Pak Habibie juga diubah semua dan kita failed sejak krismon. Korea tidak begitu.

Pemerintahnya support penuh. Saya yakin tahun 2030-45, Korea menguasai semua teknologi.

Beberapa waktu lalu saya ikut paparan dari Litbang Kemenhan Korea, yang tidak pernah mereka sampaikan di negara lain. Saya minta kopinya tapi tidak boleh karena sangat rahasia.

Artinya mereka punya ketulusan kerja sama dengan kita. Semua kemampuan mereka sudah riset, semua platform mereka punya. Seperti tank K2 Black Panther buatan Korea, canggih sekali.

Dari presentasi itu saya tahu bahwa semua aspek pertempuran masa depan, akan mereka kuasai. Itu dari Litbang militer Korea yang sarjana S-3 nya kalau tidak salah 2.000 orang.

Saya merasa kerja sama dengan Korea itu tulus, harus kita tangkap. Mereka mau ngasih apapun kepada kita.



Komentar