TEKNOLOGI

Lahir dari Kegagalan Misi, V-22 Osprey Sukses Merebut Hati Pasukan Khusus AS

Jumat, 22 Mei 2020 11:00
Penulis : Remi
Lahir dari Kegagalan Misi, V-22 Osprey Sukses Merebut Hati Pasukan Khusus AS

Sumber: Bell Textron

Angkasa.news - Kegagalan dalam Operasi Eagle Claw pada tahun 1980 yang harus dibayar dengan gugurnya 8 prajurit US Army dan hancurnya helikopter milik US Navy membuat militer AS berpikir akan kebutuhan sebuah platform yang mampu terbang secara vertikal namun memiliki kemampuan setara pesawat angkut.


Dari sinilah perjalanan Panjang V-22 Osprey bermula.

Pada era ’80-an, riset dan pengembangan pesawat dengan baling-baling tiltrotor masih sangat terbatas.

Namun, Bell yang menggandeng Boeing saat itu yakin jika suatu saat kelak, desain tiltrotor yang mereka sedang uji ini akan mampu merevolusi operasi helikopter di dunia.

Lewat program Joint service Vertical Take Off/Landing Experimental (JVX) yang digagas Departemen Pertahanan AS, Bell mengajukan desain yang kelak akan menjadi V-22 Osprey.

Saat itu, Bell menggunakan desain dasar dari pesawat eksperimental XV-15 yang pernah dikembangkan sebelumnya.

Pada 19 Maret 1989, purwarupa V-22 berhasil terbang untuk pertama kalinya. Namun, ternyata jalan untuk operasional Osprey belum selesai.

Setidaknya butuh waktu hampir 18 tahun bagi Bell untuk memperkenalkan helikopter ini ke publik dan masuk ke dalam lini produksi mereka. 

Pentagon yang terpesona dengan performa Osprey akhirnya sepakat untuk memborong 458 unit, dengan pembagian 360 unit untuk Korps Marinir AS, 50 untuk AU AS, dan 48 unit untuk AL AS.

Jangan kaget melihat banyaknya unit yang diberikan untuk Korps Marinir. Sebab, sejak awal Departemen Pertahanan AS memang merencankan Osprey untuk kebutuhan operasi pendaratan pasukan.

Sumber: Bell Textron

Sejak diproduksi secara massal, Bell pun langsung mengebut pengembangan pesawat ini. Hingga hari ini, setidaknya ada 7 varian Osprey yang sudah masuk jajaran operasional.

Varian awal, V-22, merupakan versi paling standar, sedangkan CV-22 merupakan varian khusus yang dikembangkan untuk Komando Operasi Khusus AS (USSOCOM).

Ada juga varian MV-22B yang digunakan oleh Korps Marinir AS. Varian ini memiliki kemampuan untuk beroperasi dari kapal perang. Sedangkan untuk AL AS, dikembangkan varian CMV-22 dengan kapasitas bahan bakar yang lebih besar. 

Selain untuk mengangkut pasukan dan logistik, Bell juga mengembangkan EV-22 yang menjadi pesawat kontrol dan peringatan dini (Airborne Early Warning and Control).

Dua varian terakhir adalah HV-22 untuk misi pencarian dan pertolongan dan SV-22 yang dikembangkan secara khusus menjadi helikopter anti kapal selam.

​​​

Bicara soal kemampuan, V-22 Osprey memang tidak bisa disejajarkan dengan platform apapun. Sebab, hingga saat ini pesawat yang memiliki konsep tiltrotor untuk kebutuhan militer memang hanya Osprey

Desain V-22 sepenuhnya kompatibel dengan dek kapal perang. Sayap dan baling-balingnya dapat dilipat sejajar dengan badan pesawat hanya dalam tempo 90 detik.

Ini merupakan ide pengembangan yang brilian dan satu-satunya di dunia. 

Sumber: Bell Textron

Dengan konsep ini, Osprey dapat beroperasi dari semua kapal serang amfibi kelas LHA dan LHD Angkatan Laut AS. Jika sudah seperti ini, tentu tak sulit bagi Osprey untuk beroperasi di seluruh kapal induk milik AS.

Berbekal dua mesin Rolls Royce T406-AD-400 dengan kekuatan 6.150 tenaga kuda, V-22 Osprey mampu melaju hingga kecepatan 565 km per jam. Jarak tempurnya mencapai 692 km sekali terbang. 

Walau lahir sebagai pesawat angkut pasukan dan logistic, namun Bell tetap membekali Osprey dengan persenjataan untuk pertahanan yang mumpuni. Pesawat ini dipersenjatai dengan senapan mesin M240G 7,62mm yang dipasang di bagian belakang pesawat.

Pada Januari 2008 lalu, BAE Systems mendapat kontrak dari USSOCOM untuk pengembangan dan pemasangan kubah senjata (turret) yang bisa dioperasikan dari jarak jauh.

Sistem persenjataan yang berbasis pada sistem pelindung jarak jauh (RGS) ini menyediakan perlindungan 360 derajat. 

Dengan kemampuan angkut dan status battle proven ini, V-22 Osprey telah menjadi tulang pungggung armada angkut khusus di AS. Di luar AS, saat ini tercatat hanya Jepang yang memesan lima unit Osprey.

Tak heran juga jika banyak negara yang tertarik dengan helikopter ini. Israel misalnya. Pada 2009 lalu telah menyatakan minatnya untuk memboyong Osprey.

India juga tercatat telah mengajukan proposal pembelian pada 2015 lalu untuk kebutuhan angkut, evakuasi, dan SAR. Di tahun yang sama, Korea Selatan dan Uni Emirat Arab juga menyatakan ketertarikannya terhadap helikopter ini.

 

Untuk informasi mengenai spesifikasi dan kemampuan Bell V-22 Osprey bisa dilihat di sini.



Komentar