TEKNOLOGI

L129A1, Gacoan Penembak Jitu Inggris di Afghanistan

Selasa, 31 Maret 2020 15:00
Penulis : Remi
L129A1, Gacoan Penembak Jitu Inggris di Afghanistan

Sumber: Pinterest/Baba Yaga

Angkasa.news - Inggris menjadi salah satu negara yang secara spesifik menyatakan kebutuhan untuk menembak jitu (Markmanship). Penembak jitu (marksman) adalah anggota regu yang diserahi tugas memberikan tembakan akurat sampai jarak 600 meter. Mereka dilatih untuk dapat menembak dengan akurat, tetapi berbeda dengan penembak runduk, marksman tetap beroperasi dalam kendali komandan regu (danru).

Kebutuhan penembak jitu mengemuka karena kebutuhan. Medan perkotaan merupakan area tiga dimensi dengan banyak orang tersembunyi serta medan terbuka dimana jarak kontak dengan lawan membutuhkan senapan yang mampu menjangkau jarak menengah sampai jauh. Ini memvalidasi kebutuhan penembak jitu.

Saat pemerintah Inggris berkomitmen mengirim pasukan ke Afghanistan, Kemhan Inggris awalnya mengira, area Helmand yang menjadi tanggung-jawabnya akan mudah dikendalikan. Ketika korban mulai berjatuhan, Inggris mulai panik karena mereka tidak memiliki senapan yang cukup baik untuk menandingi musuh yang terbiasa menembak pada jarak jauh.

Inggris saat itu menggunakan senapan serbu L85A2. Senapan ini terhitung baru. Setelah satu dekade diperbaiki pabrikan Heckler & Koch, nyatanya L85A2 tak bisa bicara banyak menghadapi musuh yang menembak dari 600 dan bahkan 800 meter menggunakan senapan mesin macam PKM atau DShK.

Dari sini muncul kebutuhan penembak jitu. Tetapi mereka bingung mau menggunakan senapan apa. Yang jelas, mereka tak mungkin menembak dengan senapan kaliber 5,56x45mm karena tidak mampu memberikan efek letal pada musuh di luar jarak 300-500 meter.


Akhirnya pada Desember 2009, Kemhan Inggris merilis UOR (Urgent Operational Requirement) untuk mencari senapan tembak jitu, disebut sharpshooter rifle. Karena dirilis dalam bentuk UOR, Kemhan memiliki wewenang untuk membeli atau memodifikasi senapan produk off the shelf dari berbagai pabrikan yang mau mendaftarkan produknya ke dalam kompetisi.

Persyaratannya adalah panjang yang kompak, nyaman dibawa patroli, dapat digunakan dengan cepat, mudah dioperasikan dan dirawat, serta mengadopsi peluru 7,62x51mm.

Secara spesifik, mereka perlu 149-grain L2A2 dan L42A1 buatan pabrik senjata Inggris Radway Green, ditambah peluru nyala dan hampa.

Seakan kurang, senapan baru ini juga harus sanggup makan amunisi yang dilepas dari sabuk peluru (delinked ammunition) senapan mesin GPMG. Senapan juga harus mampu berulangkali menghantam sasaran berukuran manusia pada jarak 800 meter.

Pabrik kondang FN mengikutsertakan FN SCAR Mk17, sementara HK mengajukan gacoannya HK417. Pabrikan yang lebih kecil seperti Sabre Defence mengajukan XR-10 dan Knights Armament mengajukan SR-25.


Sementara satu perusahaan kecil bernama Law Enforcement International (LEI) justru punya pemikiran unik. Pemiliknya, Greg Felton, malah bertandang ke negeri Uwak Sam dan mengunjungi pabrikan Lewis Machine Tools (LMT). LMT yang didirikan Karl Lewis pada 1980 ini sudah punya nama baik dikalangan penggemar senjata sipil maupun militer.

LMT memiiliki produk unggulan bernama 7,62mm MWS (Modular Weapon System). Tanpa diduga, LMT dipilih sebagai salah satu kandidat di tahap final, berhadapan dengan FN dan Heckler & Koch.

Kemhan Inggris kemudian memesan kembali tiga pucuk senapan untuk pengujian lanjutan, ditambah inspeksi ke fasilitas pembuatan pabrikan. Setelah masa pengujian akhir yang singkat, LEI yang mewakili LMT di Inggris akhirnya ditunjuk sebagai pemenang. Produk buatan LMT kemudian ditahbiskan sebagai senapan L129A1.

Satu catatan khusus, L129A1 versi LMT sebenarnya menggunakan sistem direct gas impingement  bawaan generasi AR-15, sementara pesaingnya Mk17 dan HK417 sudah menggunakan sistem piston. Walaupun butuh perawatan ekstra, sistem direct gas impingement menawarkan akurasi lebih baik karena sentakan tolak baliknya lebih kecil.

Apa yang membuat L129A1 buatan LMT spesial? Dari segi tradisi, ini untuk pertama kalinya AD Inggris mengadopsi senapan yang tidak dibuat di negerinya sendiri, plus dibangun berdasarkan platform AR-15.

Di luar kesatuan khusus, Inggris memang tak pernah memberikan senapan dengan sistem AR-15 ke prajuritnya. Semua komponen dari L129A1 boleh dibilang dibangun secara custom built, hanya dengan komponen-komponen terbaik di pasaran saat itu.

Untuk upper receiver, LMT mengaplikasikan MRP (Monolithic Rail Platform) yang dibuat dari satu blok aluminium 7075 T6 yang kemudian dibentuk menjadi receiver atas, dan memanjang terus sampai ke depan, menyatu dengan rel Picattinny yang menyelubungi laras. LMT sengaja memasang konfigurasi ini untuk memastikan bahwa laras dan sistem gas benar-benar terlindung dan bisa menggantung bebas (free float) sehingga tingkat akurasinya maksimal.

Sementara receiver bawah dimodifikasi secara khusus dan diperkuat. Mulai dari tombol rilis magasin, tuas selector penembakan, dan tombol rilis bolt setelah mengisi ulang magasen.

Berpindah ke laras, L129A1 menggunakan laras stainless steel heavy barrel  sepanjang 16 inci dengan twist 1:11,25 (satu putaran penuh dalam 11,25 inci). Laras ini juga dilapisi krom di dinding larasnya untuk mencegah keausan.

Laras ini dimahkotai peredam suara sekaligus adaptor peredam suara buatan Surefire FH762K.

Satu fitur gacoan LMT adalah kemampuan L129A1 lepas-pasang laras dalam waktu singkat tanpa mempengaruhi akurasi. Penembak jitu di lapangan bisa mengganti laras senapan ke laras yang lebih pendek dan memfungsikan senapan sebagai battle rifle. Penembak jitu juga bisa menggantinya dengan laras lebih panjang untuk tembak runduk.

Sementara di bagian pistol grip, L129A1 menyandang grip buatan ERGO Grip yang berkontur seperti amplas sehingga nyaman digenggam. Sementara popor menggunakan LMT SOPMOD Stock yang bentuknya mengadopsi bentuk popor SOPMOD generasi kedua.

Terakhir, untuk membidik sasaran di kejauhan, senapan L129A1 menggunakan optik Trijicon TA648MGO-308 6x48 dengan pembesaran tetap 6x. Dari kode MGO, alias Machine Gun Optic, TA648 sebenarnya memang didesain untuk senapan mesin sedang.

Retikula fiber optik dilengkapi tritium yang menyala terang, bahkan pada siang hari dan dilengkapi BDC (bullet drop compensation) atau simpangan turun dari proyektil 7,62x51mm NATO pada berbagai jarak.

Sebanyak 440 pucuk L129A1 akhirnya dibeli Inggris dengan anggaran sebesar 1,5 juta pondsterling. Setiap paket pembelian terdiri dari kotak senapan tahan air dan benturan Pelican Case, senapan lengkap dengan optik ACOG 6x48, kit pembersih dan obeng untuk membuka mur yang menahan laras. Paket itu juga termasuk tujuh magasen kapasitas 20 peluru buatan Knights Armament Company.

Sebanyak 350 pucuk dikirim ke Afghanistan pada 2010 dengan sisanya dibagikan ke berbagai pusat latihan. Order ini dikembangkan ke dalam beberapa kali pembelian ulang, sehingga akhirnya populasi L129A1 di AD Inggris sudah nyaris mencapai 3.000 pucuk dan tersebar di berbagai kesatuan, termasuk Korps Marinir Kerajaan Inggris.

Selain AD Inggris, AU Inggris akhirnya kepincut mengadopsi L129A1. L129A1 versi AU diberi nama SSW (Sniper Support Weapon). Perbedaan mendasar adalah digunakannnya optik L17A2, yaitu teleskop Schmid & Bender 3-12x50 Sniper Scope dan peredam suara Surefire yang dijadikan kit standar.

SSW menjadi komplemen penembak runduk dan ditujukan untuk memberikan bantuan tembakan runduk dalam volume lebih besar. Penembak runduk AU menggunakan L129A1 SSW sebagai senapan utama pada saat ditugaskan mengamankan Olimpiade London 2012.

 

SPESIFIKASI L1 29A 1
Pabrik                          : Lewis Machine Tools, AS
Dinas Aktif                   : April 2010
Kaliber                         : 7,62x51mm
Laras                            : 410mm
Jarak efektif                 : 800m
Bobot                           : 4,4kg
Akurasi                        : 1 MOA dengan amunisi standar



Komentar