TEKNOLOGI

Kenalan dengan Emi dan Temi, Robot Pendamping Pasien Covid-19 di RS Pertamina Jaya

Jumat, 17 April 2020 16:38
Penulis : Beny Adrian
Kenalan dengan Emi dan Temi, Robot Pendamping Pasien Covid-19 di RS Pertamina Jaya

Robot Temi sudah dioperasikan di RSPJ Jakarta untuk pasien Covid-19. Sumber: FB Asep Saifudin

Angkasa.news – Sejak merebaknya virus corona dan penyakit Covid-19, dunia terus tiada henti berupaya untuk menghentikan laju penyebarannya. 


Virus ini sangat mudah menular dari satu orang ke orang lainnya, yang bagi tenaga Kesehatan seperti dokter dan perawat tentu sangat merisaukan. Bukannya tidak peduli dengan kesehatan pasien, toh mereka pun harus menjaga diri agar tidak terinfeksi.

Karena itulah, rumah sakit menyiapkan berbagai langkah untuk menjaga agar para tenaga kesehatannya aman dari virus mematikan ini. Di antara yang dilakukan adalah mengaktifkan robot perawat. 

Di Indonesia sendiri langkah ini sudah dilakukan oleh RS Pertamina Jaya (RSPJ) dengan mengoperasikan dua robot perawat pasien Covid-19. 

Kedua robot perawat ini diberi nama Emi dan Temi. 

RSPJ yang berlokasi di Cempaka Putih, Jakarta Pusat itu resmi beroperasi sebagai rumah sakit khusus penanganan Covid-19 pada 14 April 2020. 

RSPJ akan beroperasi sebagai Rumah Sakit Rujukan Rawat Inap Pasien baik pasien dalam kategori PDP maupun pasien terkonfirmasi positif Covid-19 dengan gejala klinis sedang, berat, dan critical.

Menurut informasi yang angkasa.news terima, Emi dan Temi digunakan untuk membantu perawatan pasien dengan gejala Covid-19. Kedua robot ini menjalankan tugas yang berbeda. 

Robot Emi digunakan untuk mengantarkan makanan, obat dan kebutuhan pasien lainnya. Sementara Temi bertugas mengontrol dan sebagai media komunikasi di antara tim medis dengan pasien yang sesuai dengan protokol kesehatan social distancing

Keberadaan robot sebagai asisten pribadi sudah terendus di Indonesia pada akhir tahun lalu. Seperti dikutip beritasatu.com, PT Esky Multimedia Indonesia yang membawa teknologi robot berbasis kecerdasan buatan (AI) ini ke Indonesia. 

Jika merujuk penjelasan pabrikan, robot ini aslinya memang dinamakan Temi. Inovasi ini dibuat oleh peneliti asal Amerika Serikat yaitu Yossi Wolf melalui perusahaan Robotemi. Ia menciptakan robot dengan kemampuan telepresence.

Telepresence adalah sebuah set teknologi yang bisa mewakili keberadaan seseorang di tempat tertentu.

Dengan teknologi ini, Temi bisa dikendalikan pemilik dari jarak jauh dan bergerak serta berjalan sesuai perintah penggunanya.

Cara mengoprasikan Temi cukup mudah. Pengguna hanya perlu mengunduh aplikasi Temi di Playstore ataupun di App Store. Satu robot Temi bisa mengingat sekitar 99 kontak telepon yang secara langsung dapat tersambung dengan sistem telepresence.

Temi dibuat oleh start-up Yossi Wolf yang merupakan ahli robotika Israel.

Robotemi mengatakan bahwa robot ini telah didistribusikan ke ratusan lokasi di seluruh Asia termasuk China, Jepang, Korea Selatan, Hong Kong, dan sekarang Indonesia. 

Awalnya Temi didesain sebagai pendamping lansia dan keluarga supersibuk. Dengan kata lain Temi tidak secara khusus dimaksudkan untuk membantu penanganan pasien Covid-19 meski saat ini Temi digunakan secara luas di Asia.

Sejak virus corona mulai menyebar akhir Desember 2019, Robotemi yang berkantor pusat di New York dengan laboratorium R&D di Tel Aviv (Israel) dan pabrik di Shenzhen (China), memutuskan untuk menambahkan fitur khusus pada robot seperti termometer, kamera termal, dan bahkan wastafel untuk karyawan dapat mencuci tangan.

Emi dan Temi mengadopsi platform Alexa dari Amazon yang terdiri dari tablet 10 inci sebagai pusat kendali. 

Tablet ini membuat Temi memiliki fungsi beragam. Mulai dari memutar musik, video, jadi fotografer hingga mengontrol perangkat pintar di kantor atau rumah.

Untuk membuatnya lincah bergerak, Robotemi melengkapi robotnya dengan Light Detection and Ranging (Lidar). Yaitu teknologi peraba jarak jauh optik yang mengukur properti cahaya yang tersebar untuk menemukan jarak dan atau informasi lain dari target yang jauh. 

Karena berbasis jaringan, kelincahan Temi terpulang kepada kestabilan sinyal internet nirkabel (wi-fi) di lokasi. Jaringan internet dibutuhkan untuk menyalurkan perintah.

Menurut Direktur PT Esky Multimedia Indonesia, Harry L, hanya dibutuhkan kecepatan internet sekitar 10 megabyte per detik namun stabil. 

Semoga kehadiran Emi dan Temi di RSPJ bisa berkontribusi menekan penyebaran virus corona khususnya di lingkungan rumah sakit. Selain membantu pasien, Emi dan Temi tentunya menjadi hiburan tersendiri bagi pasien Covid-19.   



Komentar