TEKNOLOGI

Jika TNI AU Beli F-16 Viper, Saatnya Si Mungil Hawk 109/209 Harus Turun Gelanggang

Kamis, 31 Oktober 2019 17:15
Penulis : Beny Adrian
Jika TNI AU Beli F-16 Viper, Saatnya Si Mungil Hawk 109/209 Harus Turun Gelanggang

Hawk 109/209 di Skadron Udara 1. Sumber: Dispenau

Angkasa.news – Hari-hari ini netizen diramaikan dengan pernyataan KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna tentang rencana pembelian pesawat tempur F-16 Block 72 Viper.

Menurut KSAU, dua skadron Viper yang akan dibeli, rencananya akan didatangkan bertahap pada Renstra 2020 hingga 2024.

“Insya Allah kita akan beli 2 Skadron di Renstra berikutnya 2020 sampai 2024. Kita akan beli tipe terbaru Block 72 Viper,” ujar Marsekal Yuyu di Lanud Roesmin Nurjadin Pekanbaru, Riau, Senin, seperti dikutip Antara (29/10).

KSAU tidak menampik bahwa saat ini pun sedang disiapkan pengadaan Sukhoi Su-35 dari Rusia.

Baik F-16 Viper maupun Su-35, keduanya adalah pesawat tempur canggih dan terhebat di kelasnya. Pengadaan pesawat tempur ini sudah menjadi bagian dari rencana pengembangan kekuatan TNI AU untuk mengganti armada yang sudah menua.

Seperti diketahui, pesawat tempur F-5E/F Tiger II sudah dipensiunkan dari jajaran operasional. Pun saat ini pesawat Hawk 109/209 sudah dalam masa persiapan pensiun sejak didatangkan tahun 1992.

Pesawat Hawk 109/209 adalah pesawat tempur mungil buatan British Aerospace, Inggris yang terbang perdana pada Oktober 1987.

Total 24 Hawk 109/209 diboyong untuk TNI AU, dengan rincian delapan Hawk 109 dan 16 Hawk 209. Pesanan Indonesia ketika itu melengkapi order dari tiga negara ASEAN yaitu Malaysia, Brunei (batal), dan Indonesia.

Malaysia membeli 18 Hawk 100 dan 10 Hawk 200.

Setelah lengkap tiba di tanah air, Hawk 109/209 ditempatkan di Skadron Udara 1 di Pontianak dan Skadron Udara 12 di Pekanbaru.

Jika membuka lembaran sejarahnya, tepatnya 27 Juli 1992, KSAU Marsekal Siboen mengumumkan pembelian dua skadron Hawk 109/209. Pengumuman ini ditindaklanjuti oleh KSAU Marsekal Rilo Pambudi dengan meneken kontrak pembelian Hawk pada 27 Mei 1993.

Dengan jumlah banyak dan baru, total nilai pembelian yang yahud ini mencapai 500 juta poundsterling (Rp 1,8 triliun, kurs saat itu).

Akhirnya pada 17 Mei 1996, tiga Hawk 109 pertama tiba di Pekanbaru mengawali kedatangan delapan Hawk 109 dan 16 Hawk 209. Tak lama kemudian, Hawk 209 pertama tiba di Skadron 12.

Sampai akhirnya setahun kemudian, 14 Mei 1997, ke-24 Hawk ini diserahkan secara resmi oleh Dephan kepada Panglima TNI dan selanjutnya KSAU.

Meski kemampuannya diragukan sejak awal, toh pada gilirannya Hawk 109/209 menjadi tulang punggung TNI AU di sejumlah operasi. Mulai dari saat Darurat Militer di Nanggroe Aceh Darussalam hingga saat lepasnya Timor Timur dari NKRI.

Satu flight Hawk 109/209 disiagakan di Lanud El Tari, Kupang. Dari masa itulah kita ditinggalkan cerita heroik hingga saat ini, yaitu ketika Hawk 209 mencegat pesawat tempur F/A-18 Hornet Australia di sekitar Kupang.

Peristiwa ini terjadi pada 16 September 1999. Perwira TNI AU yang menjadi penerbang saat itu adalah Kapten Pnb Azhar yang menerbangkan Hawk 209 TT-1207 serta Mayor Pnb Henry dan Lettu Pnb Anton Mengko menggunakan Hawk 109 TL-0501 kursi tandem.

Bagi TNI AU, pengadaan Hawk 109/209 saat itu sepertinya menjadi pilihan yang terbaik. Dibanding armada yang digantikannya (A-4 dan F-5), Hawk sejatinya tidak kalah jauh.

Salah satu fighter terkecil ini unggul dalam serangan udara-darat dan pertahanan udara lapis kedua. Bagi Indonesia saat ini, Hawk bisa mengisi pos air superiority yang selama ini dipegang F-16.

Sebagai pesawat latih, Hawk 109 jelas lebih maju dari Hawk Mk-53. Berat maksimum lepas landas meningkat 17 persen, 33 persen untuk bom dan tangki cadangan, 30 persen terbang feri serta aerodinamis. Mesinnya 25 persen lebih kuat dan dilengkapi FLIR (forward looking infra red).

Begitupun Hawk 209, nyaris seimbang dengan F-5 atau A-4 dalam urusan kecepatan dan terbang feri. Namun yang terpenting bagi TNI AU, semua landasan yang bisa didarati C-130 Hercules juga bisa didatangi armada Hawk 109/209. 

Hanya saja pengamat yang skeptis, menilai Hawk belum mampu mengatasi ancaman mutakhir. Hawk juga tidak dalam kemampuan untuk menjadi sarana proyeksi kekuatan.

Namun inilah postur kekuatan TNI warisan Orde Baru, yang berkomitmen untuk tidak menampilkan citra militer yang bisa meresahkan Kawasan. 

Jika akhirnya F-16 Viper benar-benar tiba di tanah air, pastinya Hawk 109/209 akan legowo meninggalkan kursinya untuk diisi oleh pesawat tempur yang lebih berotot.

Namun sebagai wacana, disebutkan bahwa pesawat tempur Hawk 109/209 yang tersisa akan dikumpulkan di satu skadron untuk kemudian diteruskan pengoperasiannya. 



Komentar