TEKNOLOGI

Gripen E, Penempur Tercanggih SAAB Swedia yang Siap Jaga Nusantara

Selasa, 14 Mei 2019 00:00
Penulis : Beny Adrian
Gripen E, Penempur Tercanggih SAAB Swedia yang Siap Jaga Nusantara

Pesawat tempur JAS-39 Gripen. Sumber : Saab

Angkasa.news - Pengadaan pesawat tempur TNI AU masih belum akan berhenti dengan diputuskannya pesawat Sukhoi Su-35 Flanker-E sebagai pengganti F-5E/F Tiger II yang sudah dipensiunkan. Pesawat tempur lainnya yang saat ini eksis di TNI AU, yaitu Hawk Mk-109/209 juga akan segera memasuki masa purna bakti.

Lalu apa penggantinya? 

Pilihan tersedia banyak saat ini, tergantung kesiapan anggaran dan tentunya yang turut berpengaruh arah kebijakan politik negara. 

Di antara yang layak diintip adalah pesawat tempur terbaru SAAB Swedia, JAS-39E Gripen atau lebih dikenal dengan Gripen E. Pesawat ini sukses melaksanakan terbang perdana pada Minggu (15/6/2017).

JAS-39 Gripen E (designation 39-8) lepas landas dari lapangan terbang di Linköping, Swedia milik SAAB. Pesawat terbang di atas Östergötaland sekitar 40 menit sebelum mendarat. Selama penerbangan, sejumlah sistem diuji termasuk roda pendarat.

Banyak yang menyangka kalau penempur ini adalah penyempurnaan dan peningkatan (upgrade) dari varian lawasnya, JAS-39C Gripen (Gripen C).

Nyatanya, Gripen E adalah pesawat yang benar-benar baru. Meskipun basis desain (tata letak dan profil aerodinamik), Gripen E masih berpijak pada desain Gripen generasi sebelumnya, namun secara struktural kedua generasi ini sudah berbeda cukup signifikan.

Perbedaan itu diakibatkan tuntutan daya muat senjata dan bahan bakar yang lebih besar daripada Gripen C.

Salah satu perubahan besar ada pada struktur penyangga titik berat pesawat. Perubahan ini untuk mengakomodasi posisi roda pendarat utama yang digeser ke arah luar (jarak antara roda kiri dan kanan diperlebar). Fairing tambahan di bawah pangkal sayap Gripen E adalah untuk menampung struktur roda pendarat utama ini.

Efeknya, Gripen E bisa dipasangi dua titik gantung muatan (hardpoints) di bawah perutnya, satu fitur tambahan mengingat varian Gripen lawas hanya punya satu hardpoint di area ini. Struktur airframe Gripen E diperkokoh untuk mengantisipasi naiknya MTOW menjadi 16.500 kg (Gripen lama hanya 14.000 kg).

Peningkatan ruang dalam (internal space) otomatis berefek pada penambahan kapasitas tangki bahan bakar internal yang berujung pada terdongkraknya jangkauan terbang Gripen, satu aspek yang dianggap titik lemah Gripen selama ini.

Meski untuk urusan pengisian bahan bakar di udara, Gripen E seperti halnya Gripen C sudah dilengkapi fasilitas air-to-air refueling dengan sisitem probe-drogue.

Untuk menghela Gripen E yang MTOW-nya meningkat, dicomot mesin lebih besar yang masih satu keluarga dengan mesin Gripen lawas. Dapur pacu Gripen E mengandalkan General Electric F414-GE-400 buatan AS, mesin yang juga mentenagai F/A-18E/F Super Hornet dan EA-18G Growler.

Mesin F414G merupakan penyesuaian khusus untuk pemakaian single-engine fighter.

Menyadari target pemasaran Gripen E adalah negara-negara yang terbiasa dengan sistem berstandar NATO, maka Gripen E dibekali wiring yang kompatibel dengan MIL-STD1760-Class2. Hal ini memberikan jaminan bahwa semua senjata standar NATO dapat ditenteng.

Lebih jauh, pabrikan SAAB berpromosi akan memberi bantuan teknis untuk mengintegrasikan senjata non-NATO asalkan memiliki interkoneksi serupa. Meski masih dipasangi sistem pertukaran data (data-link) buatan Swedia yaitu TIDLS (Tactical Information Datalink System), namun Gripen E juga kompatibel dengan Link-16 MIDS yang merupakan standar NATO.

Untuk mengendus mangsa, Gripen E dibekali sistem sensor yang digadang tercanggih di kelasnya, berintikan radar berteknologi AESA (active electronically-scanned array) yaitu ES-05 Ravenbuatan Selex ES.

Selain radar berteknologi terkini, Gripen E juga dibekali sensor pasif berupa IRST Skyward-G yang merupakan lansiran Selex. Sensor IRST ini sebelumnya tak ada pada Gripen generasi lama.

Pabrikan juga menawarkan perangkat HMCS (helmet-mounted cueing systemCobra buatan BAE Systems yang dijamin langsung terintegrasi dengan kokpit dan manajemen tempur Gripen E.

Untuk pertahanan diri dari incaran rudal lawan, Gripen E dibekali sistem peperangan elektronik terintegrasi (highly-integrated electronic warfare suite) yang terdiri dari integrasi RWR (radar warning receiver), MAWS (missile approach warning system), ECM dan ESM yang secara otomatis terhubung dengan dispenser chaffdan flare.

Pelepasan logam dan suar pengecoh ini dapat disetel, mau otomatis atau manual (diatur pilot).

Seperti halnya generasi Gripen lama yang juga dibuatkan varian kursi gandanya, maka Gripen E pun sudah dipetakan pembuatan varian kursi gandanya yaitu Gripen F.

Bedanya, pembuatannya tidak terlalu diprioritaskan lantaran berdasarkan simulasi pabrikan, penerbang Gripen E masih layak dilatih atau menjalani proses konversi dengan Gripen D. Hal ini disebabkan profil aerodinamik Gripen E/F tak beda jauh dengan Gripen C/D.

Karena basis desainnya mirip, varian Gripen F (seperti Gripen D) juga tak memiliki ruang untuk kanon internal.



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.