TEKNOLOGI

Apakah Kita Bisa Melihat Virus Corona, Ini Penjelasan Professor Josaphat 

Selasa, 31 Maret 2020 18:48
Penulis : Beny Adrian
Apakah Kita Bisa Melihat Virus Corona, Ini Penjelasan Professor Josaphat 

Ilustrasi futre soldier. Sumber: gamespot.com

Angkasa.news – Hari-hari ini seluruh umat manusia tengah berjuang melawan musuh bersama, virus corona. Nyaris sudah tidak ada satu negarapun yang bebas dari serangan virus mematikan ini. 


Meski ada rasa takut dan putus asa, toh umat manusia yang dianugerahi Tuhan akal pikiran, tidak mundur menghadapi wabah ini. 

Sepanjang sejarah umat manusia, bencana dan wabah penyakit telah menjadi sisi lain dari sejarah itu sendiri. 

Berbagai upaya saat ini tengah dilakukan oleh para ahli dan ilmuwan, sebuah kelompok yang saat ini menjadi satu-satunya komunitas untuk menyelamatkan umat manusia. 

Baik di lapis belakang para dokter dan perawat, juga mereka yang setiap hari berkutat di laboratorium sebagai ahli virus dan mikrobiologi.

Dunia menunggu penuh harap untuk segera ditemukannya vaksin yang bisa melindungi tubuh manusia dari virus corona. 

Penyakit yang muncul dari beredarnya virus corona ini disebut Covid-19. SARS-CoV-2 adalah salah satu dari tujuh jenis virus corona yang sudah dikelompokkan oleh CDC (Centre for Disease and Control).

Manusia ditantang untuk melahirkan imajinasi dan ide kreatif untuk melawan virus ini. 

Di antaranya sebuah ide yang terinspirasi dari penggunaan handheld instrument atau tactical gears layaknya NVG (night vision goggle) oleh prajurit militer di medan operasi. NVG digunakan untuk melihat objek di kegelapan. 

Teknologi ini menangkap bagian tertinggi dari spektrum cahaya infrared yang dipancarkan objek yang digambarkan sebagai cahaya. Objek yang lebih panas seperti tubuh manusia, memancarkan lebih banyak cahaya dibanding objek lebih dingin seperti pohon atau bangunan.

Sementara di dunia medis dan virologi, alat pandang yang digunakan untuk melihat mahkluk kecil ini dinamakan mikroskop.

Ketika angkasa.news menanyakan hal ini kepada Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo, apakah mungkin mikroskop dimodifikasi menjadi handheld instrument untuk memburu virus, ahli kedirgantaraan ini spontan menjawab, “Bisa.”

Prof. Josaphat merupakan full professor (permanent staff) di Center for Environmental Remote Sensing di Universitas Chiba, Jepang. Josaphat adalah pemegang paten antena mikrostrip yang digunakan untuk berkomunikasi langsung dengan satelit.

“Bisa dideteksi menggunakan scanning electron microscope (SEM). Hanya saja mikroskop ini cukup besar, jadi belum bisa sebagai handheld instrument. Kalau di mobile dengan kendaraan, saya kira bisa,” ungkap Josaphat yakin. 

Virus yang sangat kecil berukuran sekitar 20-400 nanometer. Satu mikrometer sama dengan 1.000 nanometer. Ukuran diameter ini ditemukan oleh dua peneliti asal AS yaitu Anthony R. Fehr dan Stanley Perlman.

Karena ukurannya yang sangat kecil, virus hanya bisa dilihat menggunakan mikroskop elektron. Beda dengan bakteri yang lebih besar, cukup menggunakan mikroskop cahaya.

Seperti sudah menjadi pengetahuan umum saat ini, virus adalah organisme parasit yang membutuhkan inang untuk hidup. Virus harus menemukan inang untuk bereproduksi, termasuk melalui sel tubuh manusia.

Tanpa menumpang ke tubuh inangnya, virus tidak bisa mereplikasi diri. Jika tidak menemukan inangnya, virus tidak bisa hidup dalam waktu lama.

Menjawab pertanyaan Angkasa, Josaphat mengatakan bahwa SEM saat ini tersedia dalam beberapa variasi desktop yang digunakan di dunia pendidikan dengan pembesaran 20.000x sampai 100.000x.

“Untuk keperluan riset, skala pembesarannya bisa 1.000.000x,” ujar Josaphat. 

Dijelaskan putra Kopasgat ini, SEM digunakan secara mobile adalah dengan cara memasangnya di dalam kendaraan. Model yang dipakai menurutnya adalah yang digunakan saat ini di lingkungan pendidikan yang ukurannya sebesar komputer desktop. 

Masih menurut Josaphat, scanning electron microscope tidak menggunakan lensa seperti optical microscope biasa. Namun menggunakan teknik pengaturan voltase percepatan (acceleration voltage) untuk mengatur kekuatan pancaran elektron yang kemudian diterima oleh electron detector

“Ukuran perlengkapan untuk melihat sampel hanya sebesar komputer desktop saja,” urainya.

“Perlengkapan untuk versi pendidikan yang dapat melihat hingga 100.000x, saya kira dapat mobile sebagai tactical gear dan cukup bisa melihat virus,” katanya.

Hanya saja jika ingin hasil lebih maksimal, memang diperlukan mikroskop yang lebih kuat. 

“Bila ingin lebih detail harus pakai SEM keperluan riset yang besar dan membutuhkan power besar, biasanya diinstall tetap di suatu ruangan,” jelas Josaphat.

Saat ini, perkembangan teknologi kemikroskopan memang masih rumit untuk menjawab ide ini. 

Pasalnya harus ada bagian untuk pemancar elektron yang membutuhkan power tinggi. Pancaran elektron inilah yang diarahkan ke sampel virus, dan hamburan dari sampel itu yang akan dideteksi oleh SEM.

Sementara itu, pembuatan sampel sendiri tak kalah rumitnya, karena harus dilapisi (coating) dengan emas agar pancarannya menjadi kuat.

Dengan demikian ketersediaan teknologi SEM saat ini memang belum bisa langsung digunakan di lapangan, meski peluang dan tantangan dari sisi teknologi sangat terbuka.

Tentu tidak ada kata tidak bisa sejauh masih soal teknologi. Lihat saja komputer. Sejak generasi pertama ditemukan yang seukuran lemari, sekarang tak lebih dari sebesar tas kecil. 

Pada saatnya nanti akan ada pasukan-pasukan pemburu virus bersenjatakan disinfektan dengan minikroskop (mikroskop mini) menyerupai NVG, mendatangi dan membunuh dimanapun virus berada.

“Suatu saat pasti bisa kalau sanggup membuat module untuk pemancar dan penerima menjadi lebih kompak,” kata Josaphat optimis.



Komentar