SEJARAH

Tragedi Jatuhnya Pesawat A-4 Skyhawk TT-0446 TNI AU, Marsda (Pur) F. Djoko Poerwoko: Temanku Gugur!

Jumat, 24 Mei 2019 07:00
Penulis : Beny Adrian
Tragedi Jatuhnya Pesawat A-4 Skyhawk TT-0446 TNI AU, Marsda (Pur) F. Djoko Poerwoko: Temanku Gugur!

Kapten Pnb Dwi Harmono jongkok di luar kokpit A-4 Skyhawk, sementara rekannya Kapten Pnb Djoko Suyanto (terakhir Panglima TNI) di dalam kokpit. Sumber: Majalah Angkasa/ Kol. Pnb Koestinarto

Angkasa.news - Suatu hari, Marsda (Pur) F. Djoko Poerwoko (almarhum) pernah bercerita kepada angkasa.news soal kecelakaan yang menimpa sahabatnya di Skadron Udara 11 Lanud Iswahyudi, Madiun.

Rekan perwiranya Kapten Pnb Dwi “Seagul” Harmono dengan callsign Thunder-39, gugur setelah pesawat tempur A-4 Skyhawk TT-0446 yang diterbangkannya jatuh di Gunung Bira, Banjarmasin.

Seperti diceritakan Marsda Djoko Poerwoko, pagi itu 22 Februari 1983, berita gugurnya Kapten Pnb Dwi Harmono di Banjarmasin diterima di home base lewat jalur TNI AU 9035 HF.

“Dari radio ini pula kita yang berada di Skadron Udara 11 tahu bahwa Seagul gugur saat Latihan Maleo Jaya I/83 di Banjarmasin. Pesawat jatuh tepat di skip target di hadapan ratusan tamu dan penonton,” kenang Djoko.

Kala itu cuaca memang kurang bagus selain kabut tebal. Pelaksanaan rocketing dan strafing dilakukan pagi hari sebagai bagian dari simulasi serangan fajar.

Dalam investigasi terungkap bahwa TT-0446 terbang terlalu rendah saat melakukan first run attack, sehingga pilot tidak sempat recovery dan jatuh tepat di target dan meledak.

Metode serangan pendadakan ini masuk dalam taktik hit and run, salah satu manuver andalan A-4.  Dalam taktik ini pilot harus melakukan penembakan pendadakan tanpa final yang cukup, dengan kecepatan 420 knot, sudut serang 15 derajat serta jarak tembak antara 1.200 - 600 meter.

Dalam situasi seperti itu, pilot hanya mempunyai waktu 6 detik untuk aim and recovery.

Pesawat TT-0406 (BuNos-157430) masuk jajaran TNI AU pada 31 Agustus 1982 sebagai gelombang terakir dari pengadaan 33 pesawat A-4 Skyhawk.

Pesawat ini baru dioperasikan lima bulan di Skadron Udara 11 dengan akumulasi 88 jam terbang. Terbilang pesawat yang jarang trouble.

Kapten Pnb Dwi Harmono sebagai perwakilan penyematan tanda peserta latihan operasi bersama TNI AU dan TNI AD. Sumber: Majalah Angkasa

Kapten Pnb Dwi Harmono sebagai perwakilan penyematan tanda peserta latihan operasi bersama TNI AU dan TNI AD. Sumber: Majalah Angkasa

 

“Temanku Dwi Harmono satu angkatan, satu tim saat ke Israel, tetangga sebelah rumah yang harus gugur. Pemegang  tropi Sekbang ABRI-21/76 ini meninggalkan seorang putri (2 tahun) dan istri yang mengandung lima bulan, berat saat sang istri pesan kepada saya untuk membawa jenasahnya pulang,” urai Djoko.

“Aku tahu, jasad Dwi telah hancur berkeping tapi bukan semangatnya. Sore hari saya dengan satu pilot A-4 dikirim ke Banjarmasin menumpang Boeing AI-7301 untuk membawa A-4 kembali ke home base karena semua pilot A-4 yang terlibat latihan Maleo Jaya dinyatakan grounded," kata Djoko.

Pesawat Boeing B737-200 Surveillance registrasi AI-7301 TNI AU dengan penerbang Mayor Pnb I Gede Sudana, mendarat di Lanud Syamsudin Noor pada pukul 13.00. Dengan pesawat inilah Kapten Pnb F. Djoko Poerwoko dan Lettu Pnb Hary Mulyono tiba di Banjarmasin.

Tak lama kemudian dengan membawa peti jenazah Kapten Pnb Dwie Harmono, pesawat sudah lepas landas untuk kembali ke Lanud Iswahyudi, Madiun.

Besok harinya, Kapten Poerwoko dan Lettu Mulyono membawa menerbangkan pesawat A-4 Skyhawk ke Ujung Pandang untuk selanjutnya meneruskan standby hingga satu minggu kemudian.

Dalam Latihan Maleo Jaya I/83 bersama TNI AD di Banjarmasin, TNI AU mengerahkan tiga pesawat Skyhawk. Ketiga pesawat tiba di Banjarmasin dari Ujung Pandang pada Senin, 21 Februari 1983. Bersama ketiga Skyhawk turut tiba sebuah C-130 Hercules yang membawa tim pendukung.

Penerbang A-4 Skyhawk yang terlibat dalam latihan ini adalah Kapten Pnb Dwie Harmono sebagai Flight Leader dengan wingman Mayor Pnb S. Sihotang dan Letda Pnb FHB. Bambang Soelistyo.



Komentar