SEJARAH

TNI AU 74 Tahun: Tidak Puas dengan Interiornya, Bung Karno Minta Rombak Kabin Il-14 Dolok Martimbang ke Rusia

Minggu, 29 Maret 2020 15:40
Penulis : Beny Adrian
TNI AU 74 Tahun: Tidak Puas dengan Interiornya, Bung Karno Minta Rombak Kabin Il-14 Dolok Martimbang ke Rusia

Presiden Soekarno diapit Sri Mulyono Herlambang dan istri. Sumber: Otobiografi Sri Mulyono Herlambang

Angkasa.news - Sebentar lagi, TNI AU akan merayakan hari jadinya yang ke-74. Tepatnya 9 April 1946, Pemerintah Republik Indonesia yang masih jabang bayi, membentuk angkatan perang udara yang dinamakan AURI (Angkatan Udara Republk Indonesia). Mendahului USAF yang baru dibentuk setahun kemudian. 


Banyak kenangan indah dan membanggakan dalam sejarah TNI AU sejak masa Perang Kemerdekaan hingga hari ini. Di antaranya kisah pesawat Ilyushin Il-14 Crate, sebuah hadiah untuk Presiden Soekarno sebagai lambang persahabatan.

Ceritanya bermula ketika Marsekal Kliment Yefremovich Voroshilov dari Uni Soviet berkunjung ke Indonesia tahun 1955. Saat berkunjung, Ketua Presidium Majelis Agung Uni Soviet itu menghibahkan sebuah pesawat Ilyushin Il-14 kepada Presiden Soekarno sebagai tanda persahabatan. 

Selanjutnya oleh Bung Karno, pesawat Il-14 itu diserahkan pengoperasiannya kepada AURI pada Januari 1957. Presiden Soekarno juga memberikan nama “Dolok Martimbang” kepada pesawat hibah ini.

Mengutip dari Wikipedia, Dolok Martimbang diambil dari kata Dolok yang berarti bukit atau gunung dalam Bahasa Batak Toba. Sedangkan Martimbang berarti seimbang.

Dolok Martimbang merupakan salah satu gunung berapi non-aktif yang memiliki ketinggian 1.680 meter di atas permukaan laut dan berada di daerah Tarutung, Sumatera Utara. 

Untuk menerbangkan Il-14 Dolok Martimbang, AURI lantas memilih penerbang-penerbangnya yang dinilai cocok untuk pesawat tersebut. 

Dari hasil seleksi, terpilihlah tiga orang yakni Kapten Pnb Sri Mulyono Herlambang, Kapten Pnb Susanto, dan Kapten Pnb Slamet Tjokroadiredjo. 

“Kami langsung diperintahkan untuk mengikuti latihan bersama beberapa set crew. Di antaranya latihan terbang jarak jauh seperti Medan, Bali hingga Makasar,” jelas Marsda (Pur) Sri Mulyono Herlambang di dalam bukunya “Otobiografi Sri Mulyono Herlambang Pengabdianku Hanya Untukmu, Negara dan Bangsaku (2001).

“Untuk menambah jam terbang, beberapa kali kami menerbangkan Bung Karno dengan Dolok Martimbang ke segala penjuru. Bukan hanya di kota-kota besar tapi sampai ke kota kecil di Pulau Sumba, Maumere, Tual, Irian, Amahai, dan Ambon,” tulis penerbang bomber B-25 Mitchell ini.

Sebagai orang yang menyukai hal-hal bersifat seni, Bung Karno rupanya punya cita rasa tersendiri atas pesawat buatan Rusia itu. Ia meminta agar lay out pesawat diganti.

Menanggapi permintaan presiden, Sri Mulyono dan Kapten Susanto ditugaskan menerbangkan Dolok Martimbang ke Tashkent di Rusia pada Agustus 1957. 

Tujuannya bukan hanya merombak susunan tempat duduk semata, tapi juga untuk memperkuat struktur pesawat.

Selama menunggu perbaikan yang memakan waktu kurang lebih satu bulan, mereka sempat jalan-jalan ke Moskow bertemu delegasi Indonesia yang kebetulan sedang berkunjung ke kota itu. 

Mereka juga saling bertukar informasi dengan pemuda-pemuda Indonesia yang saat itu belajar di Eropa Timur. “Begitu perbaikan selesai, kami segera kembali ke Indonesia,” ungkap Sri Mulyono.

Sejak itu, Sri Mulyono Herlambang yang merupakan alumni sekolah penerbangan Taloa di Kalifornia itu selalu mendampingi Bung Karno yang sering terbang ke berbagai daerah dengan Dolok Martimbang

Terkadang sendiri, kali berikutnya bersama Kliment Voroshilov.

Karena sudah menjadi pilot pribadi presiden, tidak heran hubungan Sri Mulyono dengan Soekarno dari waktu ke waktu semakin dekat. 

“Saya terkesan dengan sikap beliau yang selalu memperhatikan kru pesawat. Di sini saya melihat, sebagai pemimpin, beliau tidak membuat jarak,” ungkap Sri Mulyono Herlambang.

Marsda (Pur) Sri Mulyono Herlambang tercatat sebagai Menteri/ Panglima Angkatan Udara RI ketiga yang menjabat dari 27 November 1965 hingga 31 Maret 1966.



Komentar