SEJARAH

TNI AU 74 Tahun: Jupiter Blue, Stand By

Senin, 06 April 2020 19:21
Penulis : Beny Adrian
TNI AU 74 Tahun: Jupiter Blue, Stand By

Tim aerobatik Jupiter Blue gabungan tiga jenis pesawat. Sumber: dok. Angkasa

Angkasa.news - Tulisan ini sejenak mengajak kita mengenang hari-hari di setiap awal bulan April, selalu dihebohkan dengan gelegar mesin jet pesawat tempur TNI AU. 


Menjelang hari H, yaitu 9 April yang menjadi hari lahirnya TNI AU dan tahun ini genap 74 tahun, warga ibukota Jakarta khususnya sudah dihibur dengan masa latihan ini. 
Pesawat tempur berputar-putar di langit Jakarta. Begitu indah dan membanggakan. 

Namun tahun ini sepertinya "hiburan rakyat" ini akan absen karena wabah virus corona. Tulisan berikut diambil dari buku Pulchrum Pro Patria Servio (2006) yang ditulis Marsda (Pur) F. Djoko Poerwoko.    

Stand by, speed four-two-five, pull, one-two-three, top speed go, release, wing level

Suara Letkol (Pnb) Fahru Zaini Isnanto terdengar jernih, meski ia menyampaikan dari dalam kokpit pesawat tempur Hawk Mk-53 yang tengah terbang pada ketinggian 1.500 kaki dengan kecepatan 350 knots.

Beberapa detik kemudian, terdengar lagi suara Komandan Skadron Udara 15 Lanud Iswahjudi, Madiun, Jawa Timur itu. Stand by, speed four-two-five, speed four- two-five.

Ia tengah memberikan instruksi kepada lima rekannya yang tergabung dalam tim aerobatik TNI AU Jupiter Blue yang pagi itu unjuk kebolehan di Lanud Halim PerdanaKusuma, Jakarta guna memeriahkan HUT TNI ke-56, 5 Oktober 2001.

Sebagai leader, Letkol Fahru Zaini berkewajiban memberikan instruksi selama 17 menit aerobatik. Instruksi tadi tak pernah putus. 

Akan tetapi, seperti dituturkan manajer tim Marsma TNI F Djoko Poerwoko, hanya beberapa potong instruksi yang bisa didengar di darat, setelah radio komunikasi Letkol Fahru Zaini disambungkan ke radio di darat dan dipancarkan ke pengeras suara di sudut-sudut lapangan upacara. 

Di sela-sela memberi instruksi, Fahru sempat pula menyapa Presiden Megawati Soekarno putri yang berdiri di mimbar kehormatan.

“Saya Letkol Fahru, dari kokpit pesawat Hawk Mk-53 menyampaikan salam hormat kepada Ibu Presiden, Panglima TNI, dan kepada para kepala Staf Angkatan.”

Seusai mengucap demikian, terdengar lagi, stand by, speed four-two-five speed four-two-five.

Instruksi ini artinya penerbang segera menambah kecepatan pesawat hingga 425 knot, sehubungan manuver arrow head loop segera dilaksanakan. 

Ribuan pasang mata terdiam sejenak, sebelum akhirnya ramai-ramai memberi applause. Baru kali ini suara pilot yang terbang dalam kecepatan tinggi terdengar pula di darat secara bersamaan.

Penampilan Jupiter Blue pagi itu cukup memesona, apalagi cuaca di atas Lanud Halim Perdanakusuma sangat cerah, tidak berawan sedikit pun.

”Cuaca sangat mendukung, sehingga semua manuver bisa dilakukan tepat waktu. Tak ada manuver yang dibatalkan” tutur Djoko Poerwoko.

Meski demikian sesuai standar operasi, Jupiter Blue tetap menyiagakan alternatif tampilan di luar skenario pertama. Seandai skenario pertama batal, tampil skenario kedua, ketiga atau keempat. 

Tetapi, selama tim aerobatik TNI AU unjuk kebolehan, jarang hingga memaksa tampilan skenario ketiga apalagi keempat. 

Paling-paling hanya mandek di skenario kedua, itu pun akibat cuaca bukan faktor teknis.

Kekhawatiran Jakarta mendung lagi dan pemandangan menjadi haze (kabur), membuat Letkol Fahru Zaini mengalami meriang sehari menjelang tampil di depan presiden. Ini sangat manusiawi. Jika seseorang dihadapkan pada suatu peristiwa yang terkait dengan tanggung jawab moral, berbagai rasa khawatir tentu berkecamuk dalam hati. 

Perasaan itu juga dialami Fahru Zaini. Untuk mengurangi ketegangan, ia pada Kamis (4 Oktober) diajak main golf di Lippo Cikarang bersama perwira lain. Pukulannya berkali-kali melenceng, jauh dari lubang sasaran.

“Saya sarankan istirahat dan berobat ke dokter agar esok harinya bisa tampil prima,” ungkap Djoko Poerwoko. 

Seperti disaksikan langsung maupun lewat layar kaca, penampilan Letkol Fahru Zaini dan kawan-kawan tidak mengecewakan. Ini adalah tampilan kedua tim aerobatik Jupiter Blue.

Tampilan pertama terjadi pada April 2001 dalam memeriahkan HUT TNI AU ke-55. 

Jika saat itu tampil dengan delapan pesawat, kali ini melibatkan enam pesawat terdiri tiga pesawat Hawk Mk-53 dan dua pesawat F-16 Fighting Falcon masing-masing dari Skadron 15 dan Skadron 3 Lanud Iswahjudi, serta satu pesawat Hawk 200 dari Skadron 1 Lanud Supadio, Pontianak. 

British Aerospace (Hawk) dan Lockheed Martin (F-16) sebenarnya tidak memasukkan matrik perhitungan aerodinamik terhadap kedua pesawat untuk bermanuver bersama.

“Ternyata penerbangan TNI AU dapat menggabungkan keduanya bahkan tiga pesawat berbeda perfoma dalam sebuah tim aerobatik,” jelas Djoko Poerwoko. 

Jupiter Blue menjadi tim aerobatik pertama di dunia yang mengoperasikan tiga jenis jet tempur dengan karakteristik dan performa berbeda dalam sebuah tim. 

The Black Knights dari Angkatan Udara Singapura menyuguhkan atraksi udara dengan gabungan F-16 dan A-4 Skyhawk. Tim aerobatik kondang AS, Thunderbirds maupun Blue Angels masing-masing mengoperasikan F-16 dan F/A-18 Hornet

The Red Arrows, si Panah Merah Inggris, hanya menggunakan pesawat Hawk. The Russian Knight hanya menggunakan jet tempur Sukhoi Su-27 Flanker

Perbedaan karakteristik, kemampuan handling serta manoeuvre envelope yang menjadi faktor kesulitan tinggi itulah justru dijadikan daya tarik Jupiter Blue dalam menyuguhkan 20 atraksi udara spektakuler.

Di antaranya manuver Heart, Cross Over Break yang mendebarkan, Figure 8 dan Double Screw Roll yang mengundang decak kagum. 

Sebelumnya jet tempur F-16 menampilkan manuver Inverted, Inverted-to-inverted, Four Point Roll, Aileron Roll, Hi “G” Turn, Hi AOA and Snake Pass, Cross Over Break serta Knife Edge.

Sedang tiga Hawk Mk-53 bermesin Rolls-Royce Adour Mk 851 berdaya dorong 2.359 kg dan sebuah Hawk 200, dengan lincah membuat manuver Box Loop, Box Barrel, Arrow Head Loop, Double Screw Roll, Tango Loop dan Roll Back

Manuver solo Hi “G” Turn pesawat F-16 memiliki risiko paling besar karena berkecepatan tinggi dengan radius belok paling kecil. 

Namun demikian Mayor Pnb Fachri Adamy mampu melaksanakan dengan sempurna. 

Saat gladi bersih 3 Oktober di Lanud Halim PerdanaKusuma, ia sempat diingatkan KSAU Marsekal TNI Hanafie Asnan untuk lebih berhati-hati mengingat manuver maksimal F-16.

“Saya berterima kasih kepada KSAU karena telah memperhatikan dengan teliti para penerbang dalam Jupiter Blue, terutama manuver F-16 Hi G Turn,” tutur Fachry Adamy.

Gagasan menampilkan Jupiter Blue datang dari KSAU Marsekal Hanafie Asnan. 

KSAU memberi instruksi agar Lanud Iswahjudi memperagakan aerobatik seperti pada ulang tahun TNI AU ke-55 yang berlangsung sukses. 

Tiga penerbang pesawat Hawk Mk-53 dipilih. Berturut-turut Letkol (Pnb) Fahru Zaini Isnanto (Komandan Skadron 15), Mayor (Pnb) Donny Ermawan, dan Kapten Pnb Andis Solihin. 

Dari penerbang F-16 dipilih Mayor (Pnb) Fachri Adamy dan Kapten (Pnb) MJ Hanafie, serta Letkol (Pnb) Yadi Indrayadi menerbangkan pesawat Hawk 200.

Komandan Wing 3 Kolonel (Pnb) Rodi Suprasodjo bertindak selaku F1 Director. Kepala Dinas Operasi Lanud Iswahjudi Kolonel (Pnb) Madar Sahib sebagai F1 Safety. 

Dalam persiapan latihan Jupiter Blue terdapat cerita menarik.

Saat itu Kapten (Pnb) Andis Solihin tengah mengikuti pendidikan Sekolah Komando Kesatuan TNI AU (Sekkau). Karena itu Kapten Andis yang pernah bergabung dalam Jupiter Blue I, hanya memanfaatkan waktu latihan saat weekend, kemudian hari Senin kembali ke kelas untuk menerima pelajaran. Sekkau berlangsung di Jakarta.

Secara kedinasan, Komandan Lanud Iswahjudi perlu mengirim surat ke Komandan Sekkau agar mengizinkan penerbang kelahiran Jombang, Jawa Timur ini mengikuti latihan intensif di Madiun sehubungan pelaksanaan semakin mepet. 

Di antara ber-weekend ria, Andis pernah harus berganti naik bus empat kali untuk menempuh perjalanan Jakarta-Madiun. Terpaksa dilakukannya karena kehabisan tiket kereta api. 

Tanpa membuang waktu, Andis naik bus tujuan Cirebon kemudian disambung Cirebon-Semarang, Semarang-Solo, dan Solo-Maospati/Madiun. 

Tiba di Lanud Iswahjudi sekitar pukul 12.00, satu jam kemudian ia sudah mengambil ancang-ancang take off menggunakan pesawat Hawk Mk-53 bergabung dengan rekan di Jupiter Blue.

Secara keseluruhan Jupiter Blue hanya berlatih selama tiga minggu. 

Pada 28 September, tim pamit kepada masyarakat Madiun dan sekitarnya lewat acara open day di Lanud Iswahjudi yang juga dihadiri Panglima Koopsau II Marsda Djoko Suyanto.

Keesokan harinya melakukan terbang feri Madiun-Jakarta. Tanggal 1, 2, 3 Oktober latihan di Jakarta, 4 Oktober istirahat dan tampil pada 5 Oktober 2001. Pada 6 Oktober mereka kembali ke home base di Lanud Iswahjudi, Madiun.

Indahnya tampilan Jupiter Blue juga disebabkan asap yang dikeluarkan pesawat. Dalam latihan sebelumnya, tim Armament Skadron 3 dipimpin Lettu Tek Amin merasa pusing karena asap yang keluar dari perut pesawat kurang tebal. 

Hal ini disebabkan smoke drum yang dipasang tim Dinas Penelitian dan Pengembangan TNI AU kemampuannya menurun setelah dipakai terus-menerus. Sehingga asap terlihat tipis.

Menghadapi kenyataan ini, tim Armament dengan berbagai cara  berusaha menghasilkan asap tebal. Tim Armament kemudian mengadakan modifikasi, yakni mencampur oli dan solar dengan perbandingan 1:1. 

Ternyata hasilnya cukup bagus untuk asap berwarna menggunakan zat kimia red dyes dan blue dyes.

Selain itu juga memodifikasi sudut pancaran oli ke exhaust F-16 dengan cara membengkokkan nozzle yang semula terlalu ke dalam 70 derajat di arahkan ke luar sekitar 90 derajat.



Komentar