SEJARAH

Taloa, Sekolah Penerbangan di Kalifiornia Tempat Lahirnya Calon Kadet AURI yang Tinggal Kenangan

Jumat, 20 Maret 2020 15:35
Penulis : Beny Adrian
Taloa, Sekolah Penerbangan di Kalifiornia Tempat Lahirnya Calon Kadet AURI yang Tinggal Kenangan

Para instruktur yang saat itu melatih calon kadet AURI di Taloa. Sumber: The 60 Taloans

Angkasa.news – Menyebut Taloa menjadi lazim di Indonesia khususnya bagi pecinta dan pemerhati dunia penerbangan. 


Karena Taloa yang merupakan singkatan dari Transocean Air Lines Oakland Airport, adalah sebuah sekolah penerbang (flying school) di Kalifornia, Amerika Serikat yang mendidik 60 kadet-kadet muda AURI (sekarang TNI AU) dari Desember 1950 hingga Juli 1952. 

Apalagi tiga orang di antaranya kemudian memegang tampuk tertinggi AURI dengan menjadi kepala staf. Yaitu Omar Dhani, Sri Mulyono Herlambang, dan Saleh Basarah.

Taloa didirikan pada 1946 oleh Orvis Nelson, seorang petualang yang penuh kharisma. Namun karena situasi masih carut marut pasca Perang Dunia II, tak pelak Nelson menghadapi tantangan yang luar biasa.

Nelson sendiri adalah pilot hebat yang ikut membuka jalur penerbangan baru utamanya ke Kawasan Pasifik sebagai pilot United Airlines.

Bersamaan dengan pembentukan Taloa, Nelson juga mendirikan divisi baru yang dinamakannya Taloa Academy of Aeronautics. Divisi baru ini dibentuk awalnya untuk memenuhi kebutuhan ground dan flight training internal untuk operasi TAL (Transocean Airlines).

Dalam waktu singkat, Taloa meraih reputasi dan berkembang pesat. Taloa Academy memperoleh pujian dari maskapai pengguna karena jebolannya dinilai sangat bagus. 

Reputasi tinggi ini pada akhirnya mendatangkan banyak kontrak pelatihan dengan pemerintah asing. Kenapa kemudian selama puluhan tahun hubungan Indonesia dan Taloa menjadi begitu kuat, karena Indonesia menjadi negara pertama yang memberikan kontrak pelatihan kepada Taloa.

Menurut buku “Kepak Sayap The 60 Taloans Sebuah Kilas Balik”, sebanyak 60 calon kadet yang dikirim AURI ke Kalifornia ini dilatih di sebuah sekolah penerbangan swasta di Amerika Serikat. Pendidikan militer baru mereka terima setelah pulang ke tanah air.

Lalu siapa yang berjasa dalam membuka hubungan dengan Taloa? Wiweko Soepono. 

Perwira AURI yang visioner ini memberikan saran kepada pimpinan AURI agar calon perwira penerbang dikirim ke AS. Alasannya sangat jelas. Amerika adalah negara pemenang Perang Dunia II, dan menjadi negara paling unggul dalam teknologi penerbangan. 

Kita tahu sejarah penerbangan lahir di AS dari tangan Wright Bersaudara yang menerbangkan pesawatnya pada 17 Desember 1903.

Sejak PD II berakhir, banyak sekolah penerbangan didirikan di AS. Bahkan Belanda sendiri ketika itu masih mendidik calon penerbang di Amerika Serikat. 

Wiweko pada akhirnya dikirim ke Taloa untuk melakukan pembicaraan dengan Nelson. Namun ia bertemu dengan Leenhuizen, warga AS yang fasih berbahasa Belanda. Disinilah disepakati kerja sama, bahwa Taloa akan mendidik 60 calon kadet AURI.

Lalu kenapa harus Taloa?

Jawabannya adalah emergency plan. AURI saat itu sangat membutuhkan penerbang dalam jumlah banyak, namun tidak bisa menunggu terlalu lama. 

Jika harus melalui pendidikan militer, dibutuhkan waktu sekitar tiga tahun. Seperti dijalani calon perwira Angkatan Laut yang dikirim ke Akademi Militer Den Helder di Belanda.

Menurut buku ini, Taloa bisa mempersiapkan kadet hanya dalam waktu satu tahun. “Selama belajar di Taloa kami adalah kadet AURI namun status kami tetaplah sipil,” tulis Hapid Prawira Adiningrat di pengantar buku. 

Di akhir pendidikan, para kadet ini diseleksi lagi hingga terpilih 20 orang untuk melanjutkan pendidikan instruktur penerbang selama enam bulan.

Taloa memang bukan pilihan yang keliru. Mungkin sudah termasuk ke dalam kontrak yang dibuat Wiweko Soepono waktu itu, ke-60 calon kadet bahkan dijemput ke Kemayoran dengan pesawat khusus.

Tepatnya 16 November 1950, pesawat DC-4 “Mount Fairweather” milik Transocean Airlines lepas landas dari Bandara Kemayoran menuju AS. 

Namun menjelang akhir 1960, TAL mengalami masa-masa sulit karena gagal mendapatkan sertifikasi dari Civil Aeronautics Board untuk rute penerbangan yang berbeda dengan yang dijalani pesaingnya. 

Kesulitan pendanaan memperkeruh keadaan, karena membuat TAL tidak mampu membeli pesawat baru dari jenis jet yang mulai tren. Sampai akhirnya TAL dan Taloa Academy dinyatakan bangkrut pada tahun itu juga. 

Namun karena kekeluargaan yang begitu tinggi, ikatan di antara karyawan dan pemilik tidak mudah luntur. Mereka terus berkomunikasi di Taloa Alumni Association, menerbitkan Taloa Newsletter dan membuat website taloa.org.

“Sebagai salah seorang eks kadet Taloa, saya merasa bangga pernah menjadi bagian dair ke-60 pemuda Indonesia alumni tahun 1950-1952. Menjadi almamater Taloa adalah sebuah kebanggaan,” ungkap Hapid.

Hapid Prawira Adiningrat adalah penerbang P-51 Mustang semasa berdinas di AURI. Ia menjadi satu dari dua alumni Taloa yang masih hidup, bersama The Tjing Ho alias Steve Kristedja.



Komentar