SEJARAH

Tahukah Kamu, Siapakah Awak Kabin Pertama di Dunia?

Sabtu, 18 Mei 2019 17:00
Penulis : Remi
Tahukah Kamu, Siapakah Awak Kabin Pertama di Dunia?

Heinrich Kubis. Sumber: Faces of the Hindenburg

Apalah artinya penerbangan tanpa awak kabin? Keanggunan, keramahtamahan, ditambah paras yang menawan diharapkan bisa membuat para penumpang lebih nyaman dan pastinya merasa aman.

 

Angkasa.news - Tapi, siapa sebenarnya pencetus ide untuk menghadirkan awak kabin di pesawat dan siapa sebenarnya pramugari pertama di dunia?

Untuk mengetahuinya kita harus melongok jauh ke belakang, bahkan sebelum Perang Dunia II dimulai, era dimana generasi pertama industri penerbangan komersial sedang berkembang.

Tak banyak yang tahu, bahwa sebenarnya awak kabin pertama di dunia justru adalah seorang pria, namanya Heinrich Kubis. Pria asal Jerman ini memiliki pengalaman belasan tahun bekerja di hotel-hotel mewah. Ia tercatat pernah menjadi pelayan di Hotel Ritz, London dan Carlton di Paris, Perancis. Kedua hotel itu saat ini bergabung dan dikenal dengan nama Hotel Ritz Carlton.

Pengalaman dalam memberikan pelayanan kelas satu kepada para tamu hotel yang notabene adalah masyarakat kelas atas inilah yang kemudian mengantar Kubis ke dalam dunia penerbangan.

Sebenarnya, Kubis tidak asing dengan dunia penerbangan. Sebab, sebelum terjun menjadi pramugara udara, ia telah lebih dulu menjalankan bisnis dalam bidang penjualan zeppelin, atau kapal udara. DELAG, maskapai asal Jerman sering berhubungan bisnis dengan Kubis.

Tahu jika pria kelahiran tahun 1888 itu bekerja sebagai pramusaji di hotel supermewah, DELAG pun menawari Kubis pekerjaan baru. Awalnya, Kubis enggan karena ia sendiri belum mengetahui sejauh mana masyarakat berminat terbang dengan kapal udara.

Kekhawatiran Kubis terjawab dengan makin tingginya minat masyarakat di Jerman, Inggris, dan Perancis untuk menggunakan kapal udara. Kubis pun bergabung dengan DELAG dan menjadi kepala pelayan di kapal udara Schwaben.

Tugasnya tak jauh berbeda dengan tugas di hotel, yaitu mengantarkan makanan dan minuman pesanan penumpang, serta melayani segala kebutuhan penumpang di tengah penerbangan. Selama lebih dari 20 tahun ia menikmati pekerjaan sebagai pramugara di DELAG.

Ketakutan Kubis soal keamanan penerbangan kapal udara terbukti manakala ia mengawaki kapal udara Schwaben. Tahun 1912 saat DELAG menggunakan armada itu, Schwaben terbakar hebat hingga mencederai Kubis dan para penumpangnya.

Jika pada dekade 1920-an industri penerbangan di dataran Eropa masih mengandalkan kapal udara, alias zeppelin, maka tidak demikian dengan di dataran AS.

Begitu Wright Bersaudara menemukan teknologi pesawat terbang, industri penerbangan AS maju begitu cepat, baik dalam industri penerbangan militer maupun penerbangan komersialnya.

Awalnya, pesawat terbang mengangkut surat-surat dan paket-paket kecil. Baru pada dekade 1920-an Varney Airlines, salah satu penyedia layanan pengiriman surat lewat udara mencetuskan ide untuk membawa penumpang dalam pesawat mereka.

Bepergian dengan pesawat di zaman itu merupakan suatu kegiatan yang menakutkan. Belum lagi saat terbang di atas ketinggian 5.000 kaki, banyak penumpang yang mabuk karena seringnya terjadi goncangan di dalam pesawat.

Walau demikian, mereka yang berkocek tebal tetap menggunakan moda transportasi ini karena jauh lebih cepat dibanding moda transportasi lain.

Di masa itu, industri penerbangan di AS belum mengenal awak kabin layaknya yang dilakukan oleh Kubis di maskapai DELAG. Seluruh kebutuhan penumpang pesawat dilayani kopilot saat pesawat berada di ketinggian jelajah. Ia harus membagikan makanan, memberikan segala macam pengumuman, hingga menangani penumpang yang sakit.

Saat mendarat kopilot juga harus membantu menurunkan barang-barang di bagasi dan saat hendak masuk hangar kopilot harus ikut mendorongnya.

Baru pada tahun 1930 Boeing Air Transport (BAT) berpikir sudah seharusnya ada orang yang direkrut untuk melayani penumpang. Namun mereka masih bingung soal kriteria orang yang dicari.

Sempat terpikir untuk mengadopsi system DELAG, namun masalahnya saat itu BAT belum memberikan pelayanan mewah seperti yang diberikan DELAG.

Di saat yang sama, ada seorang wanita bernama Ellen Church yang bertanya soal lowongan pekerjaan di BAT. Sebelumnya, Ellen bekerja sebagai perawat di sebuah rumah sakit di San Fransisco.

Di waktu senggangnya ia berlatih terbang di sebuah klub penerbangan. Ketertarikannya dengan dunia penerbangan sudah muncul sejak Ellen balita. Di dekat rumahnya di Cresco, Iowa, AS sering ada pesawat generasi pertama yang mondar-mandir di atas rumahnya.

Suatu hari ia bertemu Steve Simpson, Manajer BAT dan menanyakan apakah ada pekerjaan untuk seorang perawat. Steve mengatakan, ia memang memiliki rencana untuk mencari seseorang yang melayani penumpang di dalam penerbangan.

Karena masalah utama yang dirasakan para penumpang adalah soal ketakutan, maka Ellen mencari para wanita yang berpengalaman dalam menangani pasien di rumah sakit. Sesuai dengan pekerjaan sebelumnya, tugas utama mereka adalah menenangkan penumpang di sepanjang penerbangan dan menangani penumpang yang mabuk atau sakit.

Tugas untuk mencari pramugari lain ternyata sangat tidak mudah. Saat itu masyarakat AS menganggap tabu bagi seorang wanita bekerja jauh, apalagi di dunia penerbangan yang jauh dari kata aman.

Dengan segala keterbatasan itu, Ellen berhasil merekrut tujuh wanita. Tapi jangan bayangkan pekerjaan mereka seperti pramugari sekarang yang hanya bertugas di dalam kabin untuk melayani penumpang.

Di masa itu pramugari juga harus membersihkan kabin, hingga mengencangkan baut-baut yang kendor di dalam kabin. Tugas kopilot untuk membantu mendorong pesawat masuk hangar pun dilimpahkan kepada para pramugari.

Walaupun awalnya para penumpang ragu dengan kehadiran pramugari ini, namun lama kelamaan penumpang justru merasa lebih nyaman dalam penerbangan jika ada pramugari di dalamnya.

Hal ini berefek pada turunnya penjualan tiket maskapai lain karena penumpang lebih memilih penerbangan dengan pramugari yang saat itu hanya dimiliki oleh BAT. Hal ini juga  membuat maskapai lain, khususnya di AS ikut merekrut wanita-wanita seperti Ellen Church.

Kiprah Ellen Church berkembang di dalam penerbangan militer saat ia diminta oleh Angkatan Udara AS (AU AS, USAF) untuk ikut membantu evakuasi prajurit yang terluka atau gugur perang di Italia dan Afrika.

AU AS memberi tugas yang spesifik kepadanya, yaitu merawat para prajurit yang terluka di dalam pesawat. Tak sampai di situ, Ellen juga didapuk untuk melatih perawat-perawat lainnya menjelang invasi ke Normandia.

Atas jasanya ini Ellen tercatat dianugerahi Air Medal,  European-African-Middle Eastern Campaign Medal, American Theatre Campaign Medal, dan Victory Medal.

Kiprah Ellen Church dan Heinrich Kubis inilah yang menjadi awal berkembangnya layanan pesawat terbang seperti yang kita nikmati saat ini.



Komentar