SEJARAH

Skadron Udara 1, Skadron Pertama AURI Pasca Kemerdekaan dengan Modal Pesawat Belanda

Kamis, 19 September 2019 11:18
Penulis : Beny Adrian
Skadron Udara 1, Skadron Pertama AURI Pasca Kemerdekaan dengan Modal Pesawat Belanda

Kolonel (Pur) PGO Noordraven. Sumber: dok. angkasa.news

Angkasa.news - Lima tahun setelah kemerdekaan Indonesia, skadron pertama AURI berdiri di Pangkalan Udara Tjililitan (sekarang Lanud Halim Perdanakusuma).

Kalau mau jujur, Konferensi Meja Bundar 27 Desember 1949 merupakan pondasi berdirinya sebuah angkatan udara modern di Indonesia.

Sesuai kesepakatan yang dicapai KMB, Militaire Luchtvaart harus meninggalkan sejumlah besar pesawat terbangnya di Indonesia. Bahkan kepada anggota ML juga ditawarkan jika ingin bergabung dengan AURIS.

Mengantisipasi limpahan material yang demikian besar dalam waktu singkat, KSAU Komodor Suryadarma menetapkan tiga langkah konsolidasi.

Fase pertama, konsolidasi internal di AURI sebagai persiapan. Fase kedua, reorganisasi ML. Maka terhitung 1 Juli 1950, dimulailah fase ketiga yaitu konstruksi AURIS.

Hasilnya adalah, beberapa waktu kemudian tersusunlah organisasi Angkatan Udara yang disesuaikan dengan situasi dan kondisi saat itu.

Realisasinya adalah dibentuknya skadron untuk menampung pesawat hibah dari ML.

Pada masa awal ini Skadron 1 terdiri dari pembom B-25 Mitchell, P-51 Mustang, C-47 Dakota, dan PBY-5 Catalina.

Pesawat-pesawat ini ditempatkan di Tjililitan. Dibentuk juga Skadron 2 dengan kekuatan pesawat intai taktis Auster. Sebagai pangkalan dipilih PAU Andir di Bandung.

Organisasi Skadron 1 segera disempurnakan. Berhubung pesawat dan kru sudah masuk, ditunjuklah Letnan Udara I PGO Noordraven sebagai komandan skadron pertama.

Personelnya terdiri dari Letnan Muda I/Calon Perwira RJ Ismail, Sersan Udara Z. Pelmelay dan Sersan Udara Hasibuan.

Tanggal 30 April 1950 menjadi hari bersejarah bagi Skadron 1. Hari itu, Letnan Noordraven sukses menerbangkan B-25 M-456 beridentitas merah putih.

Penerbangan dilakukan selama satu jam, dilanjutkan low past flying serta touch and go. Selain disaksikan anggota AURIS, sejumlah penerbang militer Belanda yang masih berada di Jakarta juga turut menyaksikan penerbangan hari itu.

Tak lama kemudian, M-456 mendapat tugas operasi pertama. Pembom ini dikirim ke Makassar untk membantu gerak pasukan darat dipimpin Kolonel Kawilarang mengejar gerakan RMS.

Awak pesawat terdiri dari LMUS/Capa RJ Ismail (pilot), LUS Patah (kopilot), SU Hasibuan (radio), SU Z. Pelmelay (teknisi) dan KU Manapa. Tak lama kemudian Noordraven menyusul ke Makassar.

Pada 29 Juli 1977, Skadron 1 di nonaktifkan karena secara bertahap pembom B-25 dan B-26 Invader dihapus dari inventaris TNI AU.

Pada 1990, Skadron 1 diaktifkan lagi dengan pesawat OV-10F Bronco dan berkedudukan di Lanud Abdulrachman Saleh, Malang.

Seiring berakhirnya masa pengabdian OV-10, unsur tempur diganti dengan pesawat Hawk 109/209. Tahun 1999, Skadron 1 dipindahkan ke Lanud Supadio, Pontianak, Kalimantan Barat dengan kekuatan pesawat Hawk 109/209. 



Komentar