SEJARAH

Sisi Lain Leo Wattimena, Tidak Pernah Lupa Ibunya di Bandung

Selasa, 28 Mei 2019 11:30
Penulis : Beny Adrian
Sisi Lain Leo Wattimena, Tidak Pernah Lupa Ibunya di Bandung

Leo (kanan) sebagai Wakil II Panglima Komando Mandala bersama Mayjen Soeharto saat Operasi Trikora. Sumber: Dispenau

Angkasa.news - Leo Wattimena adalah sebuah nama di lingkungan TNI AU yang sangat melegenda. Menulis sepak terjang penerbang bertubuh gempal satu ini seperti tak  ada habisnya. Selain kepiawaiannya menerbangkan pesawat tempur, Leo juga mempunyai sisi lain yang menarik.

Seperti pernah ditulis Majalah Angkasa, tetap ada sisi halus dalam diri Leo. Itulah Leo Wattimena. Pada 15 Agustus 1971, Leo mengajukan permohonan pengunduran diri dari dinas militer, dan mengakhiri karirnya di AURI sebagai marsekal berbintang dua.

Leo pernah menjabat Panglima Komando Operasi AURI (1963), Panglima Komando Pertahanan Udara (1966), anggota MPRS (1966), dan Deputi Operasi Menteri/Panglima AU. Sebelum benar-benar mengakhiri pengabdiannya di AURI, Leo masih sempat dipercaya  sebagai duta besar RI untuk Italia (1969).

Namun dari cerita rekan-rekannya jebolan TALOA, emosinya yang meledak-ledak konon membuatnya harus mengemban tugas lebih cepat dari semestinya. “Leo memukul tukang jahit pakaiannya,” tandas Letkol (Pur) Musidjan, penerbang P-51 Mustang.

Usai pengabdiannya di AURI, cerita tentang penerbang jet pertama AURI ini seolah raib. Mata rantai seperti putus. Rekannya Marsma (Pur) Andoko juga tidak begitu yakin, apa pekerjaan Leo. Sementara menurut Marsekal (Pur) Ashadi Tjahjadi, Leo sempat bekerja di sebuah perusahaan kabel. Ashadi yang waktu itu menjabat KSAU, bertemu Leo secara tidak sengaja di daerah Blok A, Kebayoran Baru. “Saya minta ia menjadi staf ahli KSAU,” ujar Ashadi.

Namun kesehatannya sudah menurun. Penyakit asma yang dideritanya merongrong kesehatannya. Kondisinya juga sudah berbeda dengan Leo yang dikenal gagah.

Andoko mengaku, pernah bertemu Leo di Markas Besar AURI di Pancoran. “Kelihatan sedikit kurus,” aku Andoko. “Saya terharu. Ia teman yang baik. Orang yang sangat care dengan teman. Saya rangkul, saya tanya, apa khabarnya,” jelas Andoko.

“Gimana kabarnya, Le,” tanya Andoko yang dijawab Leo dalam bahasa Belanda dengan pelan. ”Kalau jalan, rasanya semua goyang.” Seperti digambarkan Andoko, badan Leo sedikir kurus dan sebuah tongkat di tangan kirinya untuk menopang tubuhnya (dan mungkin perasaannya yang limbung).

Terus menurunnya kesehatan Leo, diperparah gangguan asma, akhirnya menghentikan perjalanan penuh petualangan seorang penerbang andal itu. Persis 18 April 1976, Marsda (Pur) Leonardus Willem Johanes Wattimena, akrab dipanggil Le dan cukup dikenal dengan Leo Wattimena, menghembuskan nafasnya yang terakhir di rumahnya di kawasan Pasar Minggu.

Sebelum dikebumikan di TMP Kalibata, jenazahnya disemayamkan di Mabes TNI AU, Pancoran. Seperti didengar Andoko dari kerabatnya, Leo berpesan agar dikebumikan dengan mengenakan pakaian penerbang AURI berwarna jingga. Karena itu lah yang menjadi kebanggaan Leo.

Jika kembali diingat, yang menyentuh di balik kerasnya wataknya, Leo tidak pernah lupa ibunya yang berumah di Bandung. Sering dengan menerbangkan sendiri sebuah pesawat kecil, Leo membawakan beras untuk ibunya. Padahal sebagai panglima, Leo bisa saja memerintahkan komandan Lanud Husein.

Namun, Leo tidak melakukannya. Sebab yang ada di kepalanya hanya satu, ia sebagai panglima penguasa perang udara. “Ia tahunya hanya bekerja, tidak lebih,” kata Suparno.

Penghargaan terbaru yang diberikan kepada Leo Wattimena adalah dengan mengabadikan namanya di Gedung Serbaguna Leo Wattimena di Mako Kohanudnas, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur. Gedung ini diresmikan Panglima TNI Marsekal TNI Hadi Tjahjanto pada 11 Februari 2019.



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.