SEJARAH

Sekelumit Sejarah Lahirnya Puspenerbal, Awalnya Dinamakan Biro Penerbangan

Minggu, 03 Mei 2020 14:55
Penulis : Beny Adrian
Sekelumit Sejarah Lahirnya Puspenerbal, Awalnya Dinamakan Biro Penerbangan

Pesawat Casa NC212-200 Puspenerbal. Sumber: wikipedia

Angkasa.news – Pusat Penerbangan TNI Angkatan Laut (Puspenerbal) adalah salah satu unsur kekuatan yang menentukan dalam peperangan laut. 


Dalam melaksanakan tugasnya, Puspenerbal mengemban fungsi penerbangan meliputi: Pengintaian Udara Taktis, Anti Kapal Atas Permukaan Air, Anti Kapal Selam, Pendaratan Pasukan Pendarat (Pasrat) Lintas Helikopter, dukungan Logistik Cepat, Patroli Maritim, Operasi Tempur Laut, serta penyelenggaraan fungsi pembinaan materiil Penerbangan Angkatan Laut.

Jika kita melihat postur Puspenerbal saat ini, tentu tidak terlepas dari bagaimana satuan ini dibentuk di masa awalnya.

Penerbangan Angkatan Laut pertama kali lahir pada 17 Juni 1956, dengan nama Biro Penerbangan yang berkedudukan di Staf Angkatan Laut Jakarta. 

Seperti dikutip dari buku “Sejarah TNI Angkatan Laut 1959 – 1965” yang diterbitkan Dinas Penerangan TNI AL (2001) disebutkan bahwa untuk dapat berfungsinya organisasi penerbangan, Angkatan Laut mengirim personel ke luar negeri dari berbagai jurusan yang dibutuhkan pada 1 April 1957. 

Jurusan-jurusan yang diikuti dalam pendidikan penerbangan antara lain Penerbang, Navigator, ATC (Air Traffic Control), Teknik Listrik, Radio Radar, Telegrafis Udara, Persenjataan Udara, Alat Keselamatan Penerbangan/Pesawat, dan Store Keeper. 

Pada tahun itu pula ditetapkan keputusan penting: menentukan jenis pesawat pertama untuk Angkatan Laut yaitu pesawat Anti Kapal Selam (AKS) AS-4 Gannet; kemudian membangun Pangkalan Udara Angkatan Laut di Surabaya yaitu di dekat Waru daerah Sidoarjo.

Dalam perkembangan selanjutnya berdasarkan Surat Instruksi KSAL No.A.19/I/4 tanggal 29 Desember 1958, ditetapkan pembentukan Kesatuan Persiapan Penerbangan Angkatan Laut yang berkedudukan di Morokrembangan (KPPALM). 

Tugas pokok kesatuan ini adalah membangun kesatrian, gedung-gedung, sekolah, bengkel-bengkel, kantor-kantor, hangar dan landasan yang harus selesai dalam jangka waktu satu tahun.

Setelah itu mempersiapkan penyelenggaraan organisasi penerbangan pendidikan anggota, pemeliharaan alat-alat penerbangan yang telah ada dan yang akan tiba.

Pada masa Menteri/KSAL Laksda R.E.Martadinata, usaha pembangunan organisasi penerbangan Angkatan Laut dilanjutkan. 

Berdasarkan Surat Keputusan Men/KSAL No.A/19/1/1 tanggal 25 Januari 1960, menetapkan berdirinya pangkalan Penerbangan Angkatan Laut Morokrembangan mulai dapat digunakan. 
Pada 27 Januari 1960, kontrak pembelian pesawat Gannet diteken di Jakarta antara Men/KSAL dengan perusahaan penerbangan Inggris Faire Aviation Ltd. Tak butuh waktu lama, batch pertama pesawat Gannet tiba di pangkalan penerbangan Angkatan Laut Morokrembangan pada 7 Februari 1960. 

Dalam rangka pembangunan Pangkalan Udara Angkatan Laut lebih besar di dekat Waru, Sidoarjo, dilakukanlah penandatanganan kontrak kerja antara Men/KSAL dengan perusahaan C.I.T.E.

Di bidang organisasi, KSAL pada 2 April 1960 menetapkan perubahan nama Pangkalan Penerbangan Angkatan Laut Morokrembangan menjadi Pangkalan Udara Angkatan Laut Morokrembangan disingkat Pualam. 

Upacara peresmian dilakukan pada 4 April 1960 oleh Perdana Menteri Ir. Juanda.

Batch kedua pesawat Gannet tiba di Pangkalan Udara Angkatan Laut Morokrembangan pada 18 Mei 1960. 

Kemudian pada 1 September 1960, dua pesawat amfibi UF-1 Albatross yang dipesan dari Amerika Serikat mendarat di Morokrembangan. 

Esok harinya perwakilan pemerintah AS di Jakarta menyerahkan pesawat kepada Men/KSAL diwakili Asisten Materil Angkatan Laut Letnan Kolonel Laut B. Soewandi. 

Dengan dimilikinya pesawat Gannet dan Albatross, pada 1961 dibentuklah Skwadron Udara-100 (Skw-100) antikapal selam dengan kekuatan pesawat AS-4 Gannet dan Flight Udara-100 (Flura-100) dengan pesawat Albatross. 

Sejak saat itu penerbangan Angkatan Laut dapat dikatakan telah terwujud secara lengkap yaitu ada organisasi, pangkalan udara dan pesawat. 

Sejak saat itu kegiatan penerbangan Angkatan Laut mulai aktif diawaki personel yang terdidik dan terlatih baik.

Berikutnya, kekuatan udara Angkatan Laut diperkuat dengan datangnya pesawat-pesawat baru yaitu helikopter Mi-4 yang bertugas sebagai antikapal selam, angkut pasukan dan VIP serta tugas SAR.

Sebanyak 15 heli Mi-4 dibeli dari Rusia. Heli datang dalam dua tahap. Masing-masing enam heli tahun 1962 dan sembilan Mi-4 tahun berikutnya.

Pesawat lainnya yang didatangkan adalah pesawat pembom Ilyushin Il-28. 

Selain pesawat tempur terdapat pula pesawat untuk pengamanan dan angkut VIP dari Perancis. Pada awal 1965, ALRI membeli pula dua pesawat jenis DC-3 Dakota bekas pakai KLM dari KOTI.

Pada periode 1964-1965, perkembangan penerbangan Angkatan Laut ditandai dengan peresmian pangkalan udara baru yaitu Pangkalan Udara Angkatan Laut Waru. 

Pangkalan ini diberi nama Pangkalan Udara Angkatan Laut Juanda disingkat Pualda. 

Setelah pangkalan aktif digunakan, disusul pembentukan skwadron baru yaitu Skwadron-400 dengan pesawat Mi-4 dan Skwadron-500 dengan Ilyushin Il-28. 

Seiring berdirinya skwadron dan jumlah pesawat yang semakin banyak, maka dibentuk pula Skwadron Perawatan-900. 

Berdasarkan keputusan Panglima Angkatan Laut No.5401.6 tanggal 31 Januari 1966, dibentuk organisasi penerbangan Angkatan laut yang baru berkedudukan di Markas Besar Angkatan Laut Jakarta, yaitu Komando Penerbangan Angkatan Laut disingkat Konerbal. 

Sedangkan pada tingkat operasional dibentuk Komando Udara Armada disingkat Kudarma berdasarkan Surat Keputusan Panglima Angkatan Laut No.5401.19 tanggal 26 Maret 1966. 

Kudarma adalah penjelmaan dari Komando Jenis Udara yang pembentukannya bertujuan agar tugas-tugas operasional udara lebih terasa lagi keterpaduannya dengan Armada. 

Pangkalan Induk Kudarma organik adalah Pangkalan Udara Angkatan Laut Juanda.

Dapat dikatakan bahwa pada periode ini telah terlihat kesibukan operasional dan pembinaan yang memadai. 

Dalam arti pembinaan unsur ke dalam di bawah satu Komando Penerbangan Angkatan Laut. Sedangkan pembinaan operasional ke luar juga terkoordinasikan di bawah komando Operasi Tempur dari Armada yang merupakan unsur senjata Operasi Armada yang terpadu.

Dharma Jalakaca Putra.



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.