SEJARAH

Sekelumit Kapten Pas Pangabalan Silaen, Komandan Detasemen A Kopasgat dalam Operasi Seroja

Minggu, 05 Juli 2020 15:12
Penulis : Beny Adrian
Sekelumit Kapten Pas Pangabalan Silaen, Komandan Detasemen A Kopasgat dalam Operasi Seroja

Anggota Kopasgat di Dili tahun 1976. Dari kiri ke kanan: Lettu dr. Mudiono, Kapten Pas Nanok Soeratno, Kapten Pas Panagabalan Silaen, Kapten Pas Jack Hidayat, dan Letnan Sidharta.

Angkasa.news – Operasi Seroja di Timor Timur menjadi operasi militer terbesar yang pernah dilaksanakan ABRI. Operasi yang dimulai dengan penerjunan pada 7 Desember 1975 itu, menjadi awal operasi terbuka.


Selain menerjunkan Nanggala V dari Grup 1 Kopassandha dan Batalyon Infanteri (Yonif) 501 Raiders Brigade Infanteri 18 Lintas Udara Kostrad di Dili, sejatinya dihari yang sama akan diterjunkan Detasemen A Kopasgat yang dipimpin Kapten Pas Pangabalan Silaen.

Namun karena banyak korban dalam penerjunan subuh itu, sortie berikutnya termasuk Kopasgat, batal diterjunkan. 

Operasi Seroja ditegaskan pada 4 Desember 1975 oleh Menhankam/Pangab Jenderal TNI Maraden Pangabean di Kupang. 

Dalam taklimatnya Jenderal Pangabean menyampaikan dua kota besar di Timor yaitu Dili dan Baucau akan direbut pada 7 dan 10 Desember 1975. 

Komandan Detasemen A adalah Kapten Pas Pangabalan Silaen dengan wakil Kapten Pas Sudadio, seperti dikutip buku Nanok Soeratno Kisah Sejati Prajurit Paskhas (2013).

Tugas pokok Detasemen A adalah merebut, mengamankan dan mengoperasikan lapangan udara Dili untuk mendukung operasi lanjutan. 

Sedianya yang menjadi komandan adalah Kapten Pas Sulistyo, namun karena kecelakaan yang menimpanya saat latihan menembak, posisinya digantikan oleh Kapten Silaen. 

Silaen saat itu menjadi perwira senior di bagian operasi, sehingga pilihan jatuh kepadanya.

Ketika perintah untuk konsinyir dikeluarkan Mako Kopasgat, Silaen sedang di Jakarta dalam rangka cuti. Begitu menerima perintah itu, Silaen bergegas kembali ke Bandung.

Kapten Silaen adalah perwira karier yang menjadi perwira di Kopasgat pada tahun 1965. Silaen yang lulusan Sekolah Tinggi Olahraga di Medan, menjadi anggota ABRI untuk menjawab permintaan Pemerintah yang membutuhkan banyak prajurit guna menghadapi kemungkinan konflik dengan negara tetangga.

Dari 70 teman satu angkatannya, 30 orang di antaranya menjadi perwira Kopasgat. 


Mereka mengikuti pendidikan matra di Margahayu yang bersebelahan dengan Kali Cimariuk. Karena itu mereka memproklamirkan diri sebagai Akabri Cimariuk. 

Silaen adalah salah satu perwira Kopasgat yang mengikuti pendidikan Komando di Kopassandha (sekarang Kopassus). 

Sejak saat itu hingga tahun 1990-an, Paskhas masih mengirimkan anggotanya untuk mengambil pendidikan Para Komando di Pusdikpassus di Batujajar. 



Komentar