SEJARAH

Presiden Soeharto: Almarhum Pak Manuhua Tak Anter Sampai ke Pesawat, Bangganya Imanuel Menceritakan Sang Ayah

Jumat, 17 Juli 2020 19:00
Penulis : Beny Adrian
Presiden Soeharto: Almarhum Pak Manuhua Tak Anter Sampai ke Pesawat, Bangganya Imanuel Menceritakan Sang Ayah

Imanuel Manuhua. Sumber: angkasa.news/ beny adrian

Angkasa.news – Perhatian yang luar biasa dari seorang kepala negara.


"Jeng Manu, almarhum Pak Manuhua tak anter sampai ke dalam pesawat, sampai pesawat itu hilang dari pandangan mata saya,” ujar Presiden Soeharto kepada Petronela Gabriel setiap kali mengundang keluarga besar Operasi Srigala bersilaturahim di Istana Negara.

Sebagai janda dengan lima anak, ucapan mantan Panglima Mandala ini selalu menyejukkan hati Petronela Gabriel sebagai istri yang ditinggal pergi suami tercinta demi bangsa dan negaranya. 

Imanuel Manuhua, putra ketiga Mayor (Anm) Lamberthus Manuhua baru berusia 3,5 tahun ketika sang ayah yang menjadi komandan Kompi PGT (Pasukan Gerak Tjepat) AURI, gugur secara heroik dalam Operasi Srigala di belantara Irian Barat.

Operasi Srigala dilaksanakan pada 15 Mei 1962 melalui perintah operasi yang dikeluarkan Panglima Mandala dua hari sebelumnya. Operasi Srigala dilaksanakan hampir berbarengan dengan Operasi Kancil yang menerjunkan PGT di Fak-Fak, Kaimana, dan Sorong.

Mengikuti perintah operasi ini, disiapkan tiga pesawat C-47 Dakota untuk menerjunkan 81 anggota PGT di Klamono-Sorong dengan komandan kompi LU I Manuhua. 

Kompi ini membawahi tiga peleton dengan masing-masing komandan LMU I Suhadi, SMU Soepangat, dan SMU Mengko. Jika membaca kisah pasukan ini di buku “52 Tahun Infiltrasi PGT di Irian Barat” (2014), sepertinya Manuhua gugur sebulan setelah diterjunkan. 

Komandan kompi PGT kelahiran Desa Allang, Ambon tahun 1926 ini gugur secara heroik setelah berusaha melakukan perlawan hingga tetes darah terakhir. Disebutkan, sambil memegang tangannya yang tertembak, Manuhua memerintahkan anggotanya PU I Sutarmono segera meninggalkan tempat itu. 

Meskipun kekuatan lawan jauh lebih banyak, perlawanan sisa-sisa anak buah Manuhua masih sengit. 

Dalam situasi yang sangat gawat dan perasaan tidak sampai hati meninggalkan komandannya yang terluka, Sutarmono meninggalkan lokasi pertempuran dengan tetap mengawasi keadaan komandan kompinya dari jauh. 

Sutarmono pun melihat dengan mata tidak berkedip ketika komandan kompinya yang sudah luka-luka, terus ditembaki musuh secara membabi buta yang membuat badannya tercabik-cabik. Akhirnya LU I Manuhua jatuh dan gugur sebagai pahlawan Trikora.

Namun menurut Imanuel, cerita langsung yang ia dengar dari Sutarmono tahun 1984, bukanlah kejadian sesungguhnya. “Mungkin Om Tarmono tidak tega menceritakan kejadian sesungguhnya,” ujar Imanuel yang ditemui angkasa.news di studio radio Airmen 107.9 FM yang dikelola Dispenau.

“Bapak berjuang sampai tetes darah terakhir dan badannya dibacok berkali-kali. Menurut sumber lain kepalanya dipenggal dan potongannya dibuang ke sungai,” ucapnya. 

Sebagai Panglima Mandala, Mayjen Soeharto menerima 3 perintah. Yaitu bubarkan pemerintahan boneka Bindia Belanda, kibarkan bendera Merah Putih, dan bersiap untuk mobilisasi umum.

Untuk tugas nomor dua, Soeharto bertanya kepada wakilnya Komodor Leo Wattimena, pasukan mana yang bisa digunakan sesuai kondisi di Irian. Dari perintah itu, Leo memberikan tiga nama anggota PGT, yang salah satunya LU I Manuhua.

Ketiganya kemudian dibawa ke Istana Negara menemui Presiden Soekarno, yang penasaran ingin menemui ketiga prajurit pemberani ini. Saat bertemu dengan Soekarno, Imanuel punya dua versi cerita. Dari Sutarmono dan Leo sendiri.

“Kalian tahu risikonya, mungkin nyawa hilang, kalian bersedia,” tanya Soekarno.

Mendapat jawaban ini, begini jawaban Manuhua versi Sutarmono. “Siap, saya Letnan Udara I Manuhua komandan kompi PGT, siap mati demi bangsa dan negara.”

Namun cerita yang sedikit berbeda ia dengar dari Leo saat ia dan ibunya, membezuk penerbang tempur legendaris yang terbaring sakit di rumahnya di Pasar Minggu.

“Leo senggol kaki Manuhua, lalu berbisik, jangan malu-maluin orang Ambon, lalu Manuhua jawab Siaaaap…”

Saat Manuhua gugur di daerah operasi, kontak batin sepertinya terjadi antara balita Imanuel dan ayahnya. Dari cerita sang ibu Petronela Gabriel, saat itu Imanuel menendang-nendangkan kaki ke tembok sambil berceloteh, bapak mati, bapak mati. “Lalu bibir saya ditampar ibu,” katanya. Menurutnya, cerita ini disampaikan ibunya kepada semua orang termasuk media. 

Walaupun masih balita saat ditinggal pergi sang ayah, Imanuel bisa menyimpulkan bahwa ayahnya adalah seorang yang keras, disiplin, dan galak. 

Alasannya sederhana saja. Jika salah satu anaknya berbuat salah, Manuhua akan menghukum kelima anaknya. 

Karena sikap ayahnya yang tegas, akhirnya kelima anak-anaknya selalu berusaha tidak berbuat salah agar tidak menerima hukuman. 

Sikap tegas Manuhua juga ditunjukkan kepada anak buahnya, seperti pernah diceritakan ibunya dan diaminkan mantan anak buahnya. 

“Kalau ada anak buahnya susah diatur, bapak akan buka baju lalu tantang baku pukul (berkelahi),” tutur Imanuel.

Di antara kelima anak-anaknya, hanya Imanuel yang masih ada. Imanuel lahir tahun 1958. Ibunya meninggal tahun 1987 dalam usia 55 tahun. Dari kelima anaknya, Manuhua mendapat 14 orang cucu. 

Manuhua memiliki lima putra-putri yaitu Yohanes Manuhua, Yakob Manuhua, Imanuel Manuhua, Petrus Manuhua, dan Iriana Dominggas Manuhua.  

Tak lama setelah suaminya meninggal, Petronela Gabriel memutuskan keluar dari rumah dinas suaminya di Margahayu, Bandung pada 1963. 

Kebetulan Manuhua meninggalkan sejumlah warisan dan kebun cengkeh di Ambon, yang bisa dimanfaatkan sang istri untuk memenuhi kebutuhan keluarga. Mereka kemudian tinggal di Bandung.

LU I Lamberthus Manuhua dimakamkan di Teminabuan. KSAU Marsekal Suwoto Sukendar pernah menawarkan untuk memindahkan jenazah ke Bandung, tapi mendapat penolakan dari warga setempat. Karena itu makam Mayor (Anm) Manuhua akhirnya dipindahkan ke TMP Tri Jaya Sakti di Sorong.

Puluhan tahun kemudian, makam Manuhua di Sorong nyaris terabaikan bahkan dilupakan. Sampai akhirnya Komandan Lanud Manuhua Marsma TNI Fajar Adriyanto berinsiatif mencari lokasi makam pahlawan TNI AU itu. 

Dilukiskan bahwa penemuan makam oleh tim yang dipimpin langsung Marsma Fajar ini dalam suasana haru. Karena kondisi makam yang tidak terawat, kumuh, seolah-olah tidak menghargai pejuang Trikora yang pada masa hidupnya telah mengorbankan jiwanya untuk merebut Irian Barat dari penjajah Belanda. 

Dibantu Imanuel melalui video call dengan Marsma Fajar Adriyanto di lokasi, akhirnya ditemukanlah makam itu. “Makamnya paling depan sebelah kiri tugu peresmian, dan satu-satunya Nasrani yang dimakamkan disitu,” ujar Imanuel melalui selularnya.

16 Februari 2019, Imanuel berkesempatan ziarah ke makam ayahnya di Sorong atas undangan TNI AU. 

“Karena Pak Fajar juga kami bisa hadir di HUT TNI AU tahun lalu di Halim,” ungkap Imanuel. 

Karena kepahlawanannya, nama Manuhua diabadikan di sejumlah tempat di lingkungan TNI AU khususnya. Mulai dari nama Lanud Manuhua di Biak, Mess Manuhua dan Jalan Manuhua di Halim, Jalan Manuhua di Margahayu, patung Manuhua di Surabaya, dan diorama di Museum TNI AU di Yogya. 

“Nama jalan di Komplek Trikora Halim dari nama anak buah bapak saya, tapi jalan utamanya nama bapak,” aku dosen Universitas Trisakti ini bangga. Imanuel mengaku bangga karena tingginya perhatian TNI AU kepada pahlawan Trikora. 

Perhatian Pak Harto

Tak lama setelah Operasi Trikora berakhir, Mayjen Soeharto selaku Panglima Mandala mengeluarkan surat keterangan yang menyatakan bahwa nama yang tersebut di dalamnya adalah putra dari prajurit yang gugur saat Trikora. Surat keterangan itu ditandatangan sendiri oleh Soeharto.

Begitu pula beberapa KSAU seperti Ashadi Tjahyadi, baik secara pribadi maupun kedinasan, memberikan bantuan kepada keluarga termasuk dalam pekerjaan.

Sebagai Panglima Mandala, Soeharto tahu betul nasib istri dan anak-anak prajurit yang gugur di Irian Barat. 

Karena itu Soeharto dan beberapa pejabat Mandala lainnya berinisiatif mengumpulkan uang pribadi untuk membentuk Yayasan Trikora. 

“Yayasan ini didirikan Pak Harto sebelum menjadi presiden,” ujar Imanuel.

Pada awal pembentukan, Yayasan Bantuan Bebasiswa Putra Putri Trikora ini khusus menaungi putra-putri Tim Srigala. Mereka diberi bantuan pendidikan dari SD hingga SMA, kemudian hari bahkan hingga kuliah. Yayasan ini masih berdiri di Kebon Sirih dengan ketua Mayjen (Pur) Saukat Banjaransari. 

Namun karena jumlah warakawuri kawuri bertambah, Yayasan ini akhirnya melebarkan cakupannya hingga ke veteran Dwikora dan juga Seroja. Jika semula hanya di lingkungan TNI AU, berkembang ke matra lain juga Polri. 

Hingga akhirnya menjadi presiden kedua Indonesia, Soeharto terus menjalin silaturahim dengan keluarga besar Trikora khususnya Tim Srigala. Imanuel sendiri mengaku sudah tidak terhitung berapa kali datang ke Istana Negara. Pertemuan terakhir yang diingatnya berlangsung di Taman Mini.

Dalam setiap pertemuan itulah, Soeharto selalu menceritakan hal yang sama berulang-ulang. Kekagumannya kepada LU I Lamberthus Manuhua atas perjuangan tanpa rasa takut dan rela mati demi keselamatan anak buahnya. 

“Beliau selalu cerita kepada ibu saya, Jeng Manu, almarhum Pak Manuhua itu tak anter sampai ke dalam pesawat, sampai pesawat itu hilang dari pandangan mata saya. Selalu itu diungkap Pak Harto dalam pertemuan,” kenang Imanuel haru. 



Komentar