SEJARAH

Pernah Ditembak Jatuh saat Perang Pasifik, Sudah Takdir George Bush Menjadi Presiden AS

Selasa, 08 Oktober 2019 18:07
Penulis : Beny Adrian
Pernah Ditembak Jatuh saat Perang Pasifik, Sudah Takdir George Bush Menjadi Presiden AS

Letnan George Bush. Sumber: history.navy.mil

Angkasa.news - Presiden George Herbert Walker Bush memang istimewa. Presiden Amerika Serikat ke-41 ini dikenal memiliki reputasi hebat. Baik sebagai politikus maupun masa lalunya di dunia militer.

Ya, George H.W. Bush di masa mudanya adalah penerbang militer Angkatan Laut AS, yang ikut diterjunkan dalam Perang Pasifik. Kisah pilunya dimulai suatu hari di tahun 1944.

Dengan usia baru 20 tahun, Letnan George Bush terlihat seperti bocah. Melihat tubuhnya yang ceking, bahkan orang sangsi ia bisa membawa mobil. Padahal ia pilot pesawat pembom paling besar yang dimiliki Angkatan Laut Amerika Serikat di Pasifik, waktu itu.

Suatu hari di tahun 1944, mereka mendapat tugas mengebom Pulau Chichi Jima untuk terakhir kalinya. Menara radio di Chichi merupakan alat penghubung Jepang dengan Kepulauan Palau, yang akan diserbu Admiral Halsey begitu serangan ke Chichi selesai.

Oom ingin ikut

Bush bangun pagi-pagi untuk mengecek pesawatnya di geladak. Dalam perjalanan ke geladak, ia dicegat Ted White yang jauh lebih tua. Ted bukan penerbang, melainkan perwira meriam di kapal. Ia ingin ikut terbang dengan George hari itu.

“Aduh, mengapa hari ini,” gerutu Bush yang selalu terbang membawa Leo Nadeau dan Jack Delaney. Karena Ted White sahabat pamannya, ia sungkan menolak.

“Asal Anda minta izin kepada Skip,” jawab George. Skip atau Skipper adalah komandan skadron yang namanya D.J. Melvin.

Karena George Bush mampu memenuhi syarat-syarat yang berat, Melvin menaruh kepercayaan kepadanya. Ted White diperkenankan ikut. Leo Nadeau terpaksa menyerahkan kursinya kepada Ted.

Ted duduk di belakang. Jack mengambil tempat di perut pesawat pembom TBM Avenger. Mereka terbang dalam formasi rapat.

Hari itu langit cerah sehingga sejam kemudian, tiba di atas Chichi, tidak ada awan untuk tempat bersembunyi.

Dari ketinggian 10.000 kaki formasi menukik membentuk sudut 35 derajat. Avenger terkenal cepat sekali turun. Bush yang tergantung pada tali pengikat kursi merasa, Bumi seperti akan menerjangnya.

Tahu-tahu Bush melihat asap hitam tebal sekali. Ia mengarahkan moncong pesawatnya ke pesawat Doug West di depannya.

Di depan Doug terbang Melvin. Mereka memacu kecepatan. Kelihatan menara yang mesti mereka hancurkan.

Melvin langsung menukik ke menara, sementara Bush dan kawan-kawan ditugasi menghancurkan gedung-gedung komunikasi sekitarnya.

Tiba-tiba George merasakan pesawatnya seperti disundul dari bawah. Keras sekali. Kokpit dipenuhi asap, dan lidah api menjilat dari ketiak sayap kanan. Celaka! Tanki bahan bakar!

“Kita kena tembak,” seru Bush.  

Saat itu Melvin sudah menghancurkan menara. Bush tetap terbang ke arah yang tidak menyimpang. Beberapa saat kemudian pesawatnya menjatuhkan bom tepat pada sasaran, lalu menyingkir ke arah timur.

Asap tebal membuat Bush tidak bisa melihat peralatan. Ia tidak tahu apakah ketinggiannya sudah bertambah atau belum.

Yang harus dilakukannya sekarang terbang ke arah laut sejauh mungkin dari darat. Kalau keluar dari pesawat di darat, mereka akan jatuh ke tangan musuh. Orang-orang Jepang biasa membunuh pilot lawan.

Bush menghubungi Melvin dengan radio dan memanggil-manggil awak pesawatnya. Tidak ada jawaban. Apakah Ted White tahu, bagaimana caranya terjun?

Bush menengok ke belakang. Astaga! Apakah Ted tertembak? Ia meneriakkan perintah agar  awak pesawatnya melompat meninggalkan pesawat. Walaupun ia sudah menahan-nahan, dan sudah beberapa mil saja dari pantai, mereka tidak bisa bertahan lebih lama lagi dalam pesawat yang terbakar.

Bush menceklikkan tombol merah di panel instrumen untuk memberi isyarat kepada kapal Amerika yang mana pun juga, agar, memberi tahu kapal induknya.

Akan tetapi, tidak ada cara komunikasi lain yang bisa ia laksanakan. Setelah itu, Bush terjun.

Angin sekencang 120 mil per jam merenggut parasutnya, seperti cakaran mahluk buas. Bush  terbetot dan kepalanya terbentur ekor pesawat, sampai ia hampir semaput.

Ia berharap dengan sangat parasutnya bisa berfungsi. Benda itu ternyata bisa mengembang, walau koyak. Waktu itulah ia baru sadar, kepalanya mengeluarkan darah.

Bush mencoba melepaskan diri dari parasutnya sebab kalau terbelit benda itu di laut, ia akan tewas sebelum berhasil menemukan rakit pelampungnya.

Di mana pelampungnya? Di mana Ted White? Di mana Jack Delaney? Apakah Ted tertembak?

Di depannya tidak ada parasut lain. Ia tidak bisa menoleh ke belakang karena kepalanya sakit sekali. Parasut terlepas, dan Bush meluncur ke laut dengan kepala lebih dahulu.

Begitu tercebur, Bush menghentak-hentakkan kakinya supaya bisa timbul ke permukaan untuk mengambil napas. Ia terbatuk-batuk dan terengah-engah karena sempat meneguk air laut.

Ketika menengok ke sekelilingnya, ia cuma melihat air melulu. Tidak ada Jack, tidak ada Ted, bahkan juga tidak kelihatan pelampung. Yang ada cuma lautan dan langit luas membiru.

Ditinggal di laut

Kemudian didengarnya deru pesawat. Sebuah Avenger! Melvin! Pesawat itu menukik berulang-ulang. Ternyata Melvin ingin menunjukkan tempat pelampung mengambang.

Bush mencoba berenang ke arah benda itu. “Ya, Tuhan, tolonglah agar rakit pelampung itu bisa menggelembung,” doanya.

Ketika Bush memeluk rakit pelampung, beberapa pesawat lewat di udara. Ada Avenger, ada pesawat pemburu Hellcat. Avenger itu menukik. Doug West melihat wajah George berlumuran darah. Ia melemparkan kotak obat-obatan. Bush berenang mencapainya.

Setelah itu mereka pergi. Botol air di pelampung ternyata sudah pecah. Tidak ada air minum tersisa. Dayung pun tidak ada.

Terpaksa Bush mengayuh dengan kedua tangannya, menjauhi pantai musuh. Diperiksanya pistolnya. Dengan tangan gemetar, dibukanya kotak obat. Diobatinya luka di kepalanya dengan iodine.

Bush memandang berkeliling, mengharapkan Ted dan Jack muncul dengan rakit. Namun tidak ada pelampung kuning di mana-mana. Langit sepi. Semua rekannya sudah kembali ke skadron.

Mereka akan memberi tahu posisinya dengan radio jika ia bertahan. Mereka akan kembali menjemputnya, pikir Bush yakin.

Tiba-tiba Bush ingat. Hari ini satuan tugas meninggalkan sektor untuk selanjutnya bergabung dengan Admiral Halsey yang akan melakukan pendaratan di pulau.

Mereka tahu ia tertembak, tapi tidak akan kembali. Pesawat akan kembali ke geladak kapal USS San Jacinto. Semua pesawat pemburu pulang lengkap.

Avenger yang cuma empat, kini tinggal tiga: Melvin, West, dan Moore. Semua orang akan maklum apa yang terjadi. Salah seorang pilot akan bergumam, “Ya, gusti! George Herbert Walker Bush.”

Dalam keadaan terapung-apung di laut, Bush masih terus berharap Ted dan Jack akan muncul. Ia pernah mengadakan pendaratan darurat yang halus di laut. Waktu itu bersama dua rekannya, ia berhasil naik ke sebuah rakit penumpang.

Sampai detik itu Bush sadar, teman-temannya tidak akan datang menolong, walaupun mereka ingin. Mereka harus menuruti perintah untuk terbang ke selatan, melaksanakan tugas yang lebih besar daripada sekadar menjemput George Herbert Walker Bush.

Sekarang Bush hanya bisa mengandalkan kedua belah tangannya untuk mendayung. Namun, mendayung kemana? Ia haus sekali.

Dalam keadaan tidak terlalu sadar, ia melihat sebuah benda muncul di kehijauan. Benda itu makin jangkung. Bukan orang, bukan kapal.

Ya Tuhan, periskop! Mudah-mudahan mereka melihat aku, begitu ia berharap. “Aku di sini, hey….”

Tahu-tahu kapal selam muncul dari dalam laut. Sebuah pintu terbuka dan seseorang muncul. Hati Bush kecut lagi. Bagaimana kalau orang Jepang? Tapi ia melihat seseorang berjanggut keluar. Orang Jepang tidak memakai janggut.

Penyelamatan Bush menggunakan kapal selam USS Finback. Sumber: history.navy.mil

Ternyata George Bush ditakdirkan untuk menjadi Presiden Amerika Serikat. Sebab dalam keadaan kecil harapan untuk hidup pun ia masih ditemukan kapal selam Amerika Serikat, USS Finback.

“Selamat datang di kapal,” sapa awak Finback.

Namun reaksi Bush seperti orang linglung. Ia digerek ke kapal, dibaringkan, dan diperiksa kepalanya. Setelah menggigau, ia berulang-ulang bertanya. “Dimana White, dimana Delaney.” Setelah itu ia tidak bisa berkata apa-apa lagi. Bush menangis.

Sebulan lamanya Bush ikut berburu kapal Jepang dengan USS Finback. Seringkali ia duduk menyendiri di geladak, merenungi makna musibah yang menimpanya dan teman-temannya.

Setelah menghadapi maut, lalu diberi kesempatan untuk hidup lagi, ia merasa harus melakukan perbuatan yang berguna dengan sebaik-baiknya.

Di Midway, Bush diturunkan. Sebetulnya ia bisa pulang ke rumah orang tuanya yang kaya raya di Pantai Timur Amerika. Namun ia memilih kembali ke kapalnya.

“Hei, George Herbert Walker Bush,” sapa rekan-rekannya. Mereka tidak banyak menanyai soal musibah di Chichi Jima. Mereka sama-sama tahu, bagaimana rasanya kehilangan dua orang teman sepesawat.

Tahun berikutnya, Jepang menyerah sehingga George Bush bisa melanjutkan sekolahnya ke Universitas Yale, dan menikahi pacarnya, Barbara Pierce. (Majalah Angkasa)



Komentar