SEJARAH

Perang Vietnam yang Melahirkan Senapan Sniper Terhebat Seperti M14

Senin, 20 April 2020 19:30
Penulis : Beny Adrian
Perang Vietnam yang Melahirkan Senapan Sniper Terhebat Seperti M14

Senapan M14 yang legendaris. Sumber: forums.gunboards.com

Angkasa.news - Konflik yang meletus di Vietnam Selatan pada pertahanan 1960-an menjadi titik penentuan untuk senjata tembak runduk, baik dalam hal teknologi maupun taktik. 


Perang telah berkecamuk di mantan koloni Perancis di Indochina sejak akhir 1940-an. Dihadapkan ancaman Komunisme yang mengacau di Asia Tenggara, Amerika masuk gelanggang perang dengan kekuatan penuh pada 1965. 

Sekali lagi sejarah berulang, karena dengan penggelaran unit-unit tempur pertama muncul kesadaran bahwa tidak seorang pun yang dikirim terlatih sebagai penembak runduk. 

Selain itu baik Vietkong maupun AD Vietnam Utara, menurunkan penembak runduk dan M14 standar dengan pisir besi, terbukti tak memadai untuk menembak lebih jauh dari 500 m.

Masalahnya semakin kompleks pada 1966, saat M14 mulai diganti M16 yang berkaliber 223 inci (5,56mm). Pelurunya yang kecil, berkecepatan tinggi berkinerja baik sampai 300 m. namun M16 jelas bukan senapan tembak runduk jarak jauh.

Dalam keputusasaan, sejumlah kecil prajurit meminta dikirimi teleskop komersial dan membujuk ahli senjata unit memasangkannya ke M16 dan sebagian berhasil. Satu perwira di 25th Infantry Division memiliki catatan 50 kill dengan M16 berteleskop pada saat ia dipulangkan pada 1966. 

AD nyaris tidak mengacuhkan pertanyaan mengenai tembak runduk sampai, melalui upaya Jenderal Julian Ewell, sebuah kebijakan tembak runduk digariskan untuk 9th Infantry Division dan mulai menunjukkan hasil. 

Ia menugaskan dua penembak runduk untuk tiap brigade markas dan enam per batalion, untuk bekerja bareng patroli dan juga menangani sasaran yang telah ditentukan.

Pengembangan juga dimulai sesegera mungkin menemukan senapan dan teleskop yang cocok untuk AD AS. Sebagian besar pengujian dilakukan di lapangan dan Winchester Model 70, Remington 700, M16 dan M14 diuji coba. 

M14 berkualitas kompetisi dilengkapi teleskop Red Field 3x/9x ART (Auto Ranging Telescope, Teleskop dengan Penyesuaian Jarak Otomatis) dinilai paling cocok dan kombinasi ini diberi kode XM21. 

Beberapa M14 juga dipasangi teleskop M84 kuno, yang bekerja cukup efektif. 

Yang menarik dan bertolak belakang dengan pandangan Marinir atas Remington, adalah sebuah survei yang dilakukan atas para penembak runduk AS menunjukan bahwa 85 persen dari mereka memilih M14 dibanding senapan gerendel Winchester.

Semua yang ditanyai setuju bahwa kombinasi M14/M84 adalah senapan runduk terbaik untuk tujuan tersebut. 

Keunggulan besar bagi penembak runduk AD yang menggunakan M14 adalah, senapan ini bisa dipasangi alat bidik malam Starlight yang menyajikan gambar hijau cukup tajam untuk memampukan tembakan sampai jarak 400 m. 

Sekitar 15 persen kill operasi malam dicapai berkat Starlight. Akan tetapi jumlahnya terbatas dan barangnya seberat 5 pon (2,2 kg) sehingga jatuhnya rumit dan sangat mahal.

Marinir telah membereskan masalah tembak runduk dengan aksi langsung yang khas. 

Di bawah arahan Mayor Robert Russel, sejumlah senapan Winchester Model 70 berkaliber 30-06 dibeli dan dipasangkan dengan teleskop Unertl warisan PD II. 

Paduan ini terbukti apik, memampukan Marinir mengalahkan penembak runduk lawan dan membawa perang jauh di luar batasan garis depan, seperti yang mereka lakukan. 

Akan tetapi, mereka menghitung akan membutuhkan minimal penggantian untuk senapan yang rusak dalam tugas mereka membutuhkan senapan yang dapat disediakan dalam jumlah besar.

Senapan ini harus mengadopsi amunisi kaliber 7,62mm, sederhana, akurat sampai jarak 1.000 yard dan memiliki pembidik teleskop yang mampu bertahan dari tingkat kelembapan yang menakutkan. Seringkali mereka berada dalam kondisi 100 persen temperatur melebihi 100 derajat Fahrenheit. 

Dari beberapa yang diuji, dipilih Remington 700 berlaras tebal yang juga dilengkapi  teleskop Redfield 3x/9x ART. 

Sejumlah 1.000 model Remington 700 dibagikan oleh Remington selama konflik, diberi kode Model 40. Digunakan bersama amunisi M118 Match Grade (kualitas kompetisi) buatan Lake City Arsenal, Remington 40 terbukti sebagai senjata sempurna.

Senjata ini mampu menembak pada jarak sangat jauh, walaupun terkadang membutuhkan kesabaran luar biasa untuk mencapai hasil. Seperti diingat Sersan Ed Kugler dari 4 Marines. Ia menemukan seorang prajurit Vietkong pada jarak yang sangat jauh.

“Kelihatannya di peta sekitar 1.300 m. Ini akan menjadi tembakan luar biasa. Saya menyetel teleskop (perbesaran) sampai maksimal 9x. Ia terlihat sangat kecil pada 1.300 yard. Kugler menembakkan satu magasin penuh lima peluru tanpa menghasilkan perkenaan, walaupun ia memaksa VC berlindung. Ia menolak menyerah, yakin targetnya akan muncul kembali, yang terjadi 2 jam kemudian. Saat itu mendekati pukul 17.00 dan saya tahu permainan ini akan segera berakhir. Saya membidik sangat tinggi sampai kepalanya ada di kuadran bawah crosshair vertikal. Senapanku harus mengarah ke udara seperti mortir! Saya rileks, menahan pada popor, bernapas dengan paling benar seumur hidupku dan boom! Ia jatuh seperti batu. Butuh enam tembakan, tapi yah, jika ia cukup bodoh untuk tetap ada di pandanganku itu adalah masalahnya.” 

Marinir mempercayai bahwa senapan sistem gerendel mereka lebih unggul dalam akurasi dan keandalan dibanding semiotomatis, tapi ada kekurangan.

Kemampuan semiotomatis untuk melontarkan tembakan cepat berarti bahwa dalam kontak tembak rimba jarak dekat, M14 dengan magasin 20 peluru dalam banyak hal merupakan senjata yang lebih praktis dibanding senapan gerendel lima peluru Remington. 

Banyak penembak runduk berkompromi dengan membawa keduanya, seperti diakui Sersan Kugler. 

“Zulu dan saya memiliki M14. Masalahnya adalah kami harus membawanya dan juga senapan runduk kami. Cukup sulit berjalan menembus hutan dengan laras besar yang menonjol dan tersangkut ke apa saja. Di sisi lain, cukup sia-sia membawa senjata yang dapat menembak ribuan yard dalam hutan dimana saya tidak dapat melihat 20 kaki di depanku,” jelasnya.

Sementara AS memiliki superioritas udara penuh dan memiliki kekuatan artileri tiada tara, dominasi medan yang diciptakan pasukan daratnya cukup terbatas, khususnya pada malam hari. 

Pada awalnya penembak runduk menemani patroli infanteri, yang rentan dijebak dan terkena jebakan buatan dan efektivitas mereka dihalangi ketebalan rimba. 

Karena tidak lebih dari 1.000-2.000 penembak runduk yang bertugas di Vietnam dalam seluruh konflik, penggunaan orang-orang berkeahlian tinggi semacam itu dalam patroli jelas sia-sia.

Semakin lama mereka diberikan kebebasan bertindak untuk melaksanakan misi cari-bunuh. Secara bertahap kebijakan ini mulai menghasilkan buah, menjadi begitu efektif sampai-sampai Vietnam Utara menetapkan harga pada kepala setiap orang Amerika yang tertangkap membawa senapan panjang.

Seperti juga perang-perang sebelumnya, kegunaan penembak runduk tidak selalu diterima tanpa syarat oleh banyak prajurit infanteri, yang rentan terhadap perasaan tidak nyaman saat penembak runduk ada di sekitar dan yang menganggap mereka sebagai primadona yang tidak berbagi kesulitan yang sama seperti kelelahan dan kondisi hidup. 

Seorang penembak runduk Angkatan Darat AS mengingat kembali bahwa ketika ia masuk ke lubang perlindungan, seorang prajurit infanteri mencolek yang lainnya dan berbisik. 

“Uh-oh, ini dia datang murder incorporated (pembunuh berencana).” 

Di sisi lain, kepemilikan senapan runduk adalah paspor terbuka hampir ke seluruh tempat di garis depan atau di garis belakang musuh. 

Tidak ada yang terlalu peduli untuk bertanya secara mendalam apa yang dilakukan penembak runduk atau kenapa.

Karena sepanjang sejarah perang, penembak runduk selalu bagaikan malaikat pencabut nyawa. Kehadirannya selalu dihindari dan ditakuti, terkadang oleh rekannya sendiri.



Komentar