SEJARAH

Michael 'Bimo Kunting', Komando PGT yang Pernah Ditempeleng KSAU dan Duel Pistol dengan Leo Wattimena

Minggu, 15 September 2019 20:15
Penulis : Beny Adrian
Michael 'Bimo Kunting', Komando PGT yang Pernah Ditempeleng KSAU dan Duel Pistol dengan Leo Wattimena

Michael Suman Juswaljati melatih menembak siswa Pendidikan Dasar Pasukan di Sarangan, Tawangmangu, Jawa Tengah. Terlihat akar bahar pemberian Leo Wattimena melingkar di tangannya. Sumber: dok. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

Angkasa.news - “Saya selalu ingat pesan ayah,” ungkap Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo.

Pesan dimaksud berbunyi, “walau kita pandai setinggi apapun, kita harus tetap merendahkan diri dan membantu banyak orang tanpa diskriminasi, dan orang lain tidak perlu tahu agama kita dan asal keluarga besar kita”.

Ucapan itulah yang terus tepatri di sanubari Prof. Josaphat, yang tidak pernah habis rasa kagumnya kepada ayahnya Lettu (Pur) Michael Suman Juswaljati.

Sang ayah adalah purnawirawan prajurit para komando Paskhas TNI AU yang dikenal gigih, keras, disiplin, dan taat aturan. Karena itu pula sang ayah terpilih sebagai Instruktur Para Komando terbaik di masanya.

Berikut sepenggal kisah unik dan mungkin tidak ada duanya dari Michael Suman Juswaljati.

angkasa.news mendapat izin dari Prof. Josaphat untuk mengangkat kisah Michael yang oleh KSAU Marsekal Rusmin Nurjadin diberi dua julukan yaitu Bimo Kunting dan Singo Edan.

Suatu hari sekitar September 1968, diadakan pendidikan Introduction Latihan Komando (Inlatko) kepada taruna AAU Angkatan 69.

Inlatko adalah pengenalan Komando selama satu bulan yang dilaksanakan di Margahayu, Bandung. Pendidikan diakhiri dengan longmarch ke Pantai Pameungpeuk, Garut Selatan.

Latihan komando kali ini menarik dan berbeda. Pesertanya tidak hanya Karbol tapi juga Gubernur AAU Komodor Rusman dan Komandan Resimen Taruna Letkol (Pnb) Jahman.

Meski petinggi AAU, keduanya mengikuti semua materi yang diberikan pelatih. Tidur di tenda, jalan kaki, dan antri makan, semua dilakoni kedua pejabat ini bersama Karbol. Sungguh contoh yang baik bagi pejabat TNI di era sekarang.

Michael memberikan pelajaran teknik survival kepada siswa Komando. Sumber. dok. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

Saat di pantai Pameungpeuk ini diadakan latihan survival laut di kawasan Pulau Sentolo. Mungkin karena jabatannya Gubernur AAU, sebuah helikopter datang membawa makanan untuk Komodor Rusman.

Saat itu Michael Suman Juswaljati bertindak selaku pengawas latihan dengan sandi Ciptoning.

Bagi Michael ini adalah sebuah pelanggaran berat di tengah pendidikan Komando. Ia rupanya sudah tidak melihat lagi latar belakang siswanya, selain hanya sekumpulan orang yang siap dimaki dan dikasari.

Karena pelanggaran ini, Michael memberikan hukuman kepada Rusman dan seorang Karbol atas nama Kusbeni.

Keduanya disuruh mengambil bahan makanan yang didrop heli secara merayap di bawah tembakan dopper yang dilakukannya sendiri. Sungguh luar biasa.

Usai menjalani hukuman ini, Komodor Rusman langsung berdiri dan memeluk Michael.

“Saya salut kepadamu Komando, pupuk dan teruskan yang tumbuh dalam hatimu yang utuh, viva Komando. Aku bangga dengan tangan dan pistolmu Shadow Life (nama pistol Michael). Sampai jumpa pada penutupan dan tunggu di sini, Komando,” ujar Rusman berlalu.

Usai penutupan latihan biasanya pelatih dan siswa bubar dan pasti dimasukkan ke laut. Namun tidak siang itu.

Michael mendapat perintah tetap di tempat. Sampai KSAU Marsekal Rusmin Nurjadin dan Komodor Leo Wattimena menghampirinya.

“Komando, namamu siapa,” tanya Marsekal Rusmin.

“Siap, Michael Suman Juswaljati,” jawabnya tegas dengan sikap sempurna.

“Terlalu baik namamu, perasaan apa dalam hatimu sampai Komando memberikan ekstra pelajaran melebihi Karbol kepada Komodor Rusman. Andai salah aturan, Komando siap menerima sanksi,” tanya Rusmin keras.

“Apapun sanksi itu, saya prajurit dan prajurit itu ksatria, siap menerima dengan legawa dan syukur, Komando,” jawabnya lagi.

Marsekal Rusmin kembali meningkahi. “Andai Komando saya pecat.”

“Siap menerima, risiko instruktur, Komando,” balasnya.

Marsekal Rusmin mengayunkan tangannya menempeleng pipi kanan dan kiri Michael tiga kali, lalu memukul perutnya.

Melihat kejadian yang cukup menegangkan itu, Komodor Rusman yang tak lain adik kandung Rusmin sendiri, tiba-tiba memeluk Michael dengan mata berkaca-kaca sambil berkata, “Pasti orang tuamu pejuang.”

“Siap, betul, Komando!”

Marsekal Rusmin menepuk pundak kiri Michael sambil memberi perintah. “Coba lepas peluru pistolmu ke sasaran di belakangmu.”

Sambil balik kanan, Michael mencabut pistol dibarengi melepas picu pengaman dan langsung melepaskan tiga peluru tepat mengenai tiga balon sasaran.

Bagi Michael yang punya banyak prestasi menembak pistol dan laras panjang, bukanlah hal sulit melakukan tembak jitu.

Prestasi-prestasi inilah yang membawanya menjadi pelatih terbaik di Pasukan Gerak Tjepat (PGT, kemudian Kopasgat) saat itu.

Marsekal Rusmin belum selesai. “Kamu Komando silahkan berdoa, kepadamu akan kuberi sanksi.”

“Siap, Komando.”

Kata Rusmin, mulai hari itu September 1968 pukul 11.15 waktu Pameungpeuk, Komando Michael Suman Juswaljati kuganti namanya dengan Bimo Kunting dan Singo Edan.

“Kamu Komando Bimo Kunting sangat konsisten dengan aturan, kok masih ada prajurit yang seperti kamu, turunkan kepada anak cucumu,” perintah Rusmin.

Usai terjun dalam peringatan HUT TNI AU Lanud Halim Perdanakusuma. Michael mendapat ucapan selamat dari KSAU Marsekal Ashadi Tjahyadi. Sumber: dok. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

Singo edan artinya singa buas juga konsisten, kalau tidak daging tidak dimakan. Edan jelas tidak waras seperti kamu, Komando. Tidak waras karena Gubernur AAU juga dihukum,” kata Rusmin lagi.

“Kamu akan diberi sanksi, bilang apa,” bentak Rusmin.

“Siap, komando,” jawab Michael berkali-kali.

“Kamu benar-benar tidak waras, ancaman diberi sanksi KSAU, jawabmu Siap Komando, tak terpancar rasa sedih sedikitpun. Berarti kamu Komando kalau marah juga konsisten dengan kata hatimu. Aku tunggu di Mess Antariksa,” timpal KSAU.

Di mess instruktur komando yaitu Mess Antariksa, semua instruktur khawatir Michael akan diturunkan pangkatnya.

“Dalam hidup kami sekeluarga, ada beberapa kali kami khawatir bapak turun pangkat dengan berbagai macam peristiwa. Seperti kecelakaan siswa terjun, hilangnya siswa saat penyeberangan basah dan kering, hilangnya siswa saat pendaratan di pantai Laut Selatan, pemberondongan gedung atasan karena kemarahan bapak dan sebagainya,” kenang Josaphat.

Diakui Josaphat, banyak hal yang dipelajarinya dari sang ayah dalam memegang teguh kebenaran untuk kebaikan, walau berakibat hilangnya karier PNS-nya di Indonesia tahun 1999.

Di Mess Antariksa, Michael menghadap KSAU dan diterima Komodor Leo Wattimena yang sangat terkenal dengan bogem mentah dan pistolnya.

“Kamu Michael, ya? Kamu tahu aku siapa,” tanya Leo dengan wajah sangar.

“Siap, Komando, Komodor Leo Wattimena,” jawabnya lantang.

Good, good, champion (ucapan khas Leo). Leo itu adalah singa dan kamu orang, singo edan, well, well, dominus vobis cum (tuhan bersama kamu ),” ujar Leo.

Leo Wattimena dikenal sebagai penerbang tempur legendaris namun temperamental. Baginya memukul, gebukin orang sangat mudah. Karena itu Leo dikenal angker dan menakutkan.

“Ketemu satu marga, ya,” celetuk KSAU yang membuat semua pejabat AURI tertawa.

Leo kembali berkata dengan nada tinggi.

And kamu Komando boleh adu tembak dengan beta, itu sasarannya dua botol hullahop, ok. And beta tembak duluan,” tantang Leo.

Belum sempat Leo menembak, Michael dengan cepat mencabut pistol Colt Cobra dari holster setinggi lutut dan melepaskan tembakan tepat mengenai salah satu botol. Seluruh hadirin satu ruangan riuh bertepuk tangan.

“Kamu Komando betul-betul edan. Salut, seperti laporan. Siap-siap tambahkan botolnya.”

Komodor Rusman menaruh amplop cap Swabhuana Paksa berisi uang di dalam botol dan mengatakan, “Bila ready, please.”

Kata Rusman, bila kena botol maka uang ikut hancur, untuk itu perlu teknik menembak agar uang tetap utuh.

Dalam sekejap empat butir timah panas melesat dari pistol Michael. Empat tutup botol hullahop terpisah dari badan botol dan Michael menghampiri botol untuk mengambil amplopnya.

Saat mengacungkan amplopnya, semua hadirin berteriak Komando... Komando…. Lalu mulai terdengar lagu Ambon Manise.

Lagu ini sering dinyanyikan bersama oleh pasukan untuk mengenang perang di Ambon. Sehingga di kalangan tentara dikenal ‘Tembak Ambon’ sebagai teknik tersendiri untuk bertempur di tanah Ambon.

Komodor Leo lalu menghampiri Michael sambil dijaga pengawalnya John Mewal. Leo terlihat melepas akar bahar hitam di tangannya, lalu ia pasangkan di tangan kanan Michael.

Prajurit Komando PGT sering menggunakan akar bahar yang diambil di laut dan dipasang sendiri sebagai tanda di tangan.

Sejak hari itu, akar bahar dari Komodor Leo terus melingkar di tangan kanan Michael.

“Pakai dan teruskan, jangan takut, percayalah generasimu pasti top of top. Puji Tuhan aku dan kamu Komando edan, bisa ketemu lagi. Siapa yang duluan, tunggu di pintu rumah Bapa, ok,” pesan Komodor Leo di akhir perjumpaan itu.

Michael terpaku, hanya air mata tanda hati dan perasaan haru yang terungkap. Ia hanya menjawab ‘Siap’ dan berteriak Komando sambil melepaskan tembakan sampai menghabiskan seluruh peluru yang tersisa di pistolnya.

Sebagai pasukan komando, Michael Suman Juswaljati selalu menekankan kepada prajurit untuk memahami kata komando.

Tugas pasukan Para Komando adalah berperang, dan pilihan dalam perang hanya hidup atau mati.

Karena itu Michael mempunyai motto “Lusa Aku Mati”. Motto ini ia tuliskan di hampir seluruh peralatan tempurnya. Baik pistol, senapan, seragam dan sebagainya.

Arti dari motto ini bagi Michael adalah melaksanakan doktrin Komando dengan baik yang berarti berperilaku baik. Suatu ketika bila mati di medan tugas maka akan diperlakukan dengan baik oleh kesatuan dan tuhan.

Prajurit komando harus bisa berjiwa setan dan malaikat, harus bisa menjadi kere dan pimpinan juga. Karena memiliki brevet Para Komando tak semudah yang diceritakan orang.

Lettu Pas Michael Suman Juswaljati yang lahir pada 29 Januari 1945, mengawali karier sebagai prajurit Korpaskhas karena prestasinya.

Menurut sang istri Florentina Srindadi seperti diceritakan Josaphat, ayahnya yang doyan lari ini memilih menjadi atlet marathon sejak masih siswa SGO (Sekolah Guru Olahraga) di Klaten.

Di antara prestasinya adalah mengikuti pesta olahraga Ganefo (Games of the New Emerging Forces) di Jakarta pada 10-22 November 1963.

Rupanya bakat alam Michael ini dilihat oleh KSAU Laksamana Madya Omar Dhani yang ikut menonton.

“Ayah dipanggil KSAU dan kemudian ditarik untuk ikut Sekolah Pelatih PGT berkat prestasi sebagai pelari marathon di Ganefo,” ungkap Josaphat.

Prof. Josaphat diapit kedua orang tuanya. Sumber: dok. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo

Selepas pensiun dari TNI AU, Michael berkarier di politik dan terpilih menjadi anggota DPRD Wonogiri dari F-ABRI periode 1999-2002.

Lettu (Pur) Michael Suman Juswaljati menghembuskan nafas terakhir pada 13 Januari 2018. “Akar bahar sepertinya ikut dalam pemakaman ayah,” kata Josaphat.

Josaphat sendiri saat ini menjadi profesor penuh di Center for Environmental Remote Sensing, Chiba University di Jepang. Ia dipercaya sebagai Kepala Jurusan Environmental Remote Sensing dan Kepala Divisi yang membawahi tiga Departemen di Graduate School of Science and Engineering, Chiba University.

“Pengalaman ini berdasarkan catatan dari ingatan bapak saat bersama saya selama ini sebagai anak dan bapak,” ungkap Prof. Josaphat Tetuko Sri Sumantyo mengenang ayahanda tercinta.



Komentar