SEJARAH

Mayor Pedet Soedarman Ingin Sekali Dog Fight dengan Neptune Belanda, Malah Ketemunya Hawker Hunter

Jumat, 17 April 2020 12:15
Penulis : Beny Adrian
Mayor Pedet Soedarman Ingin Sekali Dog Fight dengan Neptune Belanda, Malah Ketemunya Hawker Hunter

Pedet Soedarman dengan bombernya. Dalam kariernya di TNI AU, Marsda TNI Pedet Soedarman dipercaya jadi Pangkodau IV dan Asops KSAU. Ia mengantongi 20 tanda jasa di antaranya Bintang Sakti, Bintang Dharma, dan Bintang Gerilya. Sumber: Buku Pedet Soedarman

Angkasa.news - Konon salah satu impian penerbang tempur adalah duel udara (dog fight) dengan pesawat musuhnya. Kisah-kisah heroik penerbang tempur era Perang Dunia II dan perang-perang setelahnya, menginspirasi banyak anak muda untuk menjadi jago-jago tempur udara (ace).


Impian duel udara itu pula yang menyesak batin Mayor Udara Pedet Soedarman, seperti diungkap dibukunya Pedet Soedarman Pengalaman Heroik Penerbang Bomber (2000).  

Sungguh merupakan suatu pukulan bagi AURI (TNI AU) karena di tengah keberhasilan melakukan penerjunan pasukan dan logistik di daerah yang masih dikuasai musuh dalam Operasi Trikora di Irian Barat tahun 1962, terdapat pesawat hilang berikut seluruh awak pesawatnya.

Sebuah pesawat AURI lainnya malah ditembak jatuh hingga tenggelam di laut. Disadari benar bahwa hal itu suatu risiko besar yang harus dihadapi dalam tugas operasi.

Pepatah menyebutkan, tidak ada perjuangan tanpa pengorbanan – jer basuki mowo beyo. Namun harus diusahakan agar risiko pengorbanan hanya sekecil mungkin. 

Salah seorang penerbang yang merenungi masalah ini adalah Mayor Udara Pedet Soedarman. 

Dalam renungannya ia bertanya, mengapa pesawat kita dapat ditembak jatuh oleh pesawat Neptune Belanda hingga tenggelam. 

Benar juga rupanya Belanda menempatkan kapal yang dipersenjatai dan dilengkapi radar di perairan Fak-Fak, hingga sewaktu-waktu bisa memanggil pesawat pemburu untuk menghadang pesawat AURI yang tengah kembali dari operasi menerjunkan pasukan dan logistik di daratan Irian Barat. 

“Pak Leo, sekarang ini posisi kita dengan Belanda nol lawan satu.Untuk itu, kalau bisa dibikin satu banding satu. Tetapi saya mohon, jangan diperintahkan terbang malam hari," kata Mayor Pedet Soedarman kepada Komodor Udara Leo Wattimena, pada suatu hari.

”OK,” jawab Leo, penerbang tempur jebolan Taloa dan menjadi legenda fighter di Indonesia.

Keesokan harinya, 3 Agustus 1962 pukul 09.00, Mayor Pedet terbang dengan pesawat B-26 Invader M-268. Dalam misi hari itu, Pedet dikawal dua pesawat tempur P-51 Mustang yang diterbangkan Kapten Udara Loely Wardiman.

Kedua pesawat lepas landas dari Pangkalan Udara Pattimura Ambon menuju Fak-Fak untuk menjatuhkan logistik. Termasuk makanan untuk para sukarelawan dan pasukan APRI yang diterjunkan beberapa hari sebelumnya di bumi Irian Barat. 

Pesawat pembom dan pemburu ini terbang pada ketinggian 2.000 kaki dalam cuaca baik dan cerah.

Biasanya setiap menerjunkan barang maupun pasukan dilakukan pada malam hari yang gelap. 

Tapi kali ini di siang hari dalam cuaca baik dan terang benderang. Sebenarnya Pedet Soedarman dan Loely Wardiman menyadari betul kalau hal ini sangat berbahaya. 

Namun hal ini justru dilakukan pada siang hari, karena ingin mencari dan bisa bertempur melawan pesawat Neptune Belanda. 

Sudah lama Pedet dan beberapa penerbang pemburu lainnya ingin berduel di udara dengan pesawat Neptune.

Sambil mencari kedudukan pasukan APRI dan para sukarelawan di daratan Irian Barat untuk diberi bantuan logistik, B-26 yang diterbangkan Pedet Soedarman dan P-51 oleh Loely Wardiman terus terbang di kawasan udara nan luas untuk mencari Neptune

Sesudah menerjunkan logistik, keduanya konsentrasi penuh mencari Neptune lawan untuk diserang.

Tiba-tiba Pedet Soedarman mendengar suara LU I Wardoyo dan LU I Kundimang yang masing-masing terbang dengan P-51 Mustang, tengah berada di atas perairan Fak-Fak. 

Wardoyo memberitahu bahwa saat keluar dari awan, pesawatnya ditembak kapal laut musuh. Mendengar informasi ini, Pedet Soedarman menambah tingkat kewaspadaannya.

Pada waktu pandangan diarahkan ke atas, terlihat sebuah pesawat Hawker Hunter Belanda ke arah Biak. Pedet segera memberitahu Loely Wardiman tentang kehadiran jet tempur Belanda itu.

“Ly, ada pesawat Hawker Hunter. Segera turun, pulang,” Kata Pedet kepada Loely. 

Pesawat Hawker Hunter bukan tandingan pesawat B-26 Mitchell maupun pesawat P-51 Mustang. Baik Pedet maupun Loely sadar betul, Hawker Hunter bukanlah rival sebanding mereka.

Hawker Hunter adalah pesawat tempur transonik Inggris buatan Hawker Aircraft yang dibuat untuk Angkatan Udara Inggris pada akhir 1940-an. Pesawat ditenagai mesin turbojet Rolls-Royce Avon dengan desain aerodinamika model sayap ayun (swept wing).

Buktinya bukan tandingan Mustang, pada September 1953, Hawker Hunter memecahkan rekor kecepatan terbang hingga 727.63 mph (1.171 km/ jam).

Kaget kehadiran Hawker Hunter yang tiba-tiba itu, Loely cepat-cepat menghindar dan menjauh, lalu kembali ke Pangkalan Udara Laha.

Sedangkan Pedet Soedarman sedikit kecewa karena gagal menemukan Neptune yang sudah lama didambakan. Niat menyamakan kedudukan satu lawan satu dengan Belanda pun tidak berhasil.

Dalam perjalanan pulang ke Pangkalan Udara Langgur, Pedet Soedarman menggerutu sendiri.

“Akan mencari Neptune, malah ketemu Hawker Hunter. Sialan,” gumam Pedet yang sudah ngebet ingin duel udara dengan Neptune.

Sementara LU I Wardoyo dan LU I Kundimang mengetahui kehadiran Hawker Hunter dari Mayor Udara Aried Riyadi yang menjaga stasiun radar.

Tanpa komentar lagi kedua penerbang muda pesawat P-51 Mustang ini menyusup ke awan, lantas turun, terbang merendah, meninggalkan kawasan udara Fak-Fak dan selanjutnya terbang ke Pangkalan Udara Pattimura Ambon.

Dalam kariernya di TNI AU, Marsda TNI Pedet Soedarman pernah menjabat sebagai Panglima Komando Daerah Udara IV dan Asisten Operasi KSAU.

Penerbang bomber yang kenyang pertempuran ini mengantongi 20 tanda jasa di antaranya Bintang Sakti, Bintang Dharma, dan Bintang Gerilya.



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.