SEJARAH

Kisah Sedih Skadron Udara XI AURI, Terseok-seok Hingga Akhirnya Dibubarkan

Senin, 25 Mei 2020 12:25
Penulis : Beny Adrian
Kisah Sedih Skadron Udara XI AURI, Terseok-seok Hingga Akhirnya Dibubarkan

Upacara likuidasi Skadron XI . Sumber: Perjalanan dan Pengabdian

Angkasa.news - TNI AU atau dulu dikenal dengan sebutan AURI, pernah mencapai kejayaan yang menobatkannya sebagai angkatan udara terkuat di belahan bumi Selatan. Pembelian besar-besaran alutsista pesawat tempur, pembom, dan intai dalam jumlah sangat banyak dari Uni Soviet, menjadi titik awal predikat itu.


Namun tidak lama AURI menduduki singgasana bergengsi itu.

1965 menjadi tahun tragedi nasional yang akan diingat sepanjang sejarah bangsa kita. Pemberontakan PKI telah menjadi puncak kesedihan seluruh rakyat. Angkatan Udara pun terkena imbasnya.

Selain terjadinya upaya fitnah yang ditunjukan kepada Angkatan Udara, seperti dikutip buku "Perjalanan dan Pengabdian" yang ditulis F. Djoko Poerwoko (2000), dukungan suku cadang juga semakin berkurang untuk pesawat buatan Uni Soviet. 

Namun dengan semangat baja, insan-insan dirgantara tetap tabah menghadapi cobaan ini termasuk seluruh personel Skadron Udara XI.

Pada 1966, jabatan Komandan Skadron XI diserahkan kepada Mayor Udara Suganda. Sedang Perwira Teknik dipercayakan kepada LU Satu Wuryanto. 

Untuk kepentingan organisasi dan pembinaan personel, sejumlah penerbang Skadron XI dimutasi di Pangkalan Udara Adisutjipto Yogyakarta sebagai instruktur dan sebagian ditugaskan ke Kohanudnas. 

Penerbang yang masih aktif dan tetap bertugas di Skadron saat itu adalah:

  1. LU Satu Anggoro 
  2. LU Satu Slamet Herijanto 
  3. LU Dua Isbandi Gondosuwignya 
  4. LU Dua Dibjo P 
  5. LU Dua A. Karim 
  6. LU Dua Sujitno 
  7. LU Dua Djodjon 

Pada 1966 atau 1967, suku cadang pesawat semakin sulit diperoleh dan beberapa pesawat tidak layak terbang, kenapa? 

Seperti diketahui bahwa setelah tragedi G30S/PKI, negara memutus hubungan dengan Uni Soviet. Sehingga Indonesia tidak bisa lagi membeli suku cadang pesawat dari negara tersebut. 
Namun demikian, usaha keras tetap dilaksanakan agar pesawat tetap bisa mengudara.

Kejadian tragis yang menimpa penerbang hingga gugur adalahnya jatuhnya pesawat MiG-15 di Wonocolo Surabaya dengan korban Mayor Udara Sukardi dan LU Satu Djodjon.

Selanjutnya pada 1967, jabatan Komandan Skadron digantikan oleh Kapten Udara Anggoro, sedang Kapten Udara Suganda dipindahkan ke Pangkalan Udara Husein Sastranegara Bandung. 

Sementara yang dipercaya sebagai Perwira Teknik adalah LU Satu Hernowo. Waktu itu hanya lima penerbang yang masih aktif di Skadron XI yaitu:

  1. Kapten Udara Slamet Heryanto 
  2. LU Satu Isbandi Gondosuwignyo
  3. LU Satu Dibjo P
  4. LU Dua A. Karim
  5. LU Dua FX Sujitno

Karena keterbatasan suku cadang, hanya beberapa pesawat yang layak diterbangkan, itupun diterbangkan oleh penerbang senior. 

Latihan penerbangan hanya dilakukan di Kemayoran dan Iswahjudi, dua tempat yang dianggap memenuhi persyaratan. 

Landasan Abdulrachman Saleh di Malang tidak bisa digunakan untuk latihan. Tidak  seperti sistem pelatihan modern sekarang, latihan terbang pada saat itu tidak bisa dilaksanakan setiap hari. 

Spare part pesawat yang dimiliki hanya sisa-sisa dari pembelian lama, sehingga kalau ada kerusakan akan sangat susah memperbaikinya. 

Mustahil melaksanakan penerbang yang teratur pada masa itu. Latihan penerbangan dilaksanakan sewaktu-waktu bilamana kondisinya memungkinkan saja.

Sehubungan telah diselesaikannya rehabilitasi landasan di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh, dilaksanakanlah operasi “Harimau Boyong” untuk menarik kembali semua pesawat MiG-17 yang berada di luar kandang dan selanjutnya dirawat di Skadron Teknik 022 dan Polog 030. 

Para penerbang yang mendapat tugas melaksanakan penerbangan feri ke home base adalah:

  1. Kapten Udara Suganda 
  2. Kapten Udara Julius Waas 
  3. LU Satu Isbandi Gondo 

Pelaksanaan feri berjalan lancar walaupun beberapa pesawat kelengkapannya kurang dan jumlah penerbang sedikit. Diperlukan penerbang bermental baja untuk mengemban tugas tersebut. 

Seperti halnya pesawat registrasi F-1108 yang gagal diferikan. Padahal teknisi sudah berusaha sekuat tenaga memperbaiki, termasuk kanibali suku cadang dengan pesawat yang sudah sampai di Abdulrachman Saleh. 

Namun tidak berhasil juga. Akhirnya pesawat ini terpaksa ditinggal di Pangkalan Ulin di Banjarmasin. 

Hingga sekarang, pesawat ini bertengger di depan jalan masuk Pangkalan sebagai saksi kehadiran pesawat tersebut dan bukti pesawat MiG-17 pernah merajai di Banjarmasin sewaktu Operasi Dwikora.

Untuk mengatasi masalah kesulitan suku cadang, diputuskan untuk diadakan kanibalisasi agar TNI AU mempunyai pesawat yang siap operasi bila sewaktu-waktu dibutuhkan. 

Dengan usaha keras, ternyata hanya empat pesawat yang berhasil disiapkan. Karena itu latihan terpaksa dikurangi frekuensinya, mengingat pesawat dual control yaitu MiG-15 UTI sering rusak. 

Hanya penerbang berhati baja yang mau dan mampu menerbangkan pesawat yang hanya beberapa gelintir dengan kondisi mengkhawatirkan. 

Apalagi tanpa pesawat dual control, tentu semakin berbahaya. 

Secara berangsur-angsur pesawat dikumpulkan di Iswahjudi untuk dirawat sambil menunggu suku cadang, dengan istilah konservir.

Pada 1970, sewaktu diadakan latihan gabungan ABRI di Pekanbaru, Mayor Udara Suganda selaku Komandan Wing Pertahanan Udara-300 bersama Kapten Udara Tri Suharto, melaksanakan penerbangan feri dari Palembang ke Pekanbaru dengan dua pesawat MiG-17. 

Sore hari cuaca kurang bersahabat, namun karena panggilan tugas, kedua penerbang senior ini harus menghadirkan pesawatnya di Pekanbaru keesokan harinya. 

Pada hari itu juga dilaksanakan ferry flight. Beberapa menit setelah take off, kedua pesawat masuk awan dan kedua penerbangnya melaksanakan terbang instrumen sampai Pekanbaru. 

Namun cuaca di Pekanbaru tidak bersahabat. Landasan tidak bisa terlihat oleh kedua penerbang, sehingga diputuskan return to base, kembali ke pangkalan tolak di Palembang. 

Cuaca di Palembang ternyata ikut-ikutan memburuk. Sehingga penerbang melakukan holding sambil menunggu cuaca membaik. 

Malang tidak bisa ditolak, cuaca tidak ada tanda-tanda membaik dan landasan pun masih belum terlihat, padahal bahan bakar sudah tidak cukup. 

Maka Flight Leader Mayor Suganda memerintahkan bail out. Perintah pun dilaksanakan Kapten Tri dan selamat. 

Namun Mayor Suganda sendiri kelihatannya melaksanakan pendaratan darurat di tepi sungai. Beliau dinyatakan gugur dan baru setahun kemudian ditemukan jasadnya. 

Almarhum sebenarnya berhasil melaksanakan pendaratan darurat dengan baik. Saat ditemukan, jasad almarhum sudah berada di luar pesawat. 

Mungkin Mayor Suganda selamat waktu pendaratan darurat itu, lalu keluar dari pesawat. Karena itu beliau meninggal karena sebab-sebab lain.

Keteladanan kedua penerbang ini untuk berusaha menghadirkan kekuatan udara yang sudha minim di tempat latihan, membuat kagum semua orang. Walaupun nyawa menjadi taruhannya. 

Akhirnya 4 Maret 1974 dikenang sebagai hari berkabung bagi seluruh personel Skadron Udara XI.Pada hari itu diadakan upacara sederhana di dekat apron Skadron di Pangkalan Udara Abdulrachman Saleh. 

Setelah upacara selesai, Skadron XI dinyatakan demisioner alias dilikuidasi. 

Seluruh perwira, anggota dan PNS yang hadir pernah ikut mengibarkan bendera kejayaan Skadron XI, diliputi kesedihan luar biasa.

Logo Skadron pun pelan-pelan diturunkan.

Personel Skadron kemudian disebar ke satuan-satuan lain yang membutuhkan. Yaitu Pangkalan Abdulrachman Saleh, Iswahjudi, Kodikau, Kohanudnas, Depo atau ikut proyek "Garuda Bangkit" sebagai persiapan menerima pesawat F-86 Sabre bantuan pemerintah Australia.

Sebagian personel juga ikut proyek mengambil pesawat T-33 dari Amerika Serikat. Pesawat MiG yang masih layak terbang tetap digunakan oleh penerbang yang tidak ikut proyek pengambilan T-33 dan F-86.

Ini adalah ujud semangat dan tekad untuk selalu membina kemampuan penerbang. Walaupun dengan pesawat usang.

Sejarah memang tidak lahir semudah membuka jendela rumah, ia butuh waktu untuk merelaksasi dan mendewasakan diri. Tanggung jawab generasi penerus TNI AU untuk menjaga nilai-nilai luhur para pendahulunya.



Komentar