SEJARAH

Kisah Kegagalan US Navy SEAL Team Six Bebaskan Linda Norgrove, Tewas Karena Pecahan Granat

Senin, 13 Januari 2020 12:25
Penulis : Beny Adrian
Kisah Kegagalan US Navy SEAL Team Six Bebaskan Linda Norgrove, Tewas Karena Pecahan Granat

Ilustrasi pasukan khusus US Navy SEAL Team Six. Sumber: huffingtonpost.co.uk

­Angkasa.news – Ketegangan yang memuncak antara Amerika Serikat dan Iran saat ini telah menimbulkan kekhawatiran pecahnya perang besar.

Iran terlihat begitu kesal dan marah besar, sehingga melesatkan rudal-rudalnya menghantam kedudukan pasukan AS di Irak. Tak sampai di situ, rudal Iran juga menghantam pesawat B737 milik Ukraina dan menewaskan 176 orang di dalamnya.

Meski kemudian dijelaskan oleh Jenderal Amir Ali Hajizadeh, Kepala Divisi Kedirgantaraan dari Pengawal Revolusi Iran, bahwa tragedi ini akibat salah lirik.

Dari berbagai perang yang dijalani AS, memang tidak selamanya berakhir kemenangan. Banyak kesalahan, kekeliruan, dan human error yang dilakukan prajurit AS yang berujung misi berantakan.

Di antara yang gagal, adalah misi pembebasan sandera (basra) Linda Norgrove. Linda adalah pekerja sosial dari LSM Development Alternatives Incorporated, yang bekerja berdasarkan kontrak Amerika Serikat untuk menjalankan misi kemanusiaan di Provinsi Kunar, Afghanistan.

Linda dan tiga rekannya diculik Taliban pada 26 September 2010 saat rombongannya sedang berkendara di Distrik Chawkay di Timur Provinsi Kunar.

Dikutip dari Majalah Commando edisi War Fighter Series dengan judul US Navy SEAL Team 6, misi yang dijalankan oleh US Navy SEAL Team Six ini memang tidak sepenuhnya disebut gagal. Operasinya sih berhasil, namun sandera yang harus diselamatkan justru akhirnya tewas karena kesalahan anggota Team Six.

Penangkapan Linda dan rekannya dijadikan alat tawar dan menuntut Amerika melepaskan Aafia Siddiqui, ahli syaraf didikan Amerika Serikat yang melakukan percobaan pembunuhan setelah diradikalisasi.

Tiga rekan Lina dibebaskan pada 3 Oktober, tidak dengan Linda Norgrove. Ia dibawa ke sebuah tempat terpencil di pegunungan di sebelah utara Provinsi Kunar, lalu ke Lembah Dewegal.

Dari penyadapan radio di seluruh lembah berhasil mendengar musyawarah tetua klan yang meminta Linda Norgrove dieksekusi.

Intelijen Inggris yang khawatir Linda dibawa ke Pakistan melewati Warizistan yang tak bertuan, meminta AS melaksanakan misi pembebasan sandera. Operasi ini diotorisasi sendiri oleh PM Inggris David Cameron.

Dugaan lokasi penyekapan Linda diketahui dari hasil patroli UAV Predator. Ia disekap di sebuah gubuk yang dikelilingi pagar batu setinggi lima meter di Desa Dineshgal yang berada di ketinggian 2.100 meter dari permukaan laut.

Dari hasil laporan intelijen dan intaian Predator, waktu serbuan dipilih pukul 3 pagi, saat dimana lawan diperkirakan tidak siap. Kalau semuanya lancar, dalam waktu 15 menit Linda sudah dapat diamankan.

Perwira 22nd SAS (Special Air Service) Inggris yang menjadi penghubung dengan kompatriotnya dari Amerika menawarkan operasi insersi dan pembebasan dari jarak beberapa kilometer di luar Dineshgal sehingga unsur kejutan tetap terjaga. Namun setelah mencari lokasi berdasarkan citra satelit, tim tak kunjung menemukan titik yang dianggap memadai untuk pendaratan helikopter.

Akhirnya operasi dipilih dengan opsi serbuan langsung, mendaratkan pasukan sedekat mungkin dengan gubuk secara fastroping.

Menggunakan dua helikopter MH-47E, 20 personel SEAL Team Six Silver Squadron dan 24 personel 75th Ranger, diberangkatkan dari Bagram ke Lembah Dinengal. Operasi Anstruther untuk membebaskan Linda Norgrove pun dimulai.

Tugas Team Six melakukan serbuan langsung. Sementara  Ranger memblok lokasi sehingga bala bantuan lawan tidak bisa mendekat.

Pasukan meluncur dari heli dengan aman, sementara Predator mengitari lokasi di ketinggian.

Tak lama kemudian, Taliban muncul dari mana-mana dan mulai menghujani posisi Ranger dengan senapan mesin, AK-47, dan RPG.

Dalam kegelapan malam, Ranger menguasai keadaan dan unggul dalam akurasi karena mampu melihat lawannya lebih baik melalui NOD (Night Optical Devices). Apalagi ketika pesawat gunship AC-130 Spectre datang, pesta kembang api pun dimulai.

Sementara dua sniper SEAL melindungi dari heli, sniper overwatch. Dua penjaga di depan gubuk penyekapan Linda berhasil dilumpuhkan. Beberapa kali terdengar ledakan dari flashbang yang dilemparkan.

Dalam waktu singkat operator Team Six berhasil menewaskan empat Taliban di dalam gubuk. Dua lagi yang meloncati pagar batu tinggi, berusaha masuk di bawah lindungan semak-semak. Tetapi mereka tetap terlihat dari kamera termal AC-130 dan dihadiahi kanon 25mm.

Yang tidak diketahui Team Six, tepat sebelum mereka masuk, seorang Taliban menyeret Linda Norgrove keluar dari pintu belakang. Saat diseret itulah Linda Norgrove berontak dan berhasil membebaskan diri.

Ia menggulingkan badannya ke parit kecil dan berdiam di situ dalam posisi meringkuk seperti bayi, sesuai yang diajarkan pada saat menghadapi kondisi darurat.

Seorang personel Team Six yang naik ke atas gubuk dari depan memergoki Taliban yang tadinya menyeret Linda, tetapi ia tidak melihat sandera yang sudah berguling ke dalam parit.

Tidak pikir panjang, anggota SEAL Team Six ini menyudahi Taliban ini dengan granat. Ledakan granat menewaskan Taliban, namun pecahannya juga melukai Linda. Di sinilah awal kegagalan ini.

Sandera yang seharusnya dibebaskan dalam keadaan selamat justru terluka parah. Linda akhirnya meninggal dalam perjalanan kembali ke markas.

Di sisi lain, Team Six berhasil melumpuhkan Taliban yang sudah menculik Linda. Bahkan komandan Taliban setempat Mullah Basir dan Mullah Keftan berhasil ditewaskan. Namun tujuan misi yaitu pembebasan Linda dalam keadaan hidup, sama sekali kacau.

Dua anggota Team Six yang terlibat sepakat menyembunyikan fakta sebenarnya. Komandan tim pun tidak punya alasan mencurigai, dan menuliskan dalam laporannya bahwa Linda Norgrove tewas oleh musuh.

Tewasnya Linda dikatakan terjadi karena Taliban yang menyanderanya meledakkan rompi bom bunuh diri.

“Fakta” ini diterima dan diumumkan Menteri Luar Negeri Inggris, Wiliam Hague sembari mempertahankan keputusan untuk melakukan operasi pembebasan sandera yang gagal ini setelah pers mengangkat berita kegagalan operasi tersebut.

Dua hari setelah kejadian, seorang perwira intelijen Afghanistan membocorkan bahwa Linda tewas justru karena granat anggota Team Six.

Informasi yang disampaikan kepada pihak Inggris itu membuka babak investigasi baru. Jenderal David Petraeus, komandan NATO di Afghanistan saat itu memerintahkan investigasi mendalam dengan membentuk tim investigasi gabungan AS-Inggris.

Tim gabungan yang dipimpin Mayjen Joseph Votel dan Brigjen Robert Nitsch itu mereview jalannya operasi.

Seorang mantan perwira SAS juga datang ke Kabul untuk memperkuat tim Inggris dalam penyelidikan. Proses penyelidikan dilakukan secara menyeluruh, termasuk meminta hasil rekaman kamera yang terpasang di helm operator Team Six yang melakukan penyerbuan untuk diputar ulang.

Tim investigator juga meminta hasil rekaman AC-130 Spectre.

Dari situlah ketahuan bahwa salah seorang operator melemparkan sesuatu sebelum terjadinya ledakan beberapa detik kemudian. Kamera Spectre juga mencatat ledakan yang jelas bukan disebabkan rompi bom.

Operator yang bertanggung jawab melemparkan granat itu akhirnya mengaku. Ia dikeluarkan dari SEAL Team Six. Anggota tim lainnya yang dianggap turut menyembunyikan fakta diberi sanksi, termasuk penundaan kenaikan pangkat.

Sanksi yang lebih berat diberikan ketika Admiral McRaven datang ke markas Team Six di Dam Neck dan memerintahkan tiga anggota Team Six yang paling bertanggung jawab harus dikeluarkan dari unit dan dikembalikan ke US Navy SEAL.

Ini adalah hukuman paling berat bagi seorang operator Team Six yaitu dikeluarkan dari unit dalam upacara di depan seluruh anggota SEAL Team Six.



Komentar