SEJARAH

Kenangan Para Teknisi, Aksi Low Level OV-10F Bronco Bikin Geger Lanud Iswahyudi Madiun

Kamis, 23 April 2020 19:42
Penulis : Beny Adrian
Kenangan Para Teknisi, Aksi Low Level OV-10F Bronco Bikin Geger Lanud Iswahyudi Madiun

Para teknisi pesawat OV-10F Bronco TNI AU. Sumber: 30 Tahun Pengabdian OV-10F Bronco

Angkasa.news – Tidak hanya penerbangnya yang punya kenangan dengan pesawat OV-10 Bronco. Para teknisi yang notabene penjaga gawang di darat, pun punya banyak cerita dari pengalaman menjaga kesiapan pesawat Bronco yang dioperasikan TNI AU.


Kisah-kisah itulah yang dimuat di buku “30 Tahun Pengabdian OV-10F Bronco Menjaga Keutuhan NKRI.” Buku yang diprakarsai oleh Marsda (Pur) Wresniwiro ini diterbitkan secara terbatas. 

Seperti dituturkan Lettu Tek (Pur) Kuntoro, yang sebelumnya mengurusi pesawat P-51 Mustang

Sejatinya sejak Mustang akan diganti dengan OV-10, sebagian kecil anggota Skadron Udara 3 termasuk dirinya, sudah dididik di WOPS 002 Lanud Abdulrahman Saleh, Malang.

Kursus ini dimaksudkan untuk memperlancar Bahasa Inggris.

“Karena OV-10 ditempatkan di Skadron 3, saya dan anggota yang lain mempelajari OV-10 di Skadron 3 dibawah asuhan instruktur dari Amerika yang didatangkan ke Abd. Saleh. Jadilah kami ground crew OV-10 sampai purna tugas pada 1 April 1991,” kenang Kuntoro.

Menurut Kuntoro, OV-10 tidak secanggih P-51. Jika dilihat dari persenjataanya dan dari asal penggunaan OV-10 yaitu pesawat observasi atau pengintai.

“Saya kagum terhadap OV-10 karena kelincahan gerakannya di udara, terutama di daerah lembah pegunungan dan daerah berbukit seperti NTT. Apalagi setelah dilakukan beberapa modifikasi, terutama pada persenjataanya, sehingga amunisi pesawat MiG-21 bisa dihabiskannya misal roket dan bom,” jelas Kuntoro.

Tentu banyak pengalaman dialami Kuntoro dan teknisi lainnya. Di antara yang ia ingat adalah pengalaman kerja agak luar biasa pada waktu minimnya pesawat yang serviceable

Padahal pesawat sangat dibutuhkan dibutuhkan untuk operasi, sehingga teknisi harus kerja ekstra (lembur) sampai dini hari dengan penerangan seadanya karena lampu dalam hanggar belum menyala.

Pengalaman lain dialaminya ketika dimintai keterangan untuk menentukan kesalahan apa yang menyebabkan pesawat crash landing

Misalnya pada saat penerbang Yuliantono mengalami crash landing di Polonia Medan karena landing gear tidak bisa diturunkan.

Hal tersebut disebabkan putusnya kabel landing gear lock up hooks, sehingga lock up hooks yang mengkait membuat landing gear tidak bisa turun ke posisi downlocked.

Adalagi pengalaman ketika Operasi Seroja. 

Sebelum OV-10 boleh bermalam di “Komodo”, pada waktu itu terjadi salah satu ban pada main wheel meletus saat lepas landas kembali ke Kupang. Untungnya pesawat belum lepas landas sehingga diberhentikan di ujung landasan dengan keadaan ban hancur dan wheel (velg) tergerus landasan.

“Saya dijemput dari Kupang dengan OV-10 ke Komodo untuk mengganti wheel yang rusak. Saya bekerja dengan dikelilingi (dijaga) panser-panser dari Yonkav. Untungnya sebelum matahari terbenam pesawat sudah bisa diterbangkan kembali ke Kupang dengan selamat,” jelas Kuntoro.

Pesawat OV-10 memang sangat unggul dalam penyerangan taktis untuk membantu pergerakan atau penyerangan pasukan darat di daerah dataran, gunung atau lembah. 

Untuk melakukan serangan udara langsung karena kelincahan gerakannya, hal ini terbukti dalam operasi integrasi di Timtim.

Karena pengalamannya yang membekas selama merawat OV-10, pantas Kuntoro berkesimpulan amatlah layak pesawat dipertahankan sampai 10 tahun lagi, dengan catatan suku cadang dilengkapi.

Pengalaman yang tak terlupakan juga dialami Lettu Tek (Pur) Kuwat Santoso. Ia mengungkapkan kesannya di buku yang sama.

Kuwat punya pengalaman menarik ketika digelar air show di Lanud Iswahyudi dalam rangka ulang tahun Skadron Udara 3. 

Pada saat itu F-16 Fighting Falcon dan OV-10F Bronco masih bergabung di satu skadron. Bronco dengan home base di Lanud Abdulrahman Saleh, Malang diberi kehormatan mengadakan air show di Iswahjudi.

“Saya tahu betul kemampuan F-16 maupun OV-10. Saat di F-16 saya hanya terbang dua kali, karena memang F-16 tidak memerlukan teknisi udara. Jadi saya sebagai ground crew merasa tidak cocok dengan tujuan dan cita-cita saya. Kemudian kembali ke Malang,” jelasnya.

Selama pertunjukan di Madiun itu, Kuwat berjuang untuk menjaga nama baik Bronco

“Kami yang dikirim ke USA selalu diremehkan orang-orang jet engine. Terutama personel F-5 yang sama-sama sekolah ke USA. Ternyata kami dari turboprop mampu di atas mereka,” akunya bangga.

Jadi pada air show ini, Kuwat menyimpan ambisi pribadi untuk menunjukan kemampuan Bronco di udara Iswahyudi. 

“Saya provokasi pilot yang membawa Bronco ke Madiun untuk unjuk gigi. Kami melihat air show F-16 dan F-5 di ketinggian yang seperti biasa bagi pesawat jet, yang membuat manuver secara bersamaan,” kata Kuwat yang ikut dalam penerbangan ini. 

Beda pada saat giliran Bronco, pesawat melakukan manuver yang betul-betul diluar dugaan semua orang. Bronco membuat manuver yang manis pada ketinggian relatif rendah untuk ukuran aerobatik. 

Di manuver terakhir pesawat terbang serendah mungkin (low level) di atas pengunjung di lapangan.

Karena pesawat sangat rendah, tidak memberi kesempatan siapapun termasuk teknisi F-16 dari Amerika untuk menikmati ramainya bazaar dan pertunjukan, karena mereka terpaksa bergelimpangan tiarap disambar Bronco.

Usai unjuk gigi, Bronco mendarat dan parkir di tempat semula. 

“Yang tadinya tidak ada penonton mendekat, setelah penerbang Yopi dan saya turun dari pesawat, masyarakat menyerbu minta tanda tangan, menanyakan kemampuan operasi dan banyak lagi karena bentuknya yang unik.”

“Kami sangat bangga dan merasa kagum yang sebelumnya tidak kami sadari. Teman-teman teknisi Amerika menggendong kami ke hangar F-16. Mereka menjamu kami, terutama teman kami Mickey Regney, memuji-muji OV-10 beserta awaknya. Mereka mengatakan, pesawat ini general purpose, megah di udara. Begitu juga teman-teman F-16 mengagumi kami dan tidak banyak komentar,” tutur Kuwat.

Menurut Lettu Tek (Pur) Kuwat Santoso, keberanian itu mereka lakukan semata untuk mengangkat OV-10F di arena pesawat jet di Iswahyudi. 

“Pengalaman yang membuktikan bahwa OV-10F mempunyai kemampuan yang bisa diandalkan dalam operasi maupun kegiatan rutin,” urainya penuh haru.



Komentar