SEJARAH

Kenangan On Board B737 Surveillance, KSAU: Saudara Ragu, Masih Ada Kesempatan Kembali

Sabtu, 23 November 2019 20:28
Penulis : Beny Adrian
Kenangan On Board B737 Surveillance, KSAU: Saudara Ragu, Masih Ada Kesempatan Kembali

Pesawat Boeing B737-200 2X9 Surveillance milik Skadron Udara 5 TNI AU. Sumber: Dispenau

Angkasa.news - Terbang dalam misi militer? Mana mungkin, kita kan orang sipil. Tapi itulah yang saya alami ketika diakhir pengarahannya kepada wartawan, Marsma TNI F. Djoko Poerwoko (waktu itu Kastaf Kohanudnas) mengatakan: “Saudara-saudara akan diajak ikut patroli maritim dengan pesawat intai Boeing 737 Surveillance” ke Selat Malaka.

Ada rasa bangga sekaligus ragu. Betapa tidak, kami di redaksi Angkasa sudah sangat paham etika mengikuti penerbangan militer. Tidak ada asuransi, segala kejadian tanggung sendiri! One way ticket, begitu kata pilot militer.

Hari itu dan beberapa hari kemudian ketika mendapat taklimat singkat dari KSAU Marsekal TNI Chappy Hakim, kata-kata itu disampaikan secara verbal.

"Saudara-saudara ragu, masih ada kesempatan untuk kembali,” ujar KSAU saat briefing di VIP room Lanud Halim Perdanakusuma.

Subuh, 26 Maret 2003, saya dan beberapa rekan wartawan dari Kompas, RCTI (juru kamera Fery yang pernah disandera GAM), Metro TV, dan TVRI, sudah berkumpul di base operation Lanud Halim Perdanakusuma.

Hari itu sesuai janji, kami akan menjadi saksi mata operasi patroli maritim pesawat B737-200 2X9 Skadron Udara 5 TNI AU. Mungkin kami menjadi kloter wartawan pertama yang diundang secara resmi oleh TNI AU untuk meliput patroli udara pesawat intai maritim.

Namanya operasi militer, kehadiran kami juga diset supaya tidak menyolok. Rapi sekali rencana yang disusun TNI AU.

Pukul 06.16 WIB, kami diminta bersalin pakaian dengan overall biru, layaknya kru B737. “Biar kalau ada apa-apa kalian dikira kru,” bisik seorang perwira senyum.

Tigapuluh empat menit kemudian, Marsma Poerwoko menggelar briefing singkat. Kami diminta menyepakati aturan main selama terbang. Yang paling membahagiakan saya adalah pernyataan sang marsekal. “Silahkan motret sepuas-puasnya.”

Sekitar setengah jam kemudian, KSAU Marsekal Chappy Hakim tiba. Setelah taklimat singkat lagi, kami dipersilahkan menuju pesawat. Personel TNI AU yang lalu lalang di base ops, dengan muka terheran-heran menyaksikan keberangkatan kami menuju pesawat.

B737 Surveillance registrasi AI-7303 terpampang di depan mata. Punuk SLAMMR (side looking airborne modular multi-mission radar) di ekor pesawat langsung menyita perhatian. Kamera pun langsung beraksi, jepjep... jep….

Puas memotret, kami diminta naik pesawat dan mengambil tempat duduk masing-masing. Sebelum menghenyakkan pantat di kursi kabin depan yang empuk, mata saya menangkap kabin belakang yang lowong.

“Ini dia pusat kendalinya nih,” gumam saya dalam hati.

Benar saja, di sisi kiri kabin berjejer lima konsol. Ruang ini disebut mission room. Dari ruang inilah komando dilaksanakan. Sambil mata menerawang ke belakang, Marsma Poerwoko meminta saya untuk duduk. Pesawat meninggalkan Lanud Halim Perdanakusuma.

Sekitar 15 menit setelah pesawat mengudara, kami mulai beredar. Ada yang asyik ngobrol dengan kru, ada juga yang mengambil gambar.

Setelah dua jam terbang, kami tiba di daerah operasi. Pesawat terbang di ketinggian 30.000 kaki. Kru tiba-tiba meminta kami melongok ke jendela. Ternyata sebuah B737 lainnya (AI-3702) terbang beriringan. “Mereka tengah memantau Lhokseumawe,” kata kru tadi.

Sempat pula tower Singapura “teriak-teriak” di radio karena menangkap dua B737 terbang berbarengan. “Kami keep silence,” ujar Letkol Pnb Tamsil Gustari Malik, Komandan Skadron Udara 5 yang langsung memimpin misi.

Saatnya membedah B737 pun tiba. Saya langsung merangsek ke kabin tengah. Di sisi kanan berjejer lima konsol misi. Masuk ke belakang, saya bertemu “juru foto” surveillance, seorang sersan merangkap teknisi.

Kami hanyut dalam kisah-kisah misi surveillance. Dari sersan ini saya tahu, selain mata elektronis, kamera SLR (single lens reflector) juga digunakan. Ada Minolta 500, Nikon F4, Nikon N90, Agiflite, dan teropong Nikon. Soal lensa, ada satu tele ukuran 600mm.

Lagi asyik ngobrol, perwira operasi memanggil. Ia memperlihatkan hasil tangkapan radar. “Titik kecil di layar monitor itu menunjukkan kapal ikan,” jelasnya. Jika mencurigakan, posisi target akan dihitung.

Selanjutnya mission commander melaporkan kepada komando darat untuk mendeteksi keberadaan sasaran.

Setelah terbang sekitar dua jam, kami mendarat di Lanud Pekanbaru. Sekali lagi kami diberi kesempatan sebagai surveiller. Target yang tadi ditentukan, dikejar dengan pesawat NC-212 yang dilengkapi kamera obligue Haseblad dan kamera vertikal RMK A.

Jangan kira enak. Misi kali ini betul-betul bikin puyeng.

Pesawat terbang rendah hingga ketinggian 500 kaki sambil bermanuver di atas laut. Pintu samping belakang sengaja dibuka untuk juru kamera.

Ketika target ditemukan, pesawat terbang makin rendah lagi dan berputar-putar beberapa kali di atasnya. Sungguh lumayan 'enak' untuk mengocok isi perut. Dua jam berlalu.

Tidak usah malu untuk buka mulut. Sebagian dari kami dibuat pusing bahkan ada yang muntah. “Terbang seperti ini memang bikin pusing, kami dulu juga begitu, ini karena sudah biasa saja,” kata kru NC-212 asal Skadron Udara 4.

Asal tahu saja, sebelum operasi militer di gelar di NAD, mereka-mereka inilah yang bertugas memetakan posisi pasukan GAM di pedalaman NAD.

Sore itu juga kami kembali ke Jakarta. Sejuta khayalan bergalau di benak saya. Membayangkan betapa jenuhnya pekerjaan yang harus dituntaskan hingga tak jarang mereka harus terbang 6 jam.

Tapi itulah pengabdian.



Komentar