SEJARAH

Kapten (Pur) Hapid Prawira Adiningrat: Taloa Adalah Zaman Emas Saya

Kamis, 11 Juni 2020 19:12
Penulis : Beny Adrian
Kapten (Pur) Hapid Prawira Adiningrat: Taloa Adalah Zaman Emas Saya

Kapten (Pur) Hapid Prawira Adiningrat. Sumber: angkasa.news/ trisna bayu

Angkasa.news - Nama yang satu ini memang tidak terkenal, apalagi jika disandingkan dengan Omar Dhani, Leo Wattimena, Dewanto atau Saleh Basarah. Sekalipun mereka seangkatan dari Taloa (Transocean Air Lines Oakland Airport) di Kalifornia. 


Kapten (Pur) Hapid Prawira Adiningrat, begitu nama kakek berusia 93 tahun ini.

Hapid adalah satu dari 60 pemuda Indonesia yang dikirim AURI ke Kalifornia untuk menempuh pendidikan penerbang dari Desember 1950 hingga Juli 1952.

Sungguh pertemuan yang membahagiakan bagi angkasa.news karena bisa bertatap muka langsung dengan satu dari dua alumni Taloa yang masih hidup ini. Satu lagi adalah The Tjing Ho alias Steve Kristedja yang tinggal di Amerika Serikat.  

Karena sejatinya Hapid bukanlah penerbang sembarangan. Ia adalah penerbang P-51 Mustang semasa berdinas di AURI dan boleh jadi, saat ini menjadi penerbang Mustang tertua yang masih hidup di Indonesia. 

Pada usia yang sudah lanjut ini, memang tidak mudah bagi Hapid untuk berkomunikasi. Pendengaran yang mulai berkurang membuat lawan bicaranya harus bersuara ekstra keras namun pelan-pelan. 

“Maklum sudah tua, kadang saya coba baca gerak mulut orang,” aku ayah dari tiga putra-putri ini. Selama pertemuan, Hapid didampingi anak keduanya Hakima Elvira yang akrab disapa Kimmy.

Wajar saja Hapid yang hanya berpangkat kapten tidak dikenal. Karena tahun 1959 ia sudah keluar dari AURI, di saat pemberontakan tengah marak-maraknya di sejumlah daerah di tanah air.  Sehingga jejak kariernya memang terputus.

“Pada saat Padang D-Day, serangan besar-besaran dan AURI kekurangan pilot Mustang dan Dakota, saya sudah berhenti dari Skadron 3 karena saya tidak ingin meneruskan karier di AURI, mau pensiun dini. Jadi saat itu kerjaan saya di Kalijati menjadi instruktur penerbang,” ungkap Hapid. 

Padang D-Day adalah istilah Hapid untuk menjelaskan Operasi 17 Agustus yang digelar pada 17 April 1958 oleh pemerintah untuk menumpas gerakan PRRI (Pemerintahan Revolusioner Republik Indonesia) di Sumatera Barat. 

Kepada perwira saat itu, Hapid menyampaikan bahwa dia sudah cukup lama tidak terbang P-51 Mustang apalagi nembak atau ngebom.

Singkat cerita, Hapid pun terbang ke Tanjung Pinang yang menjadi pangkalan induk operasi AURI. 

Misi yang dilakukannya di antaranya di Sungai Dareh, yang saat ini berada di Kecamatan Pulau Punjung, Kabupaten Dharmasraya, Provinsi Sumatera Barat. Sekitar 178 km dari kota Padang ke arah timur. 

“Tidak ada pilihan, di sana semua amunisi saya habisin, ada jembatan dibom namun Sungai Dareh tidak terlihat dari udara karena kotanya seperti hutan,” ucap Hapid. 

Sambil melihat kepulan asap dari bom yang dijatuhkannya, P-51 Mustang itu kembali ke Tanjung Pinang. Hari itu 16 April, yang berarti satu hari menjelang Operasi 17 Agustus.

Di Tanjung Pinang, Hapid kembali menerima perintah baru untuk menerbangkan misi penerjunan esok paginya di Padang, tapi dengan pesawat yang berbeda. Menurut perwira operasi itu, pesawat C-47 Dakota yang akan menerjunkan pasukan payung esok subuh, kekurangan penerbang.

Menurut Hapid, lusinan pesawat itu lepas landas sekitar pukul 3 dini hari dan semuanya mengarah ke kota Padang. 

Lusinan pesawat lepas landas dari tiga titik yaitu Tanjung Pinang, Pekanbaru, dan Medan. Semua menuju Padang.

Ada C-47, pemburu P-51 Mustang, dan pembom B-25 Mitchell. Khusus Dakota membawa ratusan pasukan payung APRI yang akan diterjunkan di Tabing, Padang. Pasukan ini gabungan PGT(Pasukan Geraj Tjepat) dan RPKAD (Resimen Para Komando Angkatan Darat).

“Saya take off dari Medan. Pesawat yang terbang puluhan jumlahnya,” aku Hapid.

Di kokpit Mustang juga sebelumnya Hapid diperintah melaksanakan operasi penumpasan kelompok Kartosuwiryo di Jawa Barat, kampung halamannya sendiri.

“Saya diperintah tapi saya sadar, perintah ini saya tidak suka. Briefing dipimpin seorang letnan muda, dia bilang posisinya di sini dan tembak saja pada jam yang ditentukan,” cerita Hapid.

Esok paginya, ia terbangkan Mustang ke koordinat yang diperintahkan. Tidak sulit bagi Hapid mencari lokasinya, karena ia lahir dan besar di Sukabumi pada 8 Mei 1927.

Persis di atas lokasi dimaksud, Hapid tergagap sejenak karena membayangkan sanak saudaranya di bawah. Apa jadinya jika mereka tewas.

“Tiba di posisi, saya cuma lihat tapi tidak nembak. Saya kembali saja,” katanya. 

Dijelaskan perwira itu bahwa begitulah pola operasi gerilya. Siang hari mereka akan berbaur dengan warga, namun malamnya menenteng senjata. 

Hapid sebagai kadet Taloa di Kalifornia (ketiga dari kiri). Sumber: The 60 Taloans

Seperti halnya sudah jamak diceritakan kehebatan Leo Wattimena dengan Mustang, pun Hapid ternyata setali tiga uang dengan temannya itu. 

Sebagai instruktur penerbang di Kalijati dan tinggal di Halim, hampir setiap pagi Hapid harus berangkat ke Kalijati dengan menerbangkan sendiri pesawat. Pesawat apa saja yang tersedia saat itu, diterbangkannya. 

Ada Piper J-3 Cub, BT-13 Valiant, AT-6 Harvard, dan tentu saja Mustang yang paling sering dibawanya. Tiba-tiba Hapid teringat salah satu siswanya adalah Daniel Maukar.

Hapid berbagi cerita soal ini.

Suatu hari ia take off dengan Mustang dari Halim pukul 06.45. Sengaja ia pilih waktu ini supaya tepat pukul 7 sudah berada di atas Kalijati yang tengah melaksanakan upacara pagi.

“Saya datang langsung nyamber high speed,” cerita Hapid sambil tertawa. 

1 Juli 1959, Kapten Hapid Prawira Adiningrat resmi meninggalkan AURI untuk selama-lamanya. Ia memilih pensiun dini dan berkarier di Caltex karena mengaku, tidak suka dengan disiplin militer. 

Baginya disiplin militer membuat seseorang kehilangan jati dirinya, dirinya sendiri. “Disiplin militer itu kadaver,” ujarnya berkali-kali. Kadaver adalah mayat, yang digunakan Hapid sebagai ungkapan untuk menerjemahkan sikap anggota militer yang harus mematuhi semua perintah atasannya.

Karena itu pula selepas dari AURI, Hapid tidak mau menjadi pilot Garuda.

Sampai akhirnya berjodoh dengan Caltex setelah sebelumnya mencari peluang terbang di Shell dan Stanvac.

Sebenarnya bukan peluang terbang yang menjadi prioritasnya begitu resign dari AURI. Tapi perusahaan mana yang bisa memberikan rumah baginya di 1 Juli itu. Karena di hari itu, ia harus keluar dari rumah dinas AURI bersama keluarganya. 

“1 Juli itu saya pinjam truk AURI bawa perabotan dan masuk rumah itu, saya di Caltex 36 tahun sampai 1986 pensiun,” ucap Hapid. 

Kebetulan sekali gaya bos Caltex saat itu sangat cocok dengan harapan Hapid. Sesuai dengan passion-nya. 

“Kata bos, you are responsible untuk flying, dan company butuhnya apa saya harus siap bantu selalu.” Saat itu Caltex memiliki dua pesawat Dakota.

“Bos bilang keduanya harus well maintain dan mereka tidak mau tahu, pokoknya pesawat harus siap. Itu yang saya mau, saya bisa bebas,” tutur Hapid.

“Di Caltex persis yang saya inginkan, flying terus,” ujar Hapid yang mengoleksi 14.000-an jam terbang. 

Ketika ditanya kenapa pilih masuk AURI jika tidak mau ikut aturan militer?

“Karena saya ingin jadi pilot, saya inginnya cuma terbang, waktu itu yang bisa (terima) hanya AURI,” jelas Hapid.

Itulah sebabnya Hapid menolak masuk pendidikan Angkatan Laut (ALRI) di Belanda karena tidak mau menjadi pelaut.

Banyak sekali kenangan Hapid sejak mengikuti pendidikan di Taloa hingga keluar dari AURI. 

Mulai dari kenangan makan mie ayam bareng Omar Dhani di Cikini usai mendaftar di Mabes AURI di Merdeka Barat hingga kedekatannya dengan Leo Wattimena. Kebersamaan ke-60 kadet selama menempuh pendidikan penerbang di Kalifornia ini yang menjadikan mereka seperti keluarga besar. 

Semua begitu indah bagi Hapid.

Katakanlah soal Omar Dhani. Tak lama setelah dibebaskan dari penjara, Hapid menelepon sahabatnya itu. “Ned, saya boleh ke rumah nggak,” tanyanya.  

Namanya teman yang puluhan tahun tidak bersua, merekapun larut dalam obrolan santai ngalor ngidul. Akrab sekali seperti masa-masa yang sudah berlalu. Sampai seseorang datang membawakan hidangan: mie ayam! 

Dari pernikahannya dengan gadis Lampung keturunan Belanda bernama Diana Sijnja (wafat 28 April 1999), pasangan ini dikaruniai 3 putra-putri. Yaitu Habinka Hadiani, Hakima Elvira, dan Dayan Anthoni.

Mata tuanya menerawang jauh menembus waktu sekitar 75 tahun yang lalu. Ketika sebuah pesawat tempur milik Belanda terbang rendah di atas rumahnya di Sukabumi, sangat rendah, sehingga mengagetkan Hapid kecil yang tengah asyik main kelereng.

“Ketika saya lihat pesawat itu, seolah-olah saya ada di sana dan dia menuju saya, seolah-olah dia sengaja datang untuk saya, lalu menghilang. Andaikata saya seperti dia, bisa terbang, alangkah hebatnya,” gumam Hapid ketika itu.

“Taloa adalah zaman emas saya,” aku anak ke 12 dari 13 bersaudara dari Pangreh Praja Sukabumi bernama H. Saifullah dan biasa dipanggil Aum Rio ini.



Komentar