SEJARAH

Kaca Depan Tertembak Untung Ketebalannya 10 Cm, Sekelumit Pengalaman Marsda (Pur) Aryasa di OV-10 Bronco

Minggu, 15 Maret 2020 15:20
Penulis : Beny Adrian
Kaca Depan Tertembak Untung Ketebalannya 10 Cm, Sekelumit Pengalaman Marsda (Pur) Aryasa di OV-10 Bronco

Marsda (Pur) INT Aryasa. Sumber: Bogowonto

Angkasa.news - Marsda (Pur) INT Aryasa menuturkan pengalamannya menerbangkan pesawat serang darat OV-10 Bronco milik TNI AU dalam buku “Sahabatku Bogowonto 69, 50 Tahun Dalam Kebersamaan." 


Buku ini adalah kumpulan kisah pengabdian alumni AAU 1969 yang diluncurkan 6 Desember 2019 di Akademi Angkatan Udara, Yogyakarta. 

Buku setebal 158 halaman ini diterbitkan oleh Angkasa yang merupakan media online angkasa.news.

Sebagai penerbang Bronco, operasi pertama dilaksanakan di Gunung Saburai, Timor Timur. Pada saat itu disiapkan lima pesawat dengan empat penerbang. Namun salah satu pesawat harus mengalami perbaikan besar 100 jam terbang, sehingga dua penerbang harus kembali ke pangkalan induk untuk menukarkan pesawat. 

Tepat pukul 07.00 WIB, dua Bronco mengudara dengan pilot Kapten Pnb Aryasa dan Kapten Pnb Kusbeni. Keduanya menuju sasaran Gunung Saburai. Tugas ini adalah melindungi satu batalion Angkatan Darat yang tidak bisa mundur karena medan pengunduran yang sempit berbatu-batu dan diindikasi sudah diincar penembak jitu.

Sesuai data yang mereka terima, posisi pasukan kawan terjepit berjarak hanya 500 meter. Mereka dalam posisi maju kena mundur kena. Setelah dianalisa, sasaran ini dinilai sangat berbahaya terhadap pasukan kawan. 

“Apalagi peta yang kami pegang berbentuk fotografi, akurasi tidak menjamin, dan tidak tahu arah dan kecepatan angin,” ungkap Aryasa. Dalam perjalanan ke lokasi, hal ini dikoordinasikan dengan pasukan kawan dan markas komando. 

Aryasa sadar, pesawat yang buatan manusia pasti mempunyai level kesalahan seperti speed, altimeter, bom, dan lain lain. 

“Setelah dilakukan kalkulasi, kemungkinan kesalahan bisa terjadi sampai 800 meter, jadi sudah melewati posisi kawan. Saya sampaikan permasalahan dan kemungkinan yang bisa terjadi terhadap pasukan kawan, namun komandan RTP memutuskan untuk tetap melaksanakannya dengan argumen, kalau terjadi kesalahan paling pasukan kawan habis satu kompi. Kalau dibiarkan satu batalion bisa habis.”

Tidak menerima begitu saja, permasalahan ini dibawa Aryasa kepada komandan Satgas Udara Kolonel Ismain. Jawaban yang diterima tidak memuaskannya. “Terserah kalian saja,” kata Dansatgasud. 

Semua dialog dan perintah dari pimpinan operasi terus mengiringi Aryasa sebelum tiba di koordinat yang disepakati.

Ketinggian dan kecepatan yang tepat diperlukan untuk melepaskan bom. Pasukan kawan telah tiarap menunggu detik-detik jatuhnya bom di sekitar mereka. 

Tombol pelepasan bom ia tekan, dan meluncurlah bom seberat 250 kilogram dari bawah perut pesawat. Ia memerintahkan rekannya Kusbeni terus mengawal tanpa melepaskan bom. 

Selang beberapa sedetik, dari radio PRC terdengar teriakan kenaaaaa….

“Jantung saya terasa lepas mendengar teriakan itu. Setelah meminta penjelasan, ternyata yang kena adalah sasaran, sehingga penyerangan dilanjutkan dengan bom kedua dan Kusbeni juga melaksanakan pengeboman dengan parameter yang telah ditemukan,” jelas Aryasa. 

Usai mengumbar bom, penekanan dilanjutkan dengan penembakan. Pada saat itu pasukan sudah mengundurkan diri menuju pasukan induk melalui jalan di kiri-kanan berbatu cadas yang cukup untuk berlindung dari musuh. Pengawalan tetap berlanjut dari udara sampai pukul 15.00.

Misi kedua yang dijalani Aryasa adalah melindungi pasukan kawan yang melaksanakan penculikan menteri Fretilin. Dalam briefing oleh komandan RTP disampaikan bahwa Bronco bertugas membantu apabila ada perlawanan dan melindungi pasukan dalam perjalanan kembali ke basis.

Sayangnya operasi yang telah direncanakan dengan matang itu bocor. Pasukan kawan tidak menemukan apa-apa di lokasi target. Karena itu pasukan harus segera kembali ke basis. 

Dalam perjalanan kembali itulah pasukan mulai mengalami hambatan. Di kiri kanan jalan setapak yang ditempuh, mereka telah ditunggu pihak lawan.

Pesawat serang darat OV-10 Bronco milik TNI AU. Sumber: angkasa

OV-10 Bronco yang sudah berada di sasaran pada pukul 06.00, langsung beraksi memberikan perlindungan dengan melaksanakan penembakan pada jarak sekitar 15 meter di kiri kanan pasukan yang sedang berlari tanpa henti. Aksi pengunduran berlangsung hingga sore. 

Pada kesempatan berikutnya, pasukan kawan meminta bantuan tembakan udara pada posisi sebelah barat Bobonaro. Pasukan kawan yang menyerang dari selatan memungkinkan diberi bantuan karena ketinggian bukit. 

Sebaliknya kalau bantuan tembakan udara dari selatan, pasukan kawan akan kejatuhan selongsong peluru. Karena itu bantuan udara diberikan dari barat yang bukitnya lebih rendah sekaligus untuk menghindari pencegatan musuh. 

Dengan satu manuver tajam, pesawat meluncur ke bawah disertai rentetan tembakan dari senapan mesin. 

Sangat efektif sehingga langsung bisa membersihkan jalan yang akan dilalui pasukan. Merasa sudah bersih, bantuan tembakan dialihkan melalui bukit kira-kira 10 meter di atas bukit. 

Namun pada putaran keempat, tampak kilatan cahaya kecil melesat dari arah bukit. Sedetik kemudian terdengar bunyi “krak” di depan pesawat, seperti saat kita mengendarai mobil ada batu kecil menabrak kaca. 

Setelah diperhatikan, ternyata kaca yang persis di depan dadanya, pecah. Kata orang-orang, untung kaca depan ketebalannya hampir 10 cm, kalau tidak nyawa kalian yang direnggut.

Di samping operasi di Timtim, Aryasa juga sempat melaksanakan operasi di Irian Jaya sebanyak dua kali.

Kesan pada operasi kedua adalah terjadinya penyanderaan terhadap Ketua DRPD Irian Jaya, Komandan Korem, dan seorang lagi yang tidak dikenal.
Setelah berlangsung negosiasi, pelaku sepakat melepas sandera dan akan ditukar dengan beberapa peralatan dan sandang. 

Pada hari yang ditentukan, flight OV-10 Bronco berangkat dari Sentani, Jayapura. Kali ini Aryasa berduet dengan yuniornya Kapten Pnb Soni Rizani, dengan tugas pertama mengawal helikopter yang diterbangkan Mayor (Pnb) Iskandar, alumni AAU 1965. 

Hal yang paling menegangkan saat pertukaran sandera. Andaikan Bronco langsung menembak ke kiri-kanan heli. 

Di sela-sela penugasan yang sangat menguras tenaga itu, tak terhindarkan kondisi fatigue mulai menghinggapi para penerbang. Melihat kondisi yang tidak kondusif ini, Dansatgasud Kolonel Isnain memerintahkan para penerbang refreshing ke Kupang. 

“Kalian istirahat di Kupang, jangan lupa sebelum berangkat berburu dulu,” pesan beliau. 

“Maksudnya kami ke Kupang dengan persenjataan, sembari membersihkan tempat yang belum masuk daerah kita.”

Setelah bolak balik ke medan operasi, terhitung sejak 1978, Aryasa dipindahkan ke Lanud Adisutjipto dan ditunjuk menjadi instruktur penerbang. 

Walaupun sudah pindah, ia masih saja diminta mengikuti operasi Timtim sekali lagi pada 1979. Selepas itu, ia benar-benar menjadi instruktur penerbang dengan mengabdi lebih kurang sembilan tahun.

Banyak pengalaman saat menjadi instruktur yang tidak bisa dilupakannya. Di antaranya spin dari ketinggian 11.000 kaki dan baru bisa lepas setelah di ketinggian 3.400 kaki.

Setelah itu saat terbang, stick control elevator terganjal sehingga pesawat tidak bisa turun. Untuk mengurangi ketinggian dilakukan dengan kemiringan sekitar 45 derajat, dan baru setelah itu bisa mendarat di Gading, Wonosari.

Kenyang menjadi instruktur dan mungkin salah satu instruktur terlama yang pernah mengabdi, pada 1987, Aryasa pindah ke Komando Pendidikan Angkatan Udara diteruskan menjadi Komandan Lanud Surabaya sampai 1990. 

Setelah itu pindah ke AAU menjadi Komandan Wing Taruna, Direktur Operasi AAU, dan terakhir penerbang OV-10 Bronco TNI AU ini menjadi Wakil Gubernur AAU pada tahun 1997. 

Dari 1997 sampai 1998, Marsda (Pur) INT Aryasa menjadi perwira tinggi Staf Ahli bidang Hukum KSAU dan kemudian diangkat menjadi anggota DPR sampai 2002.



Komentar