SEJARAH

Jejak Tupolev Tu-2 yang Terlupakan dalam Sejarah AURI, Buatan Soviet Namun Belinya dari China

Minggu, 26 April 2020 15:02
Penulis : Beny Adrian
Jejak Tupolev Tu-2 yang Terlupakan dalam Sejarah AURI, Buatan Soviet Namun Belinya dari China

LU I Pedet Soedarman bersama rekannya saat berlatih menerbangan Tu-2 di Sian, China. Sumber: Pedet Soedarman

Angkasa.news - AURI (Angkatan Udara Republik Indonesia) pernah menjadi angkatan udara paling kuat di belahan bumi Selatan. Predikat itu membuat banyak negara ketika itu, bergidik jika berhadapan dengan AURI tak terkecuali Belanda atau Sekutu.


Pembangunan kekuatan AURI telah dimulai sejak akhir 1950-an, yang di antaranya adalah pembelian 12 pesawat pembom ringan Tupolev Tu-2 Bat dari China. 

Persisnya 1958, AURI membeli 12 pesawat Tupolev Tu-2 buatan Rusia namun dari China. 

Pesawat ini sedikit mempunyai kelebihan persenjataan, karena dilengkapi kanon kaliber 2 cm dibanding pesawat B-26 Invader yang hanya dipersenjatai senapan mesin 12,7 mm. 

Walaupun buatan Rusia, pesawat Tu-2 dibeli pemerintah Indonesia dari pemerintah China. Pengadaan pesawat jenis baru waktu itu dimaksudkan untuk meningkatkan kekuatan udara dan kemampuan operasi Skadron-1/Pembom Taktis yang sebelumnya hanya mengoperasikan 24 pesawat B-25 Mitchell.

Pada November 1958, Skadron-1 menugaskan 16 awak pesawat termasuk 4 penerbang bomber di bawah pimpinan Kapten Udara Sri Mulyono Herlambang ke China.

Seperti ditulis di buku “Pedet Soedarman Pengalaman Heroik Penerbang Bomber” (2000), mereka ditugaskan untuk mempelajari pengoperasian pesawat Tupolev-2 serta membawanya terbang feri ke Indonesia. 

Sementara para teknisi harus belajar dan berlatih dalam pemeliharaan dan perawatan pesawat jenis baru itu, agar senantiasa layak terbang dan siap dioperasikan. Sedang para penerbang bertugas latihan terbang transisi serta terbang feri dari daratan China ke Indonesia.

Penerbangan ke Kunming melalui Mandalay (Burma) dilakukan dengan pesawat Avia-14 dengan pilot Kapten Udara Pribadi dan LU I Hamsana. 

Penerbangan dari Mandalay ke Kunming dilakukan pada ketinggian 15.000 kaki selama kurang lebih 4,5 jam. Selama di udara, para penerbang dan penumpang harus menggunakan oksigen. 

Namun karena terbatasnya persediaan oksigen, hanya awak pesawat yang memasang oksigen secara terus menerus. Sedangkan penumpang hanya menggunakannya sekali-sekali secara bergantian, sehingga kepala sering pusing, kering, dan berat. 

Sebagian besar penumpang tidak tahan terbang tinggi tanpa oksigen hingga tertidur. Kecuali Kapten Udara Suwondo dan LU I Pedet Soedarman, yang mampu bertahan dan sambil berjalan ke sana ke mari, keduanya berusaha menghilangkan rasa kering di kepala. 

Setelah mendarat, para penumpang seperti tidak sabar untuk ke luar dari pesawat agar bisa menghirup udara segar, supaya bisa segar kembali. 

Setiba di China, anggota Skadron-1 sebagai Trainee, ditempatkan di Pangkalan Udara Liu Tung Provinsi Sian. 

Pada awalnya mereka harus belajar teori di ground school. Para instruktur dari Angkatan Udara China sepenuhnya  berbahasa China. Padahal tidak ada seorangpun dari awak pesawat Skadron-1 yang dibekali kemampuan berbahasa China. 

Untunglah, dari pihak China disediakan seseorang yang bertugas menerjemahkan pelajaran dan instruksi para instruktur. Dari Bahasa China ke Bahasa Inggris. 

Pelajaran teori tentang pengoperasian pesawat Tu-2 dianggap cukup setelah berlangsung selama kurang lebih satu bulan hingga Desember 1958. Kemudian dilanjutkan latihan terbang transisi, selama kurang lebih 2 bulan hingga Februari 1959.

Berbeda dengan sewaktu di sekolah penerbang, di Skadron maupun dalam berbagai penerbangan operasi yang selalu menggunakan bahasa dan istilah penerbangan internasional yaitu Bahasa Inggris. Khusus di China harus menggunakan bahasa penerbangan China. 

Berbagai istilah baku bagi penerbangan seperti take off, landing dan sebagainya termasuk pengaturan lalu lintas udara, seluruhnya menggunakan Bahasa China.

Karenanya sebelum terbang transisi, para penerbang Skadron-1 terlebih dahulu harus menghafalkan seluruh istilah penerbangan dalam Bahasa China. 

Selama berlatih terbang transisi ke pesawat Tu-2 buatan Rusia itu, mereka harus menggunakan bahasa penerbangan China. 

LU I Pedet Soedarman didampingi instruktur penerbang Letnan Ming. Salah satu yang cukup menarik perhatian Pedet Soedarman adalah, keharusan satu set kru pesawat Tupolev-2 untuk selalu berkumpul menjadi satu kelompok. Baik saat di asrama, tidur, makan, olahraga, dan rekreasi. 

Hal yang sama juga harus dilakukan penerbang dan awak Skadron-1 selama berlatih di China.

Setiap kali mendapat kesempatan refreshing olah raga, mandi air panas, dan rekreasi. 

Menjelang terbang transisi, setiap awak pesawat diharuskan memakai jaket kulit dan sepatu lars yang cukup tebal. Waktu itu sedang musim dingin, suhu udara dapat turun sampai 5 derajat Celcius. 

Penerbangan tanpa menggunakan jaket kulit dan sepatu lars tebal, dapat mengganggu kondisi kesehatan awak pesawat. Bahkan bisa berakibat fatal bagi awak maupun operasi penerbangan itu sendiri.

Begitu program terbang transisi selesai dilaksanakan dan seluruh trainee dari Skadron-1/Pembom Taktis dinilai sudah mampu mengoperasikan, mereka harus membawa pulang 12 pesawat Tupolev Tu-2 secara feri. 

Keempat penerbang bomber bersama empat set kru Skadron-1/Pembom Taktis itu, masing-masing harus terbang feri sebanyak tiga sorti.

Menjelang terbang pulang ke tanah air, diadakan malam perpisahan. Repot juga bagi mereka karena masing-masing diharuskan mengisi atraksi untuk memeriahkan acara. 

Pedet Soedarman bersama seorang temannya, Kapten Suwondo, menampilkan pencak silat yang pernah dipelajari sewaktu sekolah di HIS awal tahun 1940-an. Tentu saja banyak langkah dan gerak yang tidak tepat, tetapi justru menjadi lucu. 

Lain halnya Kapten Udara Sri Mulyono Herlambang, dengan asyiknya memainkan accordion (hand harmonica) mengiringi tari Lilin yang dibawakan teman-teman. 

Walaupun berbagai atraksi yang disajikan anggota AURI di hadapan para instruktur China sangat sederhana dan terkesan seadanya, tetapi suasana menjadi sangat meriah. 

Tepuk tangan semakin ramai sewaktu penari Lilin amatiran antara lain Kapten Sugandi berputar tangan, tiba-tiba nyala lilin padam dan cawan lilin berjatuhan ke lantai.

Unik memang. Pesawat bomber buatan Rusia dibeli di China, terbang transisi dengan bahasa penerbangan China dan tari Lilin dengan cawan dan lilin pada berjatuhan, justru disambut tepuk tangan meriah.

Sedikit mengupas masa lalunya, Tu-2 diperoleh China dari Soviet sebagai hibah untuk Perang Saudara China. Oleh China dioperasikan hingga tahun 1970-an.

Hanya saja setibanya di Indonesia, umur Tu-2 Bat sangatlah singkat. Karena itu kehadiran pesawat ini nyaris terlupakan dalam sejarah TNI AU. Tragisnya, ada yang menyebut Tu-2 hanya dioperasikan setahun saja oleh AURI. 

Katanya persoalan teknis jadi biang pendeknya umur Tu-2 di Indonesia. Mesin dinilai kurang cocok di iklim tropis.

Namun apapun itu, Tupolev Tu-2 Bat pernah menjadi salah satu aset pembom TNI AU yang dalam kurun itu sangat ditakuti. 



Komentar