SEJARAH

Ini Kata Menhub Rooseno Usai Lantik 16 Pilot Akademi Penerbangan Sipil Tahun 1954

Minggu, 12 April 2020 13:12
Penulis : Beny Adrian
Ini Kata Menhub Rooseno Usai Lantik 16 Pilot Akademi Penerbangan Sipil Tahun 1954

Sumber: @penerbangstpicurug

Angkasa.news – Mari sejenak kita buka lembaran sejarah dunia penerbangan nasional. Apalagi bulan April ditetapkan sebagai Hari Penerbangan Nasional, selain menjadi hari besar bagi TNI AU. 


Dikutip dari Majalah Angkasa Th. V Januari 1954, dijelaskan keputusan pemerintah terkait pendirian industri penerbangan nasional. Begini beritanya ditulis.

Pemerintah beranggapan, bahwa untuk sementara ini pembentukan kader pegawai penerbangan dan mendatangkan alat-alat yang diperlukan dari luar negeri adalah lebih baik daripada mendirikan suatu pabrik pesawat terbang. 

Untuk sementara ini hal tersebut belum dipikirkan. 

Kecuali kita tidak mempunyai deviezen (devisa) untuk kita, kita juga tidak mempunyai tenaga-tenaga ahli yang cukup. Demikian Menteri Perhubungan Ir. Roosseno (12 Oktober 1953 - 12 Agustus 1955) dalam suatu percakapan dengan PI- Aneta.

Menteri memberikan keterangan tersebut sebagai jawaban atas pertanyaan mengenai pendapatnya mengenai pernyataan antara lain dari pihak GIA pada waktu penyerahan wing kepada 16 calon yang telah menempuh pendidikannya pada akademi penerbangan sipil dengan hasil baik.

Bahwa adalah baik sekali, apabila disamping pendidikan penerbang, Indonesia juga mempunyai pabrik pembuatan pesawat-pesawat terbang.

Pemerintah menaruh perhatian yang sepenuhnya terhadap perkembangan penerbangan sipil di Indonesia.

Guna pendidikan pegawai-pegawai penerbangan di Indonesia, kementerian perhubungan dibantu suatu misi ICAO (Organisasi Penerbangan Sipil Internasional) terdiri dari 14 anggota. 

Para anggota misi yang dipimpin oleh Vandiver, bertindak sebagai instruktur atau dipekerjakan pada Dinas Penerbangan Sipil Kementerian Perhubungan.

Kira-kira 300 orang kini menerima Pendidikan pada Akademi Penerbangan Sipil. Kira-kira setahun yang lalu, Oktober 1952, telah dimulai pendidikan penerbang Indonesia yang diikuti oleh 30 orang. 

Meskipun untuk penerimaan mereka telah dilakukan seleksi yang keras, namun selama waktu pendidikan masih ada beberapa orang yang keluar. Akhirnya 16 orang telah menempuh ujian dengan hasil memuaskan.

Ke-16 orang yang telah lulus itu menerima wing dari tangan Menteri Perhubungan Prof Ir R. Roosseno. Termasuk di dalam Angkatan pertama yang menerima pendidikannya seluruhnya di Indonesia.

Mereka telah menjalani 100 jam penerbangan dengan pesawat-pesawat terbang bermotor satu. 

Pada akhir tahun ini mereka akan mendapatkan kesempatan untuk mendapatkan Commercial Pilot Licence, yakni apabila mereka dapat menempuh 250 jam penerbangan. 

Mereka dalam hal itu akan dipekerjakan sebagai kopilot di dalam dinas penerbangan sipil.

Untuk tahun kursus yang baru telah terdaftar 36 orang untuk dididik menjadi penerbang. Pendidikan lengkap di Indonesia telah dapat dimulai dalam tahun 1953 dengan bantuan ICAO.

Meski tidak disebutkan secara gamblang, akademi penerbangan sipil dimaksud di tulisan Angkasa ini tentu saja Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia Curug (STPI Curug) yang berada di Curug, Tangerang, Provinsi Banten. 

STPI Curuh merupakan salah satu perguruan tinggi kedinasan yang berada di bawah Kementerian Perhubungan.

Sekolah penerbangan plat merah ini semula didirikan di daerah Gempol di Kemayoran pada 1952.

Sekolah ini diberi nama Akademi Penerbangan Indonesia (API). Pada 1954, API dipindahkan dari Jakarta ke kampusnya yang baru di wilayah kecamatan Legok, Tangerang.

Pada 1969, API berubah nama menjadi Lembaga Pendidikan Perhubungan Udara (LPPU). Pada 1978, berubah nama lagi menjadi Pendidikan dan Latihan Penerbangan (PLP) yang merupakan Unit Pelaksana Teknis dari Badan Diklat Perhubungan.

Pada 2000, PLP Kembali bersalin nama menjadi Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia (STPI) hingga saat ini. Keberadaan STPI didasari oleh Keputusan Presiden RI dan Menteri Perhubungan.

Saat ini para penerbang terhimpun dalam komunitas IPAC (Ikatan Penerbang Alumni Curug) 



Komentar