KOMUNITAS

Terjun Payung Itu Mengasyikkan Loh, Loncat Yuk....

Senin, 13 Mei 2019 12:30
Penulis : Beny Adrian
Terjun Payung Itu Mengasyikkan Loh, Loncat Yuk....

Asyiknya olahraga terjun payung, sambil melayang menikmati indahnya alam. Sumber : dok. Ardya Rifiantara

Angkasa.news - Terjun payung adalah salah satu cabang olahraga yang sangat digemari. Siapa yang tidak senang bisa melayang di udara bak burung terbang bebas, yang sudah jadi impian manusia sejak dahulu kala.

Saking enaknya, tak heran mantan Presiden Amerika Serikat George Bush sampai merayakan ulang tahun ke-90 dengan terjun bebas tandem (free fall).

Namun sayangnya hobi yang satu ini relatif mahal untuk digeluti orang Indonesia. Karena cukup banyak peralatan harus dimiliki sendiri. Kalau dihitung-hitung bisa mencapai Rp 150-an juta.

Mulai dari helm, google, parasut, dan baju terjun alias jump suit. Belum lagi kalau sudah doyan, kamera sejenis gopro wajib pakai.

Beda di Indonesia lain lagi di mancanegara. Secara umum olahraga terjun payung terus tumbuh dan sangat berkembang. Begitu juga soal prestasi, semakin bertambah nomor-nomor pertandingan baru. Mulai dari swooping, wingsuiting sampai speed skydiving.

Begitu juga di kalangan pehobi, semakin banyak teknik terbang yang diminati penerjun.

Khususnya setelah tersedia Indoor Skydiving (wind tunnel), semakin banyak yang mendukung peningkatan kemampuan penerjun.

“Indonesia terus mengikuti perkembangan yang cepat di luar. Meski tidak secepat perkembangan yang ada. Tapi mulai tumbuh penerjun-penerjun yang berkemampuan wingsuit, swooping, freefly, yang banyak dibantu fasilitas wind tunnel yang dimiliki TNI,” urai Ardya Rifiantara sebagai Humas Pordirga Terjun Payung PB FASI.

Berdasarkan data Pordirga Terjun Payung PB FASI, saat ini setidaknya ada 1.000 penerjun aktif di Indonesia, dengan seperempatnya adalah atlet.

Mereka berasal dari seluruh klub dan pengurus daerah, campuran dari anggota TNI, Polri, dan sipil. “80 persen memang masih dari TNI dan Polri,” aku Ardya. Namun demikian, menurut Ardya, penerjun sipil terus bertambah yang menjadikannya sebagai hobi.

Terjun payung relatif mahal, namun Anda akan ketagihan jika sudah mencobanya. Foto: dok. Ardya Rifiantara

Terjun payung relatif mahal, namun Anda akan ketagihan jika sudah mencobanya. Foto: dok. Ardya Rifiantara

Putra wartawan senior yang juga penerjun Effendi Soen ini mengakui, kendala utama mengembangkan terjun payung masih dari soal minat dan biaya. Menurut Ardya, ada yang berminat tapi tidak punya biaya. Kebalikannya, ada yang punya uang tapi tidak ada minat. Olahraga terjun payung sangat menantang, sehingga tidak semua berani menjalaninya.

Selama ini perkembangan terjun payung di Indonesia tidak lepas dari peran TNI AU sebagai pembina utama, terutama dalam hal dukungan pesawat. Sebaliknya di luar negeri, terjun payung begitu mudah dilaksanakan karena tersedianya pesawat dalam jumlah banyak dari kalangan pehobi sendiri.

Terkait biaya, tidak bisa dipungkiri terjun payung adalah olahraga mahal. Faktor utama dikarenakan kebutuhan pesawat untuk melakukan penerjunan. Biaya terbesar untuk menjadi penerjun terutama dari biaya kursus di awal.

“Biayanya bisa lebih dari Rp 20 juta. Namun setelahnya ketika sudah menjadi penerjun solo, biaya per penerjunan di bawah Rp 1 juta,” kata Ardya lagi.

Ardya memastikan kepada siapapun yang berniat menyukai terjun payung, untuk tidak terlalu memikirkan biaya terutama soal kepemilikan parasut. “Nanti bisa pinjem, kok,” ujarnya yakin.

Menyikapi biaya yang mahal, Ardya buka kartu bahwa penerjun biasa menyiasatinya dengan menabung. Soal mahalnya biaya kursus terjun payung, menurut Ardya, justru Karena untuk menjamin keselamatan penerjunnya sendiri. “Keselamatan tidak bisa ditolerir dengan membuat biaya lebih murah,” sergapnya.

Ardya juga memberikan tips kepada yang serius berminat, untuk rajin-rajin gaul dengan pengurus daerah terjun payung. “Pengurus daerah biasanya membuka penjaringan penerjun baru,” ulasnya.

“Kalau dibilang kurang minat juga tidak tepat. Karena banyak yang bertanya ke penerjun. Tapi kebanyakan mundur setelah tahu berapa biayanya,” imbuh Ardy.

Pada tahun 2016-2018 sempat beroperasi satu-satunya Pusat Olahraga Terjun Payung Umum di Indonesia di Bandara Nusawiru, Pangandaran, Jawa Barat. Lagi-lagi karena kendala pesawat, akhirnya terpaksa tutup operasi.

Kepada masyarakat yang ingin mencoba olahraga terjun payung, Ardya Rifiantara menyarankan untuk mengintipnya di akun instragram @skydive.indo. Bisa juga menghubungi Pordirga Terjun Payung PB FASI di nomor telepon 0857-9724-8331.

So, tunggu apa lagi? Loncat yuk....



Komentar