KOMUNITAS

Bentuk Apresiasi kepada Teknisi, Panglima TNI Resmikan Monumen MiG-17 di Malang

Sabtu, 14 September 2019 10:45
Penulis : Beny Adrian
Bentuk Apresiasi kepada Teknisi, Panglima TNI Resmikan Monumen MiG-17 di Malang

Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto saat meresmikan monumen MiG-17 di Malang. Sumber: Puspen TNI

Angkasa.news - Di antara pesawat buatan Uni Soviet yang pernah dioperasikan AURI (TNI AU) tahun 1960-an adalah MiG-17 Fresco. Kehadiran pesawat tempur subsonik ini menjadikan AURI sebagai angkatan udara terkuat di belahan bumi selatan.

Pasalnya MiG-17 baru terlihat  untuk pertama kali tahun 1958 dalam "Krisis Selat Taiwan Kedua" dan kemudian terbukti menjadi ancaman nyata terhadap pesawat tempur supersonik AS dalam Perang Vietnam. 

Guna melestarikan kehadiran MiG-17 dalam sejarah TNI AU, sebuah monumen MiG-17 Fresco nomor 1130, diresmikan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto di Komplek Pagas, Singosari Malang, Jawa Timur, Jumat (13/9).

Dalam peresmian di komplek TNI AU yang menjadi kenangan masa kecil Marsekal Hadi di Malang, turut hadir KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna dan Wakasau Marsdya TNI Fahru Zaini Isnanto. 

Dalam sambutannya Panglima TNI menyampaikan terima kasih dan apresiasi kepada Danlanud Abdurahman Saleh Marsma TNI Hesly Paat yang telah melakukan renovasi monumen MiG-17 dan mempercantik kawasan monumen.

“Monumen MiG-17 yang berada di Kompleks Pagas ini menjadi destinasi wisata baru yang indah dan banyak dikunjungi masyarakat,” ujar Hadi.

“Dengan diresmikannya monumen pesawat MiG-17 Fresco menjadi bagian dari sejarah, sekaligus bentuk penghargaan kepada para teknisi karena dari tangan para teknisi overhaul engine pesawat MiG-17 berjalan sempurna. Monumen MiG-17 ini didekasikan untuk para teknisi yang berjasa dalam rangka menjaga keutuhan NKRI,” ungkap Marsekal Hadi.

Seperti diketahui, orang tua Marsekal Hadi yaitu Serka (Pur) Bambang Soedarto, adalah teknisi pesawat MiG yang masuk AURI tahun 1957. 

Monumen MiG-17 Fresco di di Komplek Pagas, Singosari Malang. Sumber: Puspen TNI

Di sisi lain Panglima TNI menceritakan tentang sejarah revolusi industri. Dimana revolusi industri pertama itu terjadi saat manusia menemukan mesin uap dan revolusi industri kedua adalah saat manusia dapat menciptakan ruang pembakaran.

"Terciptanya ruang pembakaran ini yang dimanfaatkan manusia dengan mengganti alat tempur bertenaga piston dengan tenaga jet,” ucapnya.

“Waktu itu di Indonesia memang belum bisa mengubah teknoligi itu. Tapi Presiden Sukarno memiliki visi dan misi yang sangat jauh ke depan, dengan mendatangkan teknisi dari luar negeri. Para teknisi inilah yang kemudian melakukan overhaul pada engine sehingga pesawat milik TNI menjadi pesawat modern saat itu,” katanya.

Sebelumnya Panglima TNI juga meresmikan monumen MiG-17 di Alun-alun Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah (6/4).

Melestarikan pesawat-pesawat yang pernah memperkuat TNI AU di masa lalu, menjadi salah satu program besar Marsekal Hadi sejak menjadi KSAU.

Seperti diketahui, Marsekal Hadi telah menata-ulang museum Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala di Lanud Adi Sucipto Yogyakarta sehingga memiliki koleksi pesawat terbanyak di Asia Tenggara. 



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.