HOT NEWS

Mengenang Capt. Toos Sanitioso: Anak CPM Jago Aerobatik Helikopter yang Pernah Dipunyai Indonesia 

Sabtu, 15 Februari 2020 10:25
Penulis : Beny Adrian
Mengenang Capt. Toos Sanitioso: Anak CPM Jago Aerobatik Helikopter yang Pernah Dipunyai Indonesia 

Cover buku Toos Pilot Uji Helikopter.

Angkasa.news - Boleh jadi, siapa tak kenal Capt. Antonius Toos Sanitioso, pilot helikopter kawakan yang pernah menjadi Kepala Departemen Flight Test Center di IPTN (Industri Pesawat Terbang Nasional, sekarang PT Dirgantara Indonesia, PTDI) dan jebolan International Test Pilot, Cranfield, Inggris.

Born to fly, memang sudah bakat yang diberikan Illahi kepadanya hingga memiliki talenta begitu hebat sebagai penerbang. Bertahun-tahun Toos menjadi penerbang VIP untuk Prof. BJ Habibie.

Pria bertubuh besar dan senang ngobrol ini wafat pada 6 September 2016. Pada 20 Maret 2018, sang istri, Irene Anggraini meluncurkan buku “Toos Pilot Uji Helikopter”. angkasa.news pun terkenang alamarhum Toos, yang beberapa kali ditemui baik sebagai narasumber maupun sekadar ngopi siang.

Capt. Toos senang sekali bercerita soal masa lalunya, saat terbang dan pengalaman lainnya yang pernah dimuat di majalah Angkasa.

Seperti waktu mengikuti sekolah terbang di Cranfield, terbang halus ternyata ditegur instruktur. 

“Saya terbangkan pesawat selembut mungkin, instruktur marah: Don't treat the aircraft like a lady! Because you will not find anything from there. I will show you tomorrow!" Ketika instruktur mendemonstrasikan esok harinya, “kacau” sekali terbangnya.

Pesawat bermanuver sekacau-kacaunya. “Kalau gini sih gue juga bisa,” gumamnya dalam hati.

Antonius Toos Sanitioso lahir di Purwakarta, Jawa Barat pada 8 September 1950. Toos adalah alumni Teknik Sipil Universitas Parahyangan (Unpar), 1974.

Untuk menjadi penerbang, tidak mudah baginya. Orang tuanya tidak mendukung, cenderung melarang. Sampai tes pilot Garuda pun ia batalkan. Menurut orang tuanya, anak tunggal laki-laki tidak boleh jadi pilot, pamali. 

Perkenalan Toos dengan dunia dirgantara diawali dengan Terbang Layang. Saat kuliah di Bandung ia kost berdampingan dengan mahasiswa ITB yang atlet olah raga dirgantara. Dari sinilah ia diajak ikut nongkrong di klub Aviantara Bandung.

Dari hanya melihat terbang, akhirnya Toos mencoba pesawat tak bermotor ini. Di luar dugaan, anak CPM Angkatan Darat ini gandrung dalam sekejap. 

Meski ngumpet dari orang tua, akhirnya ketahuan juga. Pada 1974, ia memperkuat Bandung dalam kejuaraan Terbang Layang di Pacitan, Jawa Timur. Toos meraih juara dua nomor duration flight, dan namanya muncukl di koran.

Kompas memuat beritanya di halaman pertama. Orang tua saya membacanya di Jakarta. Mereka melakukan pengecekan dengan menelepon saya.” Toos kena damprat. Ibunya tidak senang. "Tapi, sudahlah, mau apalagi," pikir Toos saat itu. 

Identik helikopter 

Sebagai pilot uji helikopter, Toos mampu membuat orang berdecak kagum melihat manuvernya. Jika sudah duduk di kokpit Bolkow, heli mungil nan lincah itu mendadak seperti mainan. Berjumpalitan dan di ketinggian rendah.

Angkasa pernah menyaksikan sendiri aksinya dengan BO-105 Bolkow saat Jambore Aero Sport di Bandara Halim Perdanakusuma sekitar akhir 1990-an.

Meski dibilang pilot aerobatik helikopter satu-satunya di Indonesia, ia merasa biasa. "Soal kesempatan saja. Mudah, semua bisa melakukannya. Dulu saya mendapat latihan dari pilot-pilot MBB (Messerchmitt Bolkow Blohm) Jerman. 

Bicara aerobatik helikopter, memang tidak seperti aerobatik pesawat sayap tetap. Ia memberi catatan, manuver tidak begitu dipentingkan di sini. Yang utama ditonjolkan adalah kelincahan (agility). 

"Misal heli mampu turning demikian tight dengan kecepatan 100 knot. Lingkarannya sempit sekali, tapi rotor masih berfungsi. Yang lainnya mendapatkan ketinggian secepat mungkin. Jadi sekitar wing over atau steep turn," urai Toos yang mengaku BO-105 adalah heli yang paling nurut untuk 'ditekuk-tekuk'. 

Namun sarannya, menerbangkan heli harus mewaspadai dua hal. Efek aerodinamika dan efek giroskopik yang sangat dominan akibat rotor yang besar.

Capt. Toos mengantongi rating helikopter Bell-412, Bell-407, Bell-430, BK-117, BO-105, juga CN-235, CASA-212, N-250 dan telah menerbangkan lebih dari 27 jenis pesawat. 

Kata orang menerbangkan heli gampang, mendarat bisa vertikal. "Padahal vertikal sekali tidak boleh, kalaupun dilakukan harus hati-hati. Bila heli terjerembab ke dalam wash, salah satu jalan keluarnya harus maju. Tapi itu kan kalau ketinggian masih cukup, kalau sudah rendah?”

No body perfect, Toos juga pernah celaka. "Kejadiannya di Manado tahun 1983. Masih kopilot, baru sekitar 200 jam terbang. Take off dari Bandara Sam Ratulangi, baru beberapa detik, di ketinggian 10 meter tiba-tiba heli mengguling ke tanah. Total loss . Heli hancur terbakar. Untung hanya luka ringan," cerita Toos yang baru mengantarkan Habibie. 

Lain waktu bersama Capt Darmawan (kolonel purnawirawan) di Bandara Husein Sastranegara. Saat itu rotor belakang heli dibelit benang layangan. "Saat hover mestinya heli berhenti, tapi ini malah menungging. Kami counter dengan pedal tidak ada hasil apa-apa. Pak Darmawan teriak: hilang! hilang! Beruntung kami selamat juga mendarat." 

Atas kejadian itu pilot-pilot IPTN lapor ke Komandan Pangkalan.

"Kami undang makan malam lurah-lurah di situ, juga karang taruna. Kami sampaikan bahayanya bermain layangan di sekitar bandara. Dua bulan setelah kejadian itu tidak ada lagi yang main layangan. Tapi setelah tiga bulan, malah lebih banyak layangan.” 

Persisnya 1980, Toos mulai bekerja di IPTN. 

"Dulu istri sempat pesimis. Karena untuk membayari hobi terbang, uang saya hampir habis. Bahkan waktu masih kuliah, saya melego motor Yamaha 125 untuk ujian PPL. Saya pikir bagaimana nanti saja lah, yang penting ikut ujian dulu," tandasnya.  Diakui Toos, orang yang sudah kecanduan terbang, apapun akan ia korbankan untuk hobinya. 

Setelah belajar Terbang Layang dan menjadi atlet, Toos berusaha menerbangkan pesawat bermotor. PPL ia dapatkan dari Aviantara Bandung, ground CPL dari PLP Curug dan CPL FAA dari Sierra Academy (sudah bergabung di IPTN). 

Bekerja di IPTN sebenarnya kebetulan. Toos sebagai manajer proyek pembangunan Tower House di IPTN bertemu Mursanto dan Suwondo, yang kala itu direktur IPTN. Mereka tanya, "Kamu masih punya license?" Toos mengiyakan. 

"Kalau begitu ngapain kamu ngebayarin hobi kamu sendiri? Di IPTN kamu bisa terbang sepuasnya," kata mereka.

Maka dengan gaji Rp 120.000 per bulan, bergabunglah ia menjadi pilot IPTN yang saat itu kekurangan pilot. Empat pilot TNI AU ditarik ke angkatan udara. Padahal produksi Bolkow tengah tinggi-tingginya. 

Toos dikirim ke International Test Pilot, Cranfield, Inggris. Dua tahun sebelum berangkat ia diwajibkan kuliah non degree selama dua tahun di jurusan Teknik Penerbangan ITB. Maklum, bila tidak siap dengan ilmu dasarnya mengikuti pendidikan di sana bisa keteter. Apalagi seleksi penerimaannya sangat ketat. 

Pendidikan satu tahun di Cranfield berhasil dituntaskan Toos. Saat di Cranfield, Toos sempat putus asa dan berniat mundur. Beban pendidikan sangat tinggi serta instruktur yang tidak kenal kompromi jadi alasannya. "Bahasa Inggris salah sedikit saja langsung dicoret merah," terang Toos. 

"Sudahlah, saya mundur saja, saya tidak tahan. Tidak jadi pilot juga masih bisa hidup. Ngapain saya ke sini," Toos mengeluh kepada istrinya. Beruntung istrinya sabar, terus memberikan dorongan semangat. "Sudahlah, kan sedikit lagi. Asal lulus juga tidak apa-apa." 

Kata orang pilot uji risikonya dua kali lipat. Toos tersenyum. "Semua yang dilakukan pilot uji sudah terencana. Meski begitu, logis juga. Misalnya, bila pilot airline tidak boleh masuk stall, kami malah bisa melakukannya 60 kali sehari dengan konfigurasi berbeda-beda."

Menurutnya, dari tingkatan pilot uji (produksi, pengembangan, eksperimental), pilot uji eksperimental relatif punya risiko lebih besar. 

Karena pilot uji melakukan hal yang orang lain belum melakukannya. Seperti terbang perdana N250. Semua parameter baru diprediksi. Tapi apakah betul semua itu? Kan semua baru prediksi.

"Di helikopter juga melakukan uji high velocity diagram. Yakni kurva ketinggian versus kecepatan aman. Misal pada ketinggian lima kaki kecepatan maksimum harus berapa. Kurva ini disebut juga dead man curve. Artinya, dimana kita melanggar kita akan mati," ujar Toos yang dulu hobi memasak bareng di akhir pekan bersama Erwin. 

Toos mengaku prihatin karena orang Indonesia masih melihat industri dirgantara sebagai sesuatu yang wah. "Akhirnya banyak yang skeptis dengan mengatakan belum waktunya aviation industry dikembangkan di sini." 

Sebagai orang PTDI, ia punya harapan agar industri ini menitikberatkan pada pembuatan pesawat kecil sekelas Caravan.

"Kalau teknis tidak ada kesulitan bagi PTDI. Tinggal investornya saja. Pesawat kelas ini sangat visible bagi Indonesia," aku Toos saat itu.

Karena cintanya kepada dunia penerbangan, Toos selalu berupaya hadir dimana event dirgantara berlangsung.



Komentar