HOT NEWS

Marsda TNI Nanang Santoso: Zero Torture Program, Pembentukan Karakter, dan Hadirkan Figur di AAU

Sabtu, 22 Februari 2020 12:10
Penulis : Beny Adrian
Marsda TNI Nanang Santoso: Zero Torture Program, Pembentukan Karakter, dan Hadirkan Figur di AAU

Gubernur AAU Marsda TNI Nanang Santoso. Sumber: beny adrian/ angkasa.news

Angkasa.news – Jika Anda sudah sering datang ke Akademi Angkatan Udara (AAU) yang berada di depan Bandara Adi Sucipto, Yogyakarta, mungkin merasa biasa-biasa saja. 

Tidak ada perbedaan khususnya secara fisik. Jalannya juga masih sama, melewati terowongan kecil dan melihat persawahan dan sungai di sisi kiri jalan sebelum memasuki gerbang Kesatriaan Mako AAU. Ok, cukup jelas.

Namun tidak demikian jika kita mulai berbicara dengan Gubernur AAU Marsda TNI Nanang Santoso. 

Penerbang pesawat tempur F-5E/F Tiger II kelahiran Mataram, 10 Juli 1964 yang kalau di udara dikenal dengan callsign “Scorpio” itu mengatakan bahwa pendidikan di AAU sudah tidak lagi mengenal violence dan torture. “Zero torture program, tidak ada pemukulan dan kekerasan lainnya,” aku Nanang. 

Pendidikan taruna AAU sekarang lebih dititikberatkan kepada pembentukan karakter. 

Saat ini terpasang setidaknya 25 CCTV di sejumlah sudut kampus AAU, memonitor seluruh kegiatan taruna. Tidak ada lagi tempat yang bisa dimanfaatkan para senior untuk "menindak" yuniornya. Gubernur AAU bisa melihat langsung dari ruang kerjanya. 

Untuk membentuk karakter, Mako AAU menerapkan sejumlah aturan baru. Selain itu juga sedini mungkin menggiring kesiapan taruna untuk menjadi penerbang yang hebat. Di antara langkah yang ditempuh Marsda Nanang adalah dengan menghadirkan figur, sosok penerbang di hadapan taruna.

Keyakinan itu semakin kuat saat angkasa.news diajak berkeliling AAU untuk melihat persiapan Kirab Taruna di Malioboro pada Selasa (17/2), bertemu dengan Letkol Pnb Anton Palaguna. 

Sosok “Sioux” yang dikenal sebagai penerbang F-16 dan Su-27/30 dan terakhir menjabat sebagai Komandan Skadron Udara 11, Wing 5 Lanud Sultan Hasanuddin, Makassar, saat ini dipercaya sebagai Komandan Skadron Taruna IV AAU. 

“Taruna itu butuh figur, panutan untuk mereka teladani, makanya saya minta penerbang-penerbang yang hebat ke sini untuk membantu saya, demi masa depan perwira TNI AU,” ungkap Marsda Nanang tegas.

Selain menghadirkan penerbang sebagai figur bagi taruna, Nanang pun memberikan perubahan lainnya terkait pembinaan karakter taruna. 

Dengan tidak adanya lagi kekerasan, penindakan, dan penyiksaan di lingkungan AAU, sesuai dengan arahan Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto yang menginginkan pendidikan di lingkungan Akademi TNI lebih mengutamakan pembentukan karakter dan intelijensia. 

Mencontohkan pembinaan karakter taruna, Nanang menyebutkan kewajiban shalat berjamaah di masjid bagi yang muslim. Posisi imam digilir di antara taruna tingkat IV. Sehabis shalat diwajibkan berdoa, berdzikir, dan tafakur. Angkasa juga melihat sendiri beberapa taruna membaca al Quran.

"Saya minta mereka berdoa dan mengingat wajah ibu mereka, karena ridho orang tua itu sangat penting," jelas Nanang. Namun bukan berarti pembinaan fisik berkurang.

“Bukan berarti pembinaan fisik dikurangi, tetap utama karena mereka calon prajurit, hanya saja dimodifikasi agar target yang diinginkan tercapai maksimal,” ujar Nanang.

Menurut Nanang, fisik taruna harus dibentuk. Ia menargetkan lari 2.400 meter harus 10 menit 30 detik, kalau kurang dari itu maka ada sanksi. 

“Cutinya dicabut, tidak ada pesiar, terus dia akan menjalani pembinaan,” jelasnya. Diakui Nanang, sekarang AAU sudah menerapkan model pembinaan fisik terbaru dengan meniadakan lari pagi. 

Jika sebelumnya taruna bangun pagi lalu persiapan shalat subuh dilanjutkan lari. Enerji mereka sudah terkuras sebelum akhirnya masuk kelas. Ketenangan di kelas dan udara sejuk sudah menjadi rahasia umum menyebabkan rasa kantuk yang berat. 

Sekarang aturannya diubah. Lari pagi ditiadakan dan diganti menjadi lari siang. 

“Yang ngantuk di kelas signifikan berkurang, dosen jadi senang, stamina dan endurance mereka juga meningkat karena kerapatan udara lebih renggang di siang hari,” jelas Nanang.

Modifikasi model pembinaan di AAU dilakukan bukan tanpa sebab. Saat ini taruna AAU punya tuntutan sarjana terapan pertahanan dengan beban 157 SKS yang harus dipenuhi. Nilai indeks prestasi (IP) harus di atas 2,5.

Dengan demikian, jajaran pimpinan di AAU memiliki tanggung jawab untuk menyiapkan para taruna bisa melewati tahapan ini. “Tuntutan di ruang kelas tidak bisa seperti tuntutan di zaman saya, yang seenaknya dipukul pengajar kalau ngantuk.” 

Kepada orang tua taruna juga disampaikan untuk mendukung dan mengawal pembentukan karakter calon perwira unggulan TNI AU ini, dengan tidak memberikan kemudahan dan fasilitas yang tidak sesuai aturan dan ketentuan lembaga.

Terkait pembinaan karakter dan wawasan, Nanang mendatangkan sejumlah nara sumber dari luar TNI. Hanya untuk membuka wawasan, menjadi bekal saat menjadi perwira kelak. 

Di antara yang dihadirkan adalah dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), dosen dari UNS, dan Sri Sultan Hamengkubuwono X. 

Tentu yang paling berkesan adalah saat Hamengkubuwono X berbicara di depan taruna. Nanang bercerita penuh sumringah, karena Hamengkubuwono X bersedia hadir di AAU.

“Alhamdulillah Ngarso Dalem kerasan di sini, bicara di depan taruna dan merasa AAU bagian dari Yogyakarta. Beliau ceramah di depan taruna, makan siang bersama taruna, meninjau kamar taruna di flat, dan selesai itu saya suguhkan drumband. Begitu pulang di depan Handrawina, saya suguhkan tarian Beksan Wanara,” urai Nanang senang. 

Nanang mengaku senang melakukan pembekalan seperti ini untuk taruna. Saat ini Nanang tengah berusaha mendatangkan pembicara lain yaitu Wakil Gubernur DIY dan Gubernur Ganjar Pranowo. 

“Taruna ini ladang ibadah saya. Ada 434 taruna, tanggung jawab saya untuk membentuk mereka, mereka butuh figur dan saya membentuk mereka dengan hati,” ujar Marsda Nanang Santoso mengakhiri ceritanya.



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.