HOT NEWS

Kenali Lebih Dalam Marsma (Pur) Sugandi, Satu dari Dua Alumni TALOA Keturunan Tionghoa 

Minggu, 26 Januari 2020 09:40
Penulis : Beny Adrian
Kenali Lebih Dalam Marsma (Pur) Sugandi, Satu dari Dua Alumni TALOA Keturunan Tionghoa 

Jeanny Niawati Sugandi memegang foto almarhum Marsma (Pur) Sugandi. Sumber: angkasa.news/ trisna bayu

Angkasa.news - Bagi Jeanny Niawati Sugandi, ayahanda Marsma (Pur) Sugandi adalah segalanya dan panutan bagi keluarga.

Navigator pesawat C-130 Hercules ini adalah salah satu dari 60 pemuda Indonesia yang diberangkatkan AURI pada November 1950 ke Amerika Serikat untuk menempuh pendidikan penerbang di Trans Ocean Airlines Oakland Airport (TALOA), Kalifornia.

TALOA memiliki sekolah penerbang yaitu TALOA Academy of Aeronautics di sebuah kota kecil Minterfield, Bakersfield, Kalifornia. Di kota kecil inilah para pemuda Indonesia yang kelak menjadi pemimpin TNI AU ini menjalani basic flight training dilanjutkan ke pesawat pembom B-25 Mitchel.

Sekembalinya dari Kalifornia dan lulus sebagai navigator, Letda Sugandi yang terlahir dengan nama Gan Sing Liep itu langsung terlibat dalam sejumlah misi operasi.

“Antara lain DI/TII, Permesta, Trikora, dan Dwikora. Terakhir bapak menjadi Aslog KSAU dan dimakamkan di Kalibata karena punya Bintang Sakti,” tutur Jeanny bangga. 

Mengenang sang ayah, Jeanny mengakui bahwa sosok Sugandi adalah panutan bagi anak-anak, karena disiplin dan dekat dengan keluarga. 

“Dulu kita anggap bapak keras, ternyata itu pelajaran agar disiplin. Saya bangga dengan bapak karena beliau setidaknya salah satu pahlawan Indonesia yang mengabdikan dirinya untuk negara,” aku Jeanny lagi. 

Tidak banyak yang tahu riwayat dan latar belakang kehidupan Gan Sing Liep sampai angkasa.news bertemu dengan anak sulungnya ini. 

Namun demikian, toh tidak banyak juga informasi yang bisa dikorek dari Jeanny perihal sang ayah, yang dikenalnya total mengabdi di AURI. 

“Saya juga tidak terlalu banyak tahu tentang bapak, tapi saya pernah dengar cerita dari ibu alasan bapak ikut TALOA,” ujar Jean membuka kenangan orang tuanya yang lahir di Tuban, 20 Mei 1928 itu.

Saat itu, 1950, Gan Sing Liep tercatat sebagai mahasiswa tingkat 1 di IPB, Bogor. Dalam sebuah kesempatan, sepertinya dia bertemu temannya sesama orang Surabaya yaitu Wisnu Djayengminardo. 

“Pak Wisnu ajak bapak, kan sama-sama Jawa Timur, bilang, yuk ke Amerika jadi tentara,” kata Jean. Singkat cerita dan tidak pikir panjang, Gan Sing Liep menerima ajakan temannya itu.

Mencoba menganalisa keputusan bapaknya ke Amerika, Jeanny menduga-duga karena alasan ekonomi. Setahu Jean, bapaknya berasal dari keluarga miskin di Tuban. 

“Dari kecil beliau sudah tidak punya bapak, bapaknya meninggal seminggu sebelum dia lahir, ibunya orang susah di Tuban. Akhirnya bapak hidup ngenger dari satu keluarga ke keluarga lain. Bapak sebenarnya tidak dapat kasih sayang dari ibunya karena dia paling kecil dari tujuh bersaudara,” beber Jean. 

Singkat cerita, Gan Sing Liep dan 59 pemuda lainnya berangkat ke Amerika dalam satu penerbangan yang sama.  

“Waktu itu hanya 1-2 orang yang bisa bahasa Inggris. Bahkan ada yang nggak bisa Bahasa Indonesia, bisanya Jawa,” kata Jean tertawa. Begitu pun pemberangkatan di bulan November itu, mereka langsung disambut suhu dingin yang ekstrem bagi orang Indonesia. 

Sepertinya kehadiran mereka di Kalifornia sedikit dirahasiakan waktu itu. Pemuda-pemuda Indonesia dari berbagai latar belakang itu sepertinya sengaja dipilihkan untuk berlatih di Minterfield. 

Jean yang lulusan Universitas Bakesfield di Kalifornia itu beberapa kali mengunjungi kota kecil ini. Bahkan ia pun sudah dianggap anak oleh Lilian Rea yang menjadi ibu asuh TALOA selama menempuh pendidikan penerbang. Lilian sendiri saat ini tinggal di Kalifornia dalam usia 99 tahun.

“Di kota ini kebetulan banyak orang Meksiko sehingga kehadiran TALOA tidak menyolok dan mereka jadi nyaman,” kata Jean sedikit menganalisa.

Sebagai navigator AURI (sekarang TNI AU), Gan Sing Liep langsung mendapatkan penugasan di pesawat C-47 Dakota dan kemudian Hercules. Tidak jelas waktunya, namun setelah menjadi perwira AURI, Gan Sing Liep mengganti nama menjadi Sugandi. 

Bicara kenangan bersama bapaknya, Jean kecil mengaku sering diajak bapaknya joyflight dengan Hercules

Sementara sang ibu Mariawati (wafat 18 April 2010) pernah menceritakan, betapa suaminya begitu loyal dan berdedikasi penuh terhadap pekerjaannya. 

Ketika tinggal di komplek Halim, rumah mereka memang tidak jauh dari landasan. Sehingga seakan-akan Hercules diparkir seperti mobil pribadi, tidak jauh dari rumah. 

“Bapak kalau tugas kadang malam, pesawat Hercules parkir di depan rumah karena rumah dekat landasan, sementara malam-malam ibu harus siapkan nasi bungkus untuk kru pesawat, kemudian bapak pergi untuk sekian hari,” kenang Jean.

“Bapak sering nggak pulang berhari-hari demi tugas, dan istri menanti dengan cemas,” ujarnya.

Sugandi pernah menceritakan kepada istrinya bahwa dalam misi perang, terkadang mereka tidak tidur berhari-hari. Agar tetap siaga, mereka diberi obat biar melek.

Sugandi juga menjadi instruktur navigator di Kalijati, tempat Jeanny dilahirkan. Saat itu Kalijati cukup menyeramkan, termasuk bagi para istri anggota AURI yang sering ditinggal dinas oleh suami.

Sugandi adalah satu dari dua alumni TALOA keturunan Tionghoa. Sumber: angkasa.news/ trisna bayu

Salah satu episode menegangkan dalam perjalanan hidup Sugandi yang dikenang Jeanny adalah saat terjadinya upaya pemberontakan G30S/PKI. Namun Jean mengatakan ada keberuntungan, karena pada hari kelabu itu, sang ayah yang menurutnya menjabat wakil komandan Lanud Halim, tengah berdinas di luar negeri. 

“Kami tidak tahu bapak di mana, ibu juga tidak tahu ada di mana, suasananya seram karena tentara ada di dalam rumah, tank berjejer di depan rumah karena rumah di depan pangkalan. Kalau bapak di Jakarta saat ini, mungkin ceritanya akan lain lagi,” ungkapnya. 

Selain Gan Sing Liep, di antara alumni TALOA terdapat satu nama Tionghoa lagi yaitu The Tjing Ho yang berasal dari Bandung. The Tjing Ho berganti nama menjadi Steve Kristedja. Keduanya adalah navigator di pesawat Hercules.

The Tjing Ho alias Steve Kristedja tidak menyelesaikan pengabdiannya di AURI secara paripurna. Dia mengundurkan diri tengah jalan dan hijrah ke Amerika Serikat. “Katanya ada kekecewaan terhadap AURI, tapi saya tidak tahu pasti,” ujar Jean. 

Di AS, Steve melanjutkan kuliah di perguruan tinggi dan selalu lulus dengan nilai tertinggi. Steve bekerja di perusahaan kelistrikan di AS. 

Dari 60 alumni TALOA, terdapat satu orang yang gagal dalam pendidikan. Setibanya di Indonesia, kadet ini tidak pernah lagi bergabung bersama teman-temannya di AURI. 

Menjelang akhir hayatnya, Marsma (Pur) Sugandi selalu teringat “kegagalannya” menerjunkan pasukan payung dari PGT, RPKAD, dan Kostrad dalam Operasi Trikora untuk merebut Irian Barat. 

Bagi Sugandi, ini peristiwa yang paling menyedihkan dalam kariernya karena merasa gagal menerjunkan pasukan payung pada tempatnya. Dalam beberapa kali penerjunan, sering kali pasukan tidak mendarat pada tempatnya, bahkan mendarat di di atas pohon, atau mendarat malah di atap markas Belanda, dan beberapa di antaranya gugur dalam kondisi tergantung di pohon.

Banyak yang gugur dan tergantung di pohon hingga meninggal. 

“Sebelum meninggal kepikiran, bapak merasa bersalah dengan kejadian itu, kami kemudian panggil pastor dan bapak bisa lebih tenang,” ucap Jeanny. 

Saat ini dari 60 pemuda Indonesia yang pernah dikirim ke Kalifornia untuk menjadi penerbang, tersisa dua nama saja. Yaitu Steve Kristedja dan Hapid Prawiranegra (penerbang P-51 Mustang). 

Dari pernikahannya dengan Mariawati, Sugandi dikaruniai tiga anak yaitu Jeanny Niawati Sugandi, Rocky Surya Sugandi, dan Gatot Sugandi.

Marsma (Pur) Sugandi wafat pada 30 Juni 2005 dan dimakamkan di TMPN Kalibata, Jakarta. 

“Bapak sendiri yang minta dimakamkan di Kalibata, karena itu kebanggaan bagi bapak,” ulas Jeanny menutup kisahnya. Saat ini Jeanny dipercaya sebagai Koordinator Keluarga Besar Putra Putri TALOA. 



Komentar