HOT NEWS

Kegelisahan PSAPI saat Membedah Dunia Penerbangan Nasional

Kamis, 05 September 2019 19:20
Penulis : Beny Adrian
Kegelisahan PSAPI saat Membedah Dunia Penerbangan Nasional

Foto bersama anggota PSAPI. Sumber: angkasa.news/ Beny Adrian

Angkasa.news – Mulai dari masalah teknis pesawat, kecelakaan pesawat, pembayaran asuransi penumpang korban jatuhnya B737 Max 8 JT-610 Lion Air di Karawang, kinerja Dirjen Perhubungan Udara, keberlanjutan program strategis pemerintah di bidang perhubungan udara, harapan terhadap pemerintahan Presiden Jokowi fase 2 serta harapan terhadap komunitas pemerhati penerbangan, menjadi segelintir ide dan persoalan yang disampaikan dalam diskusi bulanan Pusat Studi Air Power Indonesia (PSAPI) ke-9, Kamis (5/9).

Diskusi kali ini berlangsung di Noble House di Kawasan Mega Kuningan, Jakarta.

Bertindak selaku tuan rumah Prof. Ida Bagus Rachmadi Supancana yang dikenal sebagai ahli Hukum Antariksa dari Unika Atma Jaya, dan juga salah satu pendiri PSAPI bersama Marsekal (Pur) Chappy Hakim.

Diskusi kali mendapat surprise luar biasa karena kehadiran singkat Dr. Sheila Tobing, ahli penerbangan muda dari Unika Atma Jaya.

“Maaf saya nggak bisa lama-lama, karena mau ngajar di kampus,” ujar Sheila yang dianter ayahnya Komjen Pol (Pur) Posma Lumban Tobing.

Sheila sedikit menjelaskan tentang rumit dan uniknya teknologi drone yang lagi tren. “Bahwa prinsip aerodinamika yang kita pahami selama ini di pesawat, berubah ketika bicara drone,” urainya.

Sheila juga menjelaskan singkat kemajuan teknologi drone yang mulai mengembangkan wahana dengan sayap mengepak layaknya burung. “Disebut flapping wing,” katanya.

Dengan demikian, tambahnya, saat ini dunia penerbangan mengenal tiga terminologi yaitu fix wing, rotary wing, dan flapping wing.

Dr. Sheila Tobing. Sumber: angkasa.news/ Beny Adrian

Sheila Tobing menyelesaikan studi di jurusan teknik penerbangan berturut di ITB, Nanyang Technological University, dan meraih doctor di University of New South Wales di Australia.

“Dia meraih doktor dalam usia 28 tahun,” ujar sang ayah Posma Tobing bangga, disambut tepuk tangan semua yang hadir.

“Kita bangga melihat anak muda seperti Sheila, tidak banyak yang seperti ini,” ungkap Chappy Hakim sebagai inisiator PSAPI yang selalu didaulat menjadi moderator diskusi.

Selain Sheila, diskusi PSAPI juga dihadiri ahli hubungan internasional dan analis militer Dr. Kusnanto Anggoro serta praktisi general aviation Marsdya (Pur) Eris Herryanto.

Pada pertemuan kesembilan ini, Chappy kembali menyampaikan harapan besarnya terhadap eksistensi PSAPI sebagai wadah berkumpulnya para pemerhati kedirgantaraan.

Chappy sejatinya berharap PSAPI bisa menerbitkan buletin per tiga bulan yang berisi intisari diskusi bulanan. Termasuk menerbitkan buku di pengujung tahun.

Hingga saat ini PSAPI sudah mulai menjadi “teman diskusi” pemerintah dalam mengurai benang kusut dunia kedirgantaraan. Beberapa kali anggota PSAPI diundang khusus sebagai tamu ahli oleh lembaga pemerintahan.

Seperti Kementerian Perhubungan, TNI AU, Sekretaris Negara, Lapan, dan lembaga pendidikan.

“Kita berkumpul tanpa ada kepentingan lain selain peduli penerbangan dengan latar belakang berbeda-beda, sukarela untuk datang, saya berharap komunitas ini akan menjadi think tank (wadah pemikir) dunia penerbangan di Indonesia,” ujar Chappy.

Di antara isu yang disorot Chappy Hakim dalam diskusi ini adalah soal sosialisasi arbitrase. Menurut Chappy, banyak cara untuk menyelesaikan sengketa di luar peradilan umum di antaranya dengan menempuh jalur arbitrase.

"Termasuk masalah asuransi korban Lion JT-610, kenapa tidak menempuh jalur arbitrase," ulasnya. 

Isu lain yang mengganggu Chappy adalah penggunaan uang negara (APBN) dalam pelaksanaan misi SAR, seperti jatuhnya pesawat. Menurut Chappy, misi seperti ini membutuhkan dana besar namun tidak boleh ditanggung oleh negara melainkan oleh asuransi.

Suasana diskusi ke-9 PSAPI. Sumber: angkasa.news/ Beny Adrian

Ia mencontohkan misi pencarian pesawat Malaysian Airlines MH-370 yang dana pencariannya dibebankan kepada pihak asuransi. "Prinsip asuransi, tidak ada asuransi yang rugi," kata Chappy.

Prof Supancana memberikan ilustrasi di Amerika Serikat, yang menurutnya, persoalan asuransi sangat transparan. Ia memberikan contoh industri pengeboran minyak yang harus menyiapkan klaim asuransi triliunan rupiah jika terjadi musibah. Begitu juga dengan penerbangan. 

"Pasca peristiwa WTC di Amerika, tidak ada kan asuransi yang bangkrut," tuturnya. 

Dalam bahasanya yang terkadang nyeleneh, Chappy Hakim mengungkapkan kerisauannya melihat kondisi penerbangan nasional dengan mengatakan, "Kenapa kita selalu begini dan mereka begitu," ujar Chappy.

Sampai bertemu bulan depan.



Komentar