HOT NEWS

Heli Mendarat Dalam Hujan Mortir Demi Selamatkan Kompi Lettu Sutiyoso "Manix"

Selasa, 25 Februari 2020 20:25
Penulis : Beny Adrian
Heli Mendarat Dalam Hujan Mortir Demi Selamatkan Kompi Lettu Sutiyoso

Letjen (Pur) Sutiyoso.

Angkasa.news - Satu kompi prajurit baret merah Komando Pasukan Sandhi Yudha (Kopassandha) plus belasan pejuang integrasi gabungan Apodeti dan UDT Timor Timur, terlibat kontak senjata hebat di sebuah belantara di Suai.


Pasukan Fretilin walau tak mengetahui secara pasti posisi pasukan di bawah komando Lettu Inf Sutiyoso itu, terus memberondongkan senjatanya..

Dalam kontak senjata Agustus 1975 itu, empat anak buah Sutiyoso diterjang peluru. Lazimnya dalam operasi komando, bagi anggota yang menderita luka-luka berat ditinggalkan dengan bekal sebuah granat tangan. Mereka akan bunuh diri begitu ada gelagat akan tertangkap musuh.

Namun Manix, panggilan Sutiyoso di antara pejuang, tidak tega meninggalkan anak buahnya. Alhasil, empat korban yang terluka itu digotong secara bergantian oleh teman-temannya di tengah pertempuran. Tentu saja kondisi ini amat tidak kondusif bagi kompi. Manuver mereka jadi lambat dan tidak lincah.

Kolonel Inf. Dading Kalbuadi sebagai Asisten Intelijen Komando Tugas Gabungan yang menerima laporan, segera memerintahkan kirim helikopter untuk melakukan evakuasi medik. Dalam briefing kepada penerbang Captain Bambang Irawan, Kalbuadi hanya berkata singkat. “Cari mereka sampai ketemu!” 

Ketika bergabung dalam Operasi Flamboyan (operasi combat intelligence terbatas), Irawan berstatus sebagai pilot helikopter di perusahaan carter PT. Deraya Air Service.

Sejalan disewanya sebuah helikopter Bell-206B JetRanger PK-DBB Deraya, Irawan yang mantan penerbang TNI AD berpangkat mayor, langsung ditunjuk sebagai penerbang. Tidak ada keraguan dalam diri Irawan yang sudah memiliki kualifikasi SAR Tempur dari instruktur Amerika yang berpengalaman dalam Perang Vietnam.

Dalam konteks Operasi Seroja, helikopter Deraya merupakan helikopter pertama yang digunakan. Disusul BO-105 Pelita Air Service. Setelah Dili jatuh, armada helikopter diperkuat dengan Hughes-500. Selain itu Pelita juga menambah sebuah SA-321 Super Frelon

Disebabkan alasan teknis, Super Frelon hanya muncul sebentar di Timtim. TNI AU lalu mengirimkan SA-330 Puma dan Bell UH-1 Iroquois, TNI AD mengirimkan SA-316 Alouette III dan NBO-105 yang juga dikirim TNI AL.

Mencari dan membawa pulang korban dalam sebuah pertempuran, apalagi yang bisa disebut kalau bukan sekelompok penerbang nekad dalam Perang Vietnam yang biasa dipanggil dushoff pilots. Seperti dibilang mantan penerbang UH-1 Dushoff Michael Novosel (Air&Space, April/Mei 2000), semua helikopter di Vietnam berada dalam keadaan bahaya, namun penerbangan Dushoff  lebih berbahaya lagi dari semuanya.

Sekadar menyebutkan, antara 1962-1973, 207 kru medis terbunuh selama operasi yang melibatkan sekitar 140 helikopter. Dari segi performa, Dushoff terbilang unik. Tim ini diawaki penerbang sipil atau mantan penerbang militer. 

Seperti Novosel, ia adalah mantan penerbang pembom B-29 Stratofortress dalam Perang Pasifik. Saat pensiun dari Air Force Reserve, ia berpangkat letnan kolonel. Kepergiannya dari AU AS diiringi kedongkolan. Usianya yang dibilang ketuaan dan membuatnya menjadi terlalu senior dari yang lain, dijadikan alasan memecatnya. Karena itu, Novosel memilih AD AS. 

Novosel memulai misinya pada 2 Oktober 1969. Kesuksesannya menyelamatkan 29 prajurit dari kematian dari sekitar 5.589 prajurit terluka yang dia angkut dari medan perang selama dua kali penugasan di Vietnam, membuatnya berhak mendapat pengalungan Medal of Honor. 

Namun di Timtim, Irawan bukanlah menerbangkan UH-1 (walau dia sendiri waktu di Penerbad menerbangkan UH-1) yang lebih dari 1.200 unit hilang dalam Perang Vietnam.

Sebuah Bell-206 yang sudah terbang sejak 1962 siap diterbangkannya. Lagi pula, medan yang akan dihadapinya tidaklah sekejam Vietnam. Namun Bambang Irawan tetap berhati-hati, tidak mau menganggap enteng. 

Captain Bambang Irawan dan Mayor Inf Jusman seorang SMC (SAR Mission Coordinator) dari Kopassandha, segera menghampiri helikopter Bell-206B. Pagi itu mereka bersiap menuju Suai.

Heli bergerak pasti menuju titik pendaratan. Setibanya di lokasi yang menurut informasi adalah tempat bertahannya kompi Manix, heli berputar-putar beberapa kali di ketinggian sekitar 2.000 kaki.

Irawan dan Jusman tak kunjung melihat, di mana kompi Manix. Padahal tanpa setahu kedua orang ini, Sutiyoso sudah melihat dan berharap heli segera turun. Demi keamanan, Sutiyoso tidak mengizinkan memberikan tanda. Karena bahan bakar mulai menipis, heli kembali ke Tingon, enam kilometer dari Atambua.

Setelah mengisi bahan bakar dan briefing secukupnya, heli kembali terbang. Pada sorti kedua ini Irawan membawa helinya lebih rendah. Ketinggian sekitar 500 kaki.

Tanpa menunggu lebih lama lagi, kompi Manix yang terkepung di lembah dengan berani menembakkan pistol isyarat untuk memberikan posisinya kepada tim kombat SAR. Walau disadari langkah ini berarti memberitahukan posisi persembunyiaannya kepada Fretilin, Sutiyoso sepertinya sudah tidak punya pilihan. Karena dengan kekuatan yang ada, Sutiyoso masih mampu menghadapi serangan Fretilin.

Seperti ditulis Hendro Subroto dalam bukunya Saksi Mata Perjuangan Integrasi Timor Timur (1996), helikopter terbang masuk ke lembah mendahululi Fretilin yang bergerak lewat darat ke tujuan yang sama.

Begitu sepatu helikopter (skid) menyentuh tanah, beberapa mortir jatuh di dekat heli. Bambang Irawan berteriak melalui radio, “Hai, katanya aman, ini mortir jatuh di mana-mana. Ayo, cepat bawa masuk!”

Proses evakuasi berjalan cepat. Debu beterbangan memerihkan mata. Disela-sela kewaspadaannya, Irawan dibuat kaget ketika jumlah korban yang digotong ke heli mencapai empat orang. Itupun masih ada ransel perorangan dan senjata.

Padahal JetRanger hanya mampu mengangkut lima orang. Jadi kalau ditotal ada Irawan, Jusman, ditambah empat korban, heli harus mengangkut enam orang. Over load!

Akibatnya salah seorang korban ditempatkan di ruang kargo. Untunglah bahan bakar telah berkurang, hingga memberi keyakinan kepada Irawan bahwa heli akan tinggal landas. Akhirnya di antara desingan peluru, mesin Allison 250 turboprop mengangkat heli dengan berat.

Lambat dan hampir saja heli dengan warna merah putih itu menyambar puncak pohon cemara. Keberanian Bambang Irawan akhirnya menyelamatkan keempat korban dan membuat kompi Letnan Sutiyoso kembali bergerak.

Operasi evakuasi medik lainnya adalah ketika satu tim Kopassandha terkepung Fretilin di suatu medan tempur di pantai selatan Timtim. Penerbang helikopter NBO-105 TNI AL dengan penuh keberanian menerobos masuk ke dalam kepungan untuk “mengambil” korban sekaligus mengirim amunisi.

Dalam pertempuran sengit itu, heli berhasil mendarat di posisi Kopassandha. Setelah amunisi diturunkan dan korban luka-luka dimasukkan ke dalam heli, seorang bintara memberi isyarat agar heli segera berlalu.

Namun penerbangnya yang berpangkat mayor tidak memberi reaksi. Ternyata ia telah gugur di tempat duduknya.

Dalam pengunduran, tim Kopassandha akhirnya dijempur heli Puma di pantai selatan. Dalam evakuasi medik itu, TNI AL kehilangan sebuah NBO-105.

Antara 1975-1976, operasi medik udara telah mengangkut 473 korban dari medan pertempuran ke Lanud Penfui, Kupang. Kisah keberanian prajurit TNI yang layak kita warisi dan ketahui.



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.