HOT NEWS

Eris Herryanto Berbagi Cerita Terbang Feri F-16 dari AS ke Madiun: Repotnya Kalau Mau Kencing

Minggu, 16 Februari 2020 09:30
Penulis : Beny Adrian
Eris Herryanto Berbagi Cerita Terbang Feri F-16 dari AS ke Madiun: Repotnya Kalau Mau Kencing

F-16C/D Fighting Falcon asal Skadron 16 yang berada Lanud Roesmin Noerjadin, Pekanbaru. Sumber: angkasa.news/ beny adrian

Angkasa.news – Ada desas desus Indonesia ditawari pesawat tempur F-16 Viper dari Amerika Serikat. Pergunjingan ini berawal dari tekanan AS terhadap Indonesia yang ingin mengakuisisi Su-35 dari Rusia.


AS yang tidak senang, menerapkan sanksi perdagangan melalui CAATSA (Countering America's Adversaries Through Sanctions Act), yang menjadikan berat bagi Indonesia untuk bisa keluar dari jerat AS.

Menurut sumber angkasa.news yang ditemui akhir pekan ini, solusi yang paling pas memang pesawat tempur F-16 dari Amerika. 

Sebuah laporan terpisah dari Asia Times pertengahan tahun lalu telah mengonfirmasikan bahwa Indonesia sedang mengajukan pembelian untuk 32 unit F-16V Block 72.

Bicara F-16 memang seru, karena inilah pesawat tempur yang menjadi garda terdepan di 26 negara. TNI AU sendiri sudah menerima 12 F-16 sejak 12 Desember 1989. Pesawat mendarat mulus di Lanud Iswahyudi Madiun setelah menempuh penerbangan feri dari Fort Worth, Dallas, Amerika Serikat. 

Program pengadaan F-16 Indonesia berada dibawah payung Proyek Bima Sena. Indonesia mengakuisisi 12 F-16A/B Block 15 OCU Standard dengan harga per pesawat 32 juta dolar AS. 

Sebagai persiapan kedatangan pesawat, TNI AU mengirim empat penerbang terbaiknya ke Luke AFB guna menjalani program latihan terbang.

Mereka adalah dari Letkol Pnb Wartoyo, Mayor Pnb Basri Sidehabi, Mayor Pnb Rodi Suprasodjo, dan Mayor Pnb Eris Herryanto. Keempat perwira mengikuti pendidikan selama enam bulan.

Meski kisah penerbangan feri F-16 ke Indonesia sudah ada yang menulis, namun cerita yang dituturkan sekelumit oleh pelaku yaitu Marsdya (Pur) Eris Herryanto ketika menerbangkan F-16 secara feri dari AS ke tanah air, tetap menarik disimak. 

Pesawat berangkat dari Forth Worth AFB di Dallas dengan tujuan akhir Lanud Iswahjudi di Madiun, Jawa Timur. “Itu penerbangan sangat jauh dan menantang, beruntung saya pernah mengalaminya,” ujar Eris Herryanto berkisah beberapa waktu lalu.

Rute pertama adalah dari Dallas ke Hickam AFB di Hawaii yang akan ditempuh selama delapan jam. Menurut hitung-hitungan, jarak dari Forth Worth ke Hawaii sekitar 3.752 mil atau 6.039 km.

Selama penerbangan, F-16 TNI AU masih menggunakan inisial Amerika Serikat karena alasan keamanan dan asuransi. 

Menurut Eris, mereka terbang dalam formasi dengan selalu ditemani pesawat tanker Boeing KC-135 Stratotanker milik Angkatan Udara AS. Mereka melakukan pengisian bahan bakar di udara sebanyak tujuh kali.

“Setiap kali pengisian bahan bakar sekitar 4 ton, pokoknya bahan bakar di pesawat harus selalu cukup untuk mencapai alternate base dalam keadaan emerjensi,” ujar Eris. Sore hari, mereka mendarat di Hawaii.

Marsdya (Pur) Eris Herryanto. Sumber: angkasa.news/ trisna bayu

Mereka beristirahat di Hawaii dua hari sebelum melanjutkan tahap selanjutnya ke Guam, sekitar sembilan jam terbang.

Rute kedua ini disebut paling berat, karena pesawat akan terbang sembilan jam, tujuh kali pengisian bahan bakar, dan tanpa melewati secuil pun daratan. “Alternated base-nya Pulau Midway,” kata Eris sambil menerawang.

Dituturkan Eris, penerbangan feri ini sangat membosankan. Mereka harus duduk di kursi sempit di kokpit pesawat tempur tanpa bisa bergerak bebas. Tubuh mereka diikat harness

“Paling repot itu kalau mau kencing,” kenang Wakil Ketua Harian KKIP (Komite Kebijakan Industri Pertahanan) ini.

Untuk keperluan membuang hajat ini, mereka dibekali kantong plastik kecil yang penggunaannya cukup dengan membuka tutupnya. 

Eris mengaku kagum dengan detail perlengkapan feri pesawat tempur. Kantong plastik ini berisi cairan kimia yang mengubah air seni menjadi sebentuk busa. “Jadi tidak koplak-koplak,” ujar Eris becanda sambal menggoyang-goyangkan tangannya mencontohkan.

Memang urusan satu ini bisa mengganggu kenyamanan penerbang tempur saat terbang feri. Karena itu mereka hanya diperbolehkan mengonsumsi makanan padat dan coklat untuk mengurangi air seni.

“Selama terbang nyemil coklat aja,” aku Eris yang sekarang aktif sebagai penerbang aerobatik pesawat Pitts S-2C.

Pengalaman air refueling boleh jadi istimewa dan berkesan bagi Eris dan penerbang TNI AU saat itu. Karena mereka melakukannya di wilayah udara negara lain di ketinggian 25.000 kaki. 

“Untuk mengisi bahan bakar di udara, kecepatan disamakan dengan tanker, saya bisa melihat operatornya mengatur boom agar mengarah lurus ke lubang penerima di pesawat. Di bagian atas kanopi ada indikator berwarna untuk melihat apakah sudah pas atau belum," beber Eris. 

Masih menurut Eris, proses air refueling ini cepat sekali, tidak sampai satu menit.  

Rute terakhir sangatlah menyenangkan karena akan mendarat di Lanud Iswahyudi di Madiun. Terbayang tanah air yang selalu dicintai. 

Penerbangan dari Guam ke Iswahyudi memakan waktu sekitar lima jam dengan empat kali air refueling. Pengisian bahan bakar terakhir sebelum memasuki wilayah Indonesia di Kalimantan. 

“Begitu memasuki wilayah Indonesia, pesawat tanker langsung berbalik arah, kembali,” ucap Eris.

Apakah TNI AU akan membeli F-16 Viper jika memang ada tekanan dari pemerintah AS terkait pengadaan Su-35? Kita tunggu saja.



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.