HOT NEWS

Belum Pernah Terjadi, Penjualan Senjata Api di AS Melonjak Hingga 80%

Rabu, 03 Juni 2020 18:45
Penulis : Beny Adrian
Belum Pernah Terjadi, Penjualan Senjata Api di AS Melonjak Hingga 80%

Sumber: sbs.com.au

Angkasa.news – Sejak Presiden AS Donald Trump mendorong aksi militer terhadap aksi demosntrasi warga Amerika dan kesiapan AS untuk kemungkinan menghadapi gelombang kedua Covid-19, penjualan senjata di Paman Sam mengalami lonjakan drastis. 


Dilaporkan bahwa angka penjualan senjata mencapai level "belum pernah terjadi sebelumnya".

Perusahaan riset swasta Small Arms Analytics and Forecasting, baru-baru ini memperkirakan bahwa lebih dari 1,7 juta senjata telah dijual oleh vendor AS pada Mei, mewakili peningkatan 80% dari Mei 2019.

"Sekali lagi, penjualan senjata api melonjak dengan cara yang belum pernah terjadi sebelumnya," kata Jurgen Brauer, kepala ekonom perusahaan seperti dilansir Washington Times.

"Saya akan mengatakan bahwa setidaknya dua pertiga dari jumlah rekor senjata yang terjual dalam 60 hari terakhir adalah pembeli senjata pertama," James Zimmerman, pemilik dan manajer umum Selway Armory di Missoula, Montana.

Maksudnya rata-rata pembeli adalah new customer yang sebelumnya tidak pernah menyimpan senjata api.

Pembelian senjata api diprediksi akan terus meningkat menyusul kerusuhan rasial yang terjadi di banyak negara bagian di AS saat ini. Saat ini AS menghadapi gelombang demonstrasi pasca tewasnya George Floyd pada 25 Mei silam. 

Saat-saat ini beredar foto-foto menakutkan, dimana warga AS turun ke jalan-jalan sambil menenteng senjata api (handgun) maupun senapan (rifle). Mereka beralasan untuk melindungi diri atau bisnis mereka dari aksi penjarahan.

Menurut Zimmerman, pistol kaliber 9mm paling diminati akhir-akhir ini. “Mereka merasa bahwa pemerintah tidak selalu bisa melindungi Anda."

Penjelasan lengkap atas peningkatan permintaan senjata api ini tampaknya disebabkan oleh beberapa masalah yang terjadi secara nasional di AS.

Menegaskan maraknya pembelian senjata api ini, pada April, Johns Hopkins Bloomberg School of Public Health menyoroti tingginya pemeriksaan jati diri seseorang oleh National Instant Criminal Background Check System (NICS) di bawah FBI.

NICS telah memeriksa total 6.543.155 orang pada periode Februari – Maret, yang berarti peningkatan 1,8 juta dari periode yang sama di tahun 2019.

Juga, 1.197.788 pemeriksaan latar belakang dilakukan antara 16 -22 Maret, menjadi pengajuan terbanyak dalam satu minggu sejak NICS dimulai pada 1998.

Pemeriksaan latar belakang memang bukan sepenuhnya indikasi penjualan senjata, tetapi dipandang sebagai metrik untuk permintaan senjata api. 

Laporan Johns Hopkins mencatat bahwa peningkatan permintaan dapat menyebabkan konsekuensi yang mematikan, terutama bagi calon korban pelecehan dan mereka yang berencana bunuh diri.
Saat ini dunia menyaksikan aksi massa yang belum pernah terjadi di AS, dengan dampak ekonomi dan sosial yang begitu besar.



Komentar