HANKAM

Sejarah Baru TNI AU, Penerbang Tempur Perempuan yang Meneruskan Semangat Letda Herdini dan Letda Lulu

Senin, 18 Mei 2020 19:24
Penulis : Beny Adrian
Sejarah Baru TNI AU, Penerbang Tempur Perempuan yang Meneruskan Semangat Letda Herdini dan Letda Lulu

Ibu Herdini di samping Panglima TNI dan Ibu Nanny hadi Tjahjanto, foto bersama anggota Wara yang penerbang. Sumber: angkasa.news/ beny adrian

Angkasa.news - Sejarah TNI AU diukir hari ini dengan tinta emas, begitu dilantiknya Letda Pnb Ajeng Tresna Dwi Wijayanti, S Tr (Han) menjadi penerbang tempur TNI AU.


Letda Ajeng tercatat sebagai Siswa Sekolah Penerbang (Sekbang) Angkatan ke-97 yang diikuti total 42 perwira muda TNI. Mereka dilantik hari ini, Senin (18/5) oleh KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna di Auditorium IG. Dewanto, Mabes TNI AU Cilangkap, Jakarta Timur.

Namun jika kita buka lembaran sejarah, dunia penerbangan di Indonesia sedari awal ternyata sudah memberikan peran seimbang kepada perempuan untuk berkiprah sebagai penerbang. 

Terbukti dari catatan sejarah, Angkatan Udara Republik Indonesia (AURI) sudah mendidik perempuan untuk menjadi penerbang pada tahun 1963.

Awalnya di tahun 1963 itu, AURI merekrut personel perempuan untuk dijadikan Wanita Angkatan Udara (Wara). Sebanyak 30 perempuan muda yang umumnya masih berstatus mahasiswi, ikut mendaftar kala itu.

Di antaranya Lulu Lugyati yang merupakan mahasiswi Fakultas Hukum di Universitas Padjajaran, Bandung. Pun Herdini, yang sudah aktif komunitas terbang layang di lingkungan TNI AU, sudah kuliah di Fakultas Geografi, Universitas Gajah Mada, Yogyakarta.

Dari proses seleksi, sejumlah di antara mereka dinyatakan lulus dan berhak mengikuti pendidikan Wara di Kaliurang, Yogyakarta.

Mereka inilah yang kemudian tercatat sebagai angkatan pertama Wara. Selanjutnya di tahun 1964, AURI membuka seleksi penerbang khusus untuk anggota Wara.

Dari sejumlah anggota Wara yang mendaftar, hanya tiga orang yang dinyatakan lulus seleksi Sekolah Penerbang (Sekbang) di Yogyakarta yang berlangsung selama tiga bulan.

Setelah menjalani pendidikan penerbang, di hari kelulusan (wing day) rupanya hanya dua orang yang lulus sebagai penerbang.

Mereka adalah Letnan Dua Penerbang Lulu Lugyati dan Letnan Dua Penerbang Herdini.

Mereka yang menerbangkan pesawat L-4J Piper Cub, di kemudian hari dikenang sebagai perintis penerbang perempuan di lingkungan TNI.

Herdini mengaku baru sempat terbang beberapa jam. “Tidak sampai 100 jam kok, tapi sudah solo dong,” ujar Herdini dua tahun lalu.

Sebagai bentuk penghargaan terhadap kiprah dan dedikasi kedua penerbang Wara angkatan pertama ini, Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto sengaja hadir untuk meresmikan booth display Wanita Penerbang Wara Pertama di Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla), Yogyakarta, pada 29 Desember 2017.

Peresmian ini sangat istimewa, karena salah satu penerbang Wara angkatan pertama yaitu Letda (Pur) Herdini, bisa hadir dan berbaur bersama anggota Wara yang menjadi penerbang TNI AU sebagai generasi penerus.

Mereka adalah Kapten Pnb Sekti Ambarwaty, Kapten Pnb Fariana Dewi Djakaria Putri, Kolonel Pnb Veronica Tig, dan Marsma (Pur) Hermuntarsih.

“Saya bangga bisa bertatap muka langsung dengan Ibu,” ujar Panglima TNI menyampaikan hormatnya kepada Letda (Pur) Herdini.

Sambil berseloroh Hadi mengatakan bahwa dirinya masihlah balita ketika Herdini sudah duduk di kokpit pesawat.

“Waktu ibu jadi penerbang, saya baru umur setahun, baru pintar merangkak dan ibu sudah war wer war wer,” aku Hadi mengistilahkan war wer war wer sebagai terbang ke sana kemari yang membuat Herdini ketawa.

Dijelaskan Panglima TNI, tahun 1963 setelah dibentukanya Wara, AURI sudah mulai memikirkan untuk memberikan kepercayaan kepada Wara sebagai penerbang. 

Lewat sejarah itulah, jelas Hadi, menjadikan Wara sebagai pelopor pertama penerbang perempuan di lingkungan TNI.

Hanya saja program itu tidak berlanjut. Dibutuhkan waktu puluhan tahun sebelum akhirnya TNI AU kembali mendidik Wara menjadi penerbang.

Pada batch kedua, muncullah nama Letnan Pnb Hermuntarsih dan Letnan Pnb Sulastri Baso. Keduanya direkrut menjadi penerbang tahun 1982. Artinya butuh waktu 18 tahun bagi TNI AU untuk mencetak penerbang Wara generasi kedua.

Keduanya tugaskan sebagai penerbang pesawat angkut di Skadron Udara 17 Lanud Halim Perdanakusuma, Jakarta. Sulastri pensiun pada 2013 dengan pangkat terakhir marsekal pertama.

Pada generasi ketiga muncul nama Letnan Pnb Veronica Tig yang saat ini sudah mencapai pangkat kolonel. Ketika itu, Marsekal Hadi berharap Veronica bisa terus meniti karier di TNI hingga mencapai pangkat marsekal.

Di generasi keempat, yang juga sekian puluh tahun kemudian, lahirlah Letda Pnb Fariana dan Letda Pnb Hermuntarsih.

Saat itu, 2017, bertepatan dengan tengah didiidiknya dua penerbang Wara lulusan AAU 2017. Marsekal Hadi tidak menutupi kemungkinan keduanya bisa menjadi penerbang tempur jika memenuhi persyaratan.

“Kita harapkan mereka memenuhi syarat untuk menjadi penerbang dan khususnya penerbang tempur,” tutur Hadi.

“Saya menginginkan sebanyak-banyaknya dari Wara, namun yang memenuhi syarat baru dua,” ujarnya.

Usai meresmikan booth display Wanita Penerbang Wara Pertama di Muspusdirla, Panglima TNI mengajak Ibu Herdini melihat koleksi pesawat di Muspusdirla. Khususnya pesawat L-4J Piper Cub yang dulu diterbangkannya.

“Saya mengharapkan pada setiap hari jadi TNI AU 9 April dan Hari Bakti 29 Juli, ibu bisa ikut hadir bersama kami generasi penerus,” ujar Hadi mengundang.

Kapten (Pur) Lulu Lugyati sendiri kemudian disunting oleh perwira Kopassus yang kelak menjadi KSAD, Panglima ABRI, dan Menteri Pertahanan dan Keamanan Indonesia dalam waktu yang bersamaan, yaitu Jenderal (Pur) Edi Sudradjat.

Daftar Penerbang Wara:

  1. Letda (Pur) Herdini
  2. Letda (Pur) Lulu Lugyati
  3. Marsma (Pur) Sulastri Baso
  4. Marsma (Pur) Hermuntarsih
  5. Kolonel Pnb Veronica
  6. Letkol Pnb Inana Musailimah
  7. Hendrika Aries
  8. Ratih
  9. Sumartini
  10. Kapten Pnb Sekti Ambarwaty
  11. Kapten Pnb Fariana Dewi Djakaria Putri
  12. Letda Pnb Mega Koftiana 
  13. Letda Pnb Anisa Amalia Oktavia
  14. Letda Pnb Ajeng Tresna Dwi Wijayanti
  15. Letda Diara



Komentar