HANKAM

Kisah Pilu Pratu Sukisno Tertembak: "Pak Daromi, Titip Anak Saya"

Kamis, 06 Februari 2020 12:40
Penulis : Beny Adrian
Kisah Pilu Pratu Sukisno Tertembak:

Anggota Kopasgat di Baucau tahun 1978. Sumber: Nanok Soeratno, Kisah Sejati Prajurit Paskhas

Angkasa.news – Gugurnya prajurit di medan perang pasti akan meninggalkan kenangan yang tidak akan pernah terlupakan. Kenangan itulah yang diangkat di buku Nanok Soeratno, Kisah Sejati Prajurit Paskhas (2013). 


Pratu Pas Sukisno gugur dalam kontak tembak dengan Fretilin di Baucau pada Desember 1978. 

Sukisno adalah anggota Peleton 1 Kompi 1 Batalion 1 Kopasgat yang ditempatkan di lapangan terbang Baucau. Kompi 1 dipimpin Lettu Pas Daromi, perwira asal Solo alumni AAU 1973. 

Saat Operasi Seroja dimulai pada 7 Desember 1975, Daromi termasuk di antara perwira Kopasgat yang diterjunkan di Baucau. Saat itu ia masih berpangkat letnan dua dan menjadi komandan peleton. 

Kejadian yang menimpa Sukisno, kelahiran Purwokerto terjadi saat Peleton 1 melaksanakan patroli di sekitar pangkalan. 
Menurut Marsma (Pur) Daromi, misi mereka adalah menutup jalan pelarian kelompok Fretilin yang tengah dikejar batalion Angkatan Darat. Selain itu laporan seringnya terlihat beberapa orang membawa lampu petromak di kala malam di sektor tersebut. 

Peleton ini sedianya diminta sekaligus melakukan pengendapan. Arahnya ke selatan dari pangkalan. 

Hari saat itu sudah menjelang sore ketika Peleton melewati jalur patroli yang biasa mereka lewati. Hanya sesemakan kecil dan beberapa pohon kecil, namun cukup sepi sehingga kewaspadaan tidak boleh mengendur. 

Sebagai Caraka (staf pembantu) Lettu Daromi, posisi Sukisno tidak terlalu jauh dari sang komandan. Sukisno berada di bagian tengah barisan yang berbanjar. Dia berada di Kelompok Peleton. Di lehernya tergantung tas berisi peta dan beberapa peralatan lainnya.

Sehari sebelumnya, seingat Serka (Pur) H Aten, Sukisno terlihat selalu murung dan menyendiri. 

Tidak seperti biasanya, Sukisno dikenal cukup periang dan sesekali memperlihatkan foto anaknya Retno yang masih kecil. 
Kerinduan yang sangat manusiawi dari seorang prajurit saat meninggalkan keluarga selama berbulan-bulan demi sebuah tugas negara. Entah kenapa hari itu, Sukisno berbeda. 

Dalam barisan patroli hari itu, Koptu Aten berada di bagian belakang dan tidak terlalu jauh dari Daromi. 

Tiba-tiba, tar …. tar … suara tembakan dua kali dan kemudian senyap. 

Sebagai reaksi jika mendengar tembakan, pasukan langsung menyebar dan mencari perlindungan meski tidak jelas arahnya dari mana. 

“Saya kena, saya kena!” Suara itu mengagetkan saat beberapa personel mulai melepaskan tembakan balasan. Sukisno tertembak! 

Beberapa anggota segera mendekati Sukisno yang merintih kesakitan, sementara yang lain memberikan perlindungan.

Satu peluru menembus perut Sukisno hingga tembus ke belakang. Saking kencangnya laju peluru, rekannya yang di belakangnya yaitu Koptu Yopi juga terkena. Masih untung Yopi, karena laju peluru sudah jauh berkurang sehingga tertahan saat mengenai kopel rimnya.

Peluru terhenti di situ meski memutuskan kopelnya. Yopi hanya merasakan panas di perutnya. 

Daromi mengetahui anak buahnya tertembak, berlari ke arah depan. Langsung didekatinya Sukisno. Dilihatnya bagian perut Sukisno berlumuran darah dan ada cairan keluar dari sana, sepertinya makanan. 

“Pak Daromi, titip anak saya ya, mohon diperhatikan,” suara Sukisno lirih kepada Daromi saat didekati. 

“Pak Daromi, badan saya kok makin dingin,” kembali Sukisno berujar sambil merintih kesakitan. 

Oleh Daromi, tubuh Sukisno ditutupi selimut pribadinya pemberian komandannya. Sekejap kemudian Daromi menyiapkan tindakan evakuasi bagi anak buahnya.

Karena ada yang tertembak dan hari sudah menjelang gelap, Daromi memutuskan untuk tidak melakukan pengejaran. Kebetulan pula Fretilin tidak melepaskan tembakan lagi sehingga situasi ini dimanfaatkannya untuk kembali ke induk pasukan guna menyelamatkan Sukisno yang terluka parah. 

Kejadian ini juga langsung dilaporkan ke pangkalan yang kemudian mengirimkan ranpur angkut personel beroda enam FV603 Saracen milik Kavaleri AD. 

Sukisno langsung dievakuasi menggunakan Saracen ke Baucau. 

Untuk mendapatkan perawatan lebih baik, dia dilarikan ke Dili dan mendapat perawatan dari dokter AURI Kapten dr Yosef Sunarta. Rencananya pada kesempatan pertama Sukisno akan diterbangkan ke Jakarta menggunakan pesawat Fokker F27 untuk dirawat di RSPAD Gatot Subroto.

Dalam masa penantian di Dili, Sukisno ditemani Koptu Pas Fatoni. Fatoni adalah anggota Batalion 1 Kopasgat yang di-BP-kan ke Lanud Dili dengan tugas menjamin lancarnya pengiriman logistik ke Baucau. 

Fatoni yang menunggui Sukisno semalaman di Dili menceritakan betapa dia sangat sedih melihat rekannya itu. Kondisinya menurut Fatoni masih bagus. “Dia kuat.” 

Seperti yang dia sampaikan kepada Lettu Daromi, Sukisno juga menyampaikan hal yang sama kepada Fatoni. 
“Bang, titip anak saya.” 

Karena kondisinya terus menurun, Pratu Pas Sukisno menghembuskan napas terakhir di RSPAD Gatot Subroto. 

Kejadian yang menimpa Sukisno menjadi kenangan pahit bagi Paskhas hingga di kemudian hari mengabadikan nama Sukisno sebagai nama mess di Batalion 461 Paskhas, Halim Perdanakusuma, yaitu Mess Sukisno.



Komentar