HANKAM

Hemat Miliaran Anggaran, Ini Daftar 47 Inovasi Koharmatau di Bawah Marsda TNI Dento Priyono

Selasa, 11 Februari 2020 12:40
Penulis : Beny Adrian
Hemat Miliaran Anggaran, Ini Daftar 47 Inovasi Koharmatau di Bawah Marsda TNI Dento Priyono

Marsda TNI Dento Priyono. Sumber: angkasa.news/ beny adrian

Angkasa.news – Menyoal inovasi, ada banyak pendapat. 


Steve Jobs si pemilik Apple, pernah bilang bahwa inovasi membedakan antara pemimpin dan pengikut. Sementara Albert Einstein mengatakan bahwa inovasi bukanlah produk pemikiran logis, meskipun hasilnya terkait dengan struktur logis. 

Terlalu berat untuk dipahami, karena itulah marsekal berbintang dua ini hanya melihatnya secara sederhana. 

“Saya selalu bilang ke anak buah, apapun perintah jangan melihat anggaran, kerjakan pakai dana (satuan) kamu, kalau kamu bisa buktikan kepada Angkatan Udara pasti akan dibayar oleh KSAU,” ungkap Marsda TNI Dento Priyono yang saat ini menjabat Komandan Koharmatau ke-32.

Dijumpai di kantornya di lingkungan Lanud Husein Sastranegara, Bandung beberapa waktu lalu, alumni AAU 86 kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, 28 Maret 1963 ini pun bercerita panjang lebar soal inovasi. 

Tidak sekadar membicarakan inovasi, Dento pun membuktikan bahwa inovasi bisa dilakukan dalam situasi apapun. Buktinya di Koharmatau (Komando Pemeliharaan Materiil Angkatan Udara).

Di dalam sebuah plakat besar bertuliskan “Prestasi dan Inovasi Satuan Jajaran Koharmatau untuk TNI Angkatan Udara 2018-2019”, tercantum 47 inovasi yang dilakukan depo-depo pemeliharaan yang berada di jajaran Koharmatau dalam rentang satu tahun terakhir. Apa saja gerangan? 

“Inovasi banyak, seperti yang kita rebut tahun 2019 untuk D-Check yaitu pemeliharaan 6.000 jam atau 6 tahun pesawat Boeing 737 TNI AU dengan GMF,” kata Dento. 

Menurut Dento, selama ini pekerjaan dilakukan di Taiwan, Airod dan GMF. 

Di tahun 2018 pesawat TNI AU menjalani pemeliharaan di GMF. Di saat bersamaan TNI AU menerima hibah pesawat B737 dari Lion. 

“Saya bilang ke direktur GMF, boleh kerjakan di GMF tapi saya minta training anak buah saya di sini. Saya kirim 30 anak buah saya ke GMF,” ujar Dento.

Masih di tahun yang, saat pesawat kedua memasuki fase D-Check di GMF, Dento meminta pekerjaannya dilaksanakan di Koharmatau. GMF hanya perlu mengirim supervisor. Inilah pengalaman pertama Koharmatau hingga selesai pemeliharaan B737 registrasi A-7307. 

Pada awal 2019 dan akhir 2019, Koharmatau kembali merampungkan pekerjaan untuk A-7301 dan A-7302, yang sepenuhnya dilakukan oleh personel TNI AU.

“Itu menghemat anggaran banyak sekali,” urainya.

Di plakat ini tercantum semua prestasi dan inovasi yang diraih satuan di jajaran Koharmatau. Sumber: angkasa.news

Di tahun 2019 juga, Koharmatau berhasil membuat engine test cell untuk pesawat latih Grob G 120TP di Yogyakarta. “Kami memberanikan diri merebut kemampuan overhaul mesin Grob,” kata Dento.

Untungnya pekerjaan dimudahkan karena ternyata mesin Grob sama dengan mesin N-22 Nomad yang sudah di-grounded TNI AL. Selain itu pembelajaran juga dilakukan dengan PT Nusantara Turbin dan Propulsi yang berpengalaman overhaul 300 mesin sejenis Grob. Sementara Koharmatau menyiapkan semua tools dan special tools menggunakan CNC Machine. Lengkap sudah. 

Selain itu Koharmatau juga membuat engine test cell bergerak (mobile) agar bisa dipindah-pindah. 

“Lagi-lagi menghemat miliran rupiah anggaran. Kita ternyata bisa, kemampuan ada dan militansi punya,” jelas Dento.

Namun dari begitu banyak inovasi yang dilakukannya di Koharmatau, pencapaian yang paling ditunggu adalah memperbaiki Human Centrifuge di Lakespra (Lembaga Kesehatan Penerbangan dan Ruang Angkasa) TNI AU.

Human Centrifuge adalah sistem pengujian untuk menentukan kekuatan dan ketahan fisik penerbang tempur terhadap gravitasi Bumi. Alat ini bekerja secara berputar mengikuti arah jarum jam dengan kecepatan yang ditentukan, untuk memberikan efek tekanan gravitasi kepada penerbang yang duduk di dalam gondola.

Perbaikan alat ini tercetus saat KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna mengunjungi Lakespra. Melihat kondisinya rusak berat, KSAU langsung memerintahkan Dankoharmatau untuk memperbaiki. 

Menurut Dento, karena tidak ada mitra atau agen yang sanggup memperbaiki dan kalaupun ada akan memakan anggaran sangat besar, maka jika dikerjakan oleh tim Koharmatau akan mampu memangkas anggaran negara cukup besar.

Pekerjaan ini dilakukan oleh tim gabungan beberapa depo. Yaitu Depohar 10, 20, 40, 50, dan 70. 

Dari rencana kerja, semestinya Human Centrifuge ini sudah memasuki tahap uji ketiga.

“Uji pertama 1-3 G, tahap uji kedua 3-6 G dengan pilot di dalam, tahap uji ketiga sampai 9 G juga dengan pilot di dalamnya. Sejauh ini tidak ada kekurangan siginifikan, hanya penyempurnaan,” ungkap Dento. 

Sejumlah inovasi lainnya yang berhasil dikerjakan Koharmatau di antaranya memperbaiki mesin X-ray di sejumlah pangkalan udara, membuat 200 tandu dalam waktu satu bulan untuk evakuasi menggunakan pesawat, atau membuat podium untuk pejabat. 

Soal podium ini ada ceritanya.

Saat kunjungan ke pangkalan udara Subang di Malaysia, KSAU berdiri di podium kecil yang terlihat bagus dan indah. Simpel sekali. 

Usai kunjungan dan melanjutkan perjalanan ke Brunei, Marsekal Yuyu langsung menegus Dento terkait podium. “Dankoharmat bisa nggak bikin podium seperti itu,” tanya Yuyu.

Gerak cepat, Dento lansung menelepon anak buahnya yang menjadi technical representative di Malaysia untuk meminta spesifikasi podium. Dari situ Dento menelepon anak buahnya di Bandung dan memerintahkan membuatkannya berdasarkan data yang diberikan.

“Sekarang setiap lanud ada podium itu, karena dijadikan model,” ucapnya. 

Marsda Dento Priyono memperlihatkan prestasi yang diraih Koharmatau. Sumber: angkasa.news/ beny adrian

Inovasi lainnya adalah membuat tangga pesawat. Ceritanya berawal dari kunjungan KSAU ke Biak di Papua.

Hari itu KSAU kembali ke Jakarta. Setelah boarding, lama sekali kok pesawat tidak start engine. Usut punya usut, ternyata mobil pembawa tangga ngadat karena baterainya lemah. Mobil tidak bisa jalan dan tanggapun nempel ke badan pesawat. 

“Dari situlah KSAU bilang, besok tidak usah pakai mobil lagi, buat tangga manual saja untuk Boeing, dan sekarang sudah dipakai di mana-mana di Lanud,” jelasnya lagi. 

“Jadi kalau mau berinovasi jangan terpaku kepada aturan, kita bisa atur namun tidak melanggar aturan,” jelas Dento menutup ceritanya. 



Komentar