HANKAM

12 Tahun Rusak, Koharmatau Berhasil Perbaiki Human Centrifuge dengan Biaya Hanya Rp 6 Miliar

Minggu, 23 Februari 2020 15:12
Penulis : Beny Adrian
12 Tahun Rusak, Koharmatau Berhasil Perbaiki Human Centrifuge dengan Biaya Hanya Rp 6 Miliar

Human Centrifuge TNI AU yang berada di Lakespra Saryanto. Sumber: angkasa.news/ beny adrian

Angkasa.news – Jika anda pernah menonton serial film James Bond yaitu Moonraker yang diputar tahun 1979 dan dibintangi Roger Moore, mungkin tidak asing dengan Human Centrifuge (HC).


HC atau disebut juga pelatihan High-G adalah sebuah alat yang digunakan oleh penerbang tempur dan astronot yang (akan) mengalami tingkat akselerasi (G) tinggi.

Alat ini dirancang untuk mencegah hilangnya kesadaran yang diinduksi g (G-LOC, g-induced loss of consciousness), yaitu sebuah situasi ketika tekanan gravitasi membuat darah menjauh dari otak dan bisa membuat kesadaran hilang.

Insiden hilangnya kesadaran yang disebabkan oleh akselerasi gravitasi telah menyebabkan banyak kecelakaan fatal di pesawat karena tidak mampu mempertahankan high-g untuk periode cukup lama.

Di Inggris, High-G training dilaksanakan di High-G Training and Test Facility di RAF Cranwell menggunakan HC buatan AMST. Fasilitas ini melatih penerbang dari Angkatan Udara, Laut, dan Darat Inggris selain siswa internasional.

Sementara KBRwyle di Brooks City-Base di San Antonio, Texas, mengoperasikan human centrifuge untuk melatih penerbang AU dan AL.

Rupanya, TNI AU pun memiliki belalai putar yang bergerak searah jarum jam ini. HC ini dibeli dari Latecoere yang berbasis di Toulouse, Perancis. 

“Kita memiliki alat ini dari tahun 1998 dan mulai dioperasikan tahun 2000,” ujar KSAU Marsekal TNI Yuyu Sutisna di Lakespra Saryanto, Jumat (21/2). Siang itu, KSAU meresmikan kembali beroperasinya Human Centrifuge setelah mengalami kerusakan selama 12 tahun.

KSAU menanyakan kepada Lettu Panji usai mencoba Human Centrifuge. Sumber: angkasa.news/ beny adrian

“Tahun 2001 beroperasi, 2007 rusak sampai 2018. Untuk apa alat ini, adalah melatih penerbang tempur mempertahankan gaya G,” jelas Marsekal Yuyu yang pernah mencoba HC di Belanda.

Selama rusak, TNI AU mengirim penerbang tempur berlatih di HC di sejumlah negara seperti Belanda, Korea, Amerika Serikat, dan Singapura.

“Selama rusak, karena penerbang harus kuat menahan 9 G, sehingga setiap tahun bergiliran berlatih ke luar negeri,” tambah Yuyu.

Dari informasi yang angkasa.news peroleh, penerbang tempur pertama TNI AU yang mencoba alat ini adalah Marsma TNI Basuki Rochmat yang sekarang menjabat Kadispotdirgau. Basuki adalah penerbang F-16.

Menurut salah seorang teknisi TNI AU dari Depo 20 yang ditemui di Lakespra, mengakui kerusakan parah yang dialami HC saat pertama kali dicek.

“Semua rusak terutama kelistrikan, motor penggerak, software dan banyak lagi,” ujarnya. Menurut bintara berpangkat sersan kepala ini, pekerjaan memperbaiki memakan waktu lama karena semua buku petunjuk sudah tidak ada. Alhasil tim teknis gabungan dari Depo Har 10, 20, 40, 50, dan 70 Koharmatau ini harus bekerja keras.

“Termasuk membuat gambar lagi, skema, rangkaian kabel dan sebagainya kita gambar lagi dan itu memakan waktu,” jelasnya. 

Keberanian memperbaiki HC seperti dituturkan KSAU, didasari dari kondisi alat yang sesungguhnya masih baru. Yuyu mengakui keberadaan HC dalam kondisi rusak baru diketahuinya secara pasti saat melaksanakan medical check up pada 2018 di Lakespra. 

“Saya melihat alat ini kan baru jalan 2001-2007, dan secara fisik masih bagus. Kemudian saya perintahkan Dankoharmatau memeriksa kerusakan serta menggandeng ahli dari ITB dan yang pernah sekolah di luar negeri,” urai KSAU.

Sejak diputuskan untuk diperbaiki tahun 2018, total waktu pengerjaaan selama 14 bulan dan dikerjakan oleh 30 teknisi gabungan depo-depo di bawah Koharmatau yang dipimpin Marsda TNI Dento Priyono.

Pengujiaan terakhir dilaksanakan pada 5 Februari sebelum secara resmi disertifikasi oleh Dinas Kelaikan Terbang dan Keselamatan Kerja TNI AU dan disaksikan KSAU pada Jumat lalu. 

Menurut Yuyu, pernah diupayakan perbaikan menggunakan teknisi dari luar negeri dengan biaya Rp 170 miliar.

“Dan sekarang dikerjakan oleh Koharmatau kita hanya mengeluarkan Rp 6 miliar saja,” ujar Yuyu menambahkan bahwa perbaikan ini menggunakan dana rutin. 

Dankoharmatau Marsda TNI Dento Priyono memeriksa kesiapan Human Centrifuge sebelum diresmikan KSAU. Sumber: angkasa.news/ beny adrian

Tentu dengan berhasilnya inovasi ini, TNI AU bisa menghemat APBN karena tidak lagi mengirim penerbang tempur untuk berlatih high-g di luar negeri. Begitu pun untuk pemeliharaan, akan dilakukan sendiri oleh TNI AU dengan pelaksana Koharmatau. 

Menyinggung keberhasilan pekerjaan besar ini, KSAU berharap bisa mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar. 

Marsekal Yuyu juga kembali menyinggung program inovasi yang dilakukan Koharmatau sehingga bisa menghemat anggaran mencapai Rp 11 miliar. 

Inovasi dimaksud adalah berhasilnya Koharmatau melaksanakan D-Check yaitu pemeliharaan 6.000 jam atau 6 tahun pesawat Boeing 737 TNI AU. 

Saat diresmikan KSAU, dilaksanakan pengujian human centrifuge dengan penerbang di dalam gondola adalah Lettu Pnb Panji "Groot" Satrio dari Skadron Udara 3. Alat digunakan dua kali dengan tekanan 6G dan 9G, dan hasilnya sangat baik. 

Ditambahkan Mayor Pnb Harpy dari Skadron Udara 16, setiap penerbang tempur wajib mencoba HC terutama sebelum melaksanakan terbang solo. Sangatlah berisiko jika instrukttur tidak mengetahui kemampuan siswanya untuk mampu menahan tekanan hingga 9G. 

Kondisi G-LOC yang dialami penerbang tempur yang seorang diri di kokpit, bisa berakibat fatal bagi keselamatan jiwa. 

“Kalau kolap, siapa yang bisa menolong karena hanya sendiri, sementara untuk sadar dari kolap itu minimum 40 detik, tergantung orangnya. Bayangkan kalau dia kolap dalam kondisi pesawat miring dan kehilangan altitude 20.000 kaki per menit, dia belum sadar sudah jatuh,” jelas Harpy.



Komentar