BISNIS

Tergila-gila Sejak Masa SMP, Iqbal Sudah Layak Disebut Sebagai Master Dog Tag Indonesia

Sabtu, 22 Juni 2019 09:25
Penulis : Beny Adrian
Tergila-gila Sejak Masa SMP, Iqbal Sudah Layak Disebut Sebagai Master Dog Tag Indonesia

Iqbal saat ditemui di PRJ, sudah melakoni usaha pembuatan keping dog tag selama 10 tahun. Sumber: angkasa.news/ Trisna Bayu

Angkasa.news - Asesoris yang digunakan tentara selalu menjadi perhatian publik untuk ditiru. Gaya berpakaian beserta kelengkapannya, potongan rambut sampai cara bicaranya. Dari situ kemudian muncul istilah army looks, yang bahkan pernah mempengaruhi tren fashion dunia.

Di antara asesori tentara yang paling banyak dipakai kalangan sipil adalah dog tag. Boleh disebut kalung anjing karena kemiripannya dengan kalung identifikasi yang dikenakan pada seekor anjing, begitulah sejarah penamaan dog tag.

Dengan bentuknya yang khas dan bunyinya yang gemerincing ketika beradu, keping identitas prajurit ini memang menarik. Ada kebanggaan si pemakai saat mengenakannya. Bagi anggota militer, dog tag wajib dipakai sebagai alat identifikasi jika si prajurit gugur di medan tugas.

Karena itu sebuah dog tag menyimpan identisitas pemakainya. Biasanya berisi nama, kesatuan, golongan darah, agama, dan tanggal lahir.

Nah, di Indonesia pun dog tag digunakan cukup luas meski tidak ada kewajiban bagi anggota TNI untuk mengenakannya.

Setidaknya 10 tahun terakhir, ketika seseorang menyebut dog tag maka satu nama yang selalu muncul adalah Mohammad Iqbal.

Pria ramah berperawakan militer ini memang identik dengan dog tag, yang produknya ia labeli Indotag. “Saya sudah memulai usaha ini sejak 2009,” aku Iqbal, panggilan akrabnya kepada  angkasa.news saat ditemui di area Pekan Raya Jakarta (PRJ) beberapa waktu lalu.

Ketika ditanya sudah berapa ribu dog tag dibuatnya? Iqbal yang buka stand di konter Blibli.com bersama grup bisnisnya Zivtac ini mengaku tidak pernah menghitung.

Namun jika dirata-rata sebulan ia menjual 400 keping dog tag, dengan 10 tahun berjalan bisa dikalkulasi total dog tag yang dibuatnya mencapai 48.000. Wow…. Jumlah yang cukup untuk melengkapi satu korps pasukan infanteri.

“Alhamdulillah, ini jalan yang diberikan tuhan kepada saya, karena memang saya terila-gila dengan dog tag sejak SMP. Ingin punya tapi zaman itu belinya mahal, nabung-nabung akhirnya beli di Jalan Guntur. Tapi gua sakit hati karena nggak boleh lihat proses pembuatannya,” urai Iqbal mengenang masa lalunya.

Keinginan membuat dog tag itu terus disimpannya sampai ia sekolah di STM. Sebagai anak teknik ia tahu pasti bahwa apapun bisa dibuat apalagi yang berbau manual. Ia pun melakukan riset kecil, namun berkali-kali gagal.

Waktu berlalu sampai akhirnya pria kelahiran 20 Mei 1976 ini bekerja di grup Bank Danamon yaitu American Express.

Secara tidak sengaja ia melihat bahwa mesin pembuat kartu kredit memiliki prinsip kerja yang sama untuk membuat dog tag.

Iqbal pun mencoba mencari mesin bekas di kantornya. Lagi-lagi ia diberi kemudahan, secara tidak sengaja ia bertemu seseorang yang kerjanya nampung peralatan bekas bank yang kolaps alias tutup.

Dari orang inilah Iqbal mendapatkan mesin pembuat kartu kredit bekas yang sudah berantakan, yang langsung dibayarnya tunai. Mesin ini kemudian ia rakit kembali, bahkan ia beli lagi hinggal total menjadi enam mesin. Mesin ini bisa mencetak huruf timbul atau tenggelam.

Inilah mesin pertama yang dimiliki Iqbal untuk membuat sebuah dog tag.

Mesin sudah, tinggal mencari bahan baku yang ternyata sulit diperoleh di dalam negeri. Sulit mencari material dan fabrikasi di negeri sendiri yang cocok untuk dog tag.

Ada sih beberapa pemasok material ia hubungi, namun semua berakhir dengan kecewa.

“Semua gampangin, mulai dari pabrik kecil sampai gede. Semua ngomong kuantiti mulu. Saya bilang sanggupnya berapa ribu, tidak masalah asal kualitas rapi seperti yang dari Amerika,” kenang Iqbal.

Benar saja. Tidak satupun bahan yang ia terima sesuai persyaratan. “Tidak rapi, dan kalau minta benerin tidak mau, akhirnya gagal semua.”

Dijelaskannya bahwa bahan untuk membuat kepingan dog tag memang khusus. Material ini tidak diproduksi di Indonesia, meski ada namun dengan ketebalan berbeda.

Spesifikasinya adalah non-allergic, non-magnetic, dan non-corrosion. “Karena bersentuhan dengan kulit manusia,” ulasnya.

Lalu apa jenis materialnya? Bahannya adalah SAE 304 stainless steel yang terlihat kusam.

Iqbal pun mulai mencari penjual bahan dari AS. Internet yang mulai mewabah memudahkan prosesnya. Hampir semua toko penjual dog tag di AS ia kontak.

Dari 50 toko penjual di AS, hampir 90 persennya ia beli dogtag-nya sampai menemukan toko yang benar-benar jago dog tag.

“Sampai akhirnya dapat tiga toko di AS yang berhubungan sampai sekarang,” ujarnya.

Sesuai modal yang ada, Iqbal mengaku masih membeli partai kecil. Ia pun tidak malu-malu meminjam kartu kredit bosnya di Danamon untuk bertransaksi ke AS.

Karena saat itu sistem kargo belum secanggih saat ini, Iqbal beberapa kali gigit jari karena kirimannya lenyap di perjalanan.

Namun jalannya sudah terbuka. Pelan namun pasti, jumlah pembeliannya mulai meningkat. Ia pun membuat blog di jagat maya untuk pemasaran, selain aktif mengikuti pameran di sejumlah kota besar.

Orang makin mengenal nama Iqbal, pengguna dog tag makin menjamur terutama di lingkungan TNI dan Polri.

Dengan keyakinan yang kuat, Iqbal pun membeli mesin pembuat dog tag dari AS dan Inggris.

“Harga mesinnya sekitar Rp 250 juta dan sekarang sudah tidak produksi karena sudah era digital. Awal 2000 mereka sudah tidak produksi dan sekarang otomatisasi digital, namun kan tidak efektif untuk usaha kecil seperti saya,” katanya.

Namun sebagai master dog tag, Iqbal tahu bahwa mesin manual masih digunakan militer AS di semua outpost di seluruh dunia.

Suatu hari mitra bisnisnya di Amerika itu bertanya, kok bisa penjualan dog tag di Indonesia begitu tinggi dan kontinu. Pasalnya, aku Iqbal, dalam sebulan ia bisa pesan 5.000 keping (dikali dua berarti 10.000) beserta karetnya.

“Akhirnya saya dikenalkan kepada perusahaan pembuat dog tag asli. Hanya saja perusahaan ini tidak melayani penjualan retail karena sudah dedicated ke semua toko di AS.

Iqbal diminta untuk tetap membeli dari toko langganannya. Namun sebagai bentuk penghargaan ia diberi diskon khusus. “Adanya di Louisiana dan Illinois.

Saat ini dog tag ia jual dengan kisaran harga Rp 130.000 - 170.000. Ada lima tipe dog tag dijual, yaitu Tipe Replica, Vietnam, Classic, Black Tag, Brass Tag, dan Medical Tag.

“Di Asia itu penjualan dog tag tertinggi ada di Indonesia, dan itu adanya di saya,” aku Iqbal buka kartu.

Karena brand Indotag sudah dipercaya, Iqbal pun menerima banyak pesanan dari sejumlah satuan TNI dan Polri. Termasuk Akademi TNI.

Tidak hanya di lingkungan TNI-Polri, pesanan pun kadang datang dari STPI (Sekolah Tinggi Penerbangan Indonesia) di Curug, perusahaan yang mengadakan outing program hingga komunitas motor.

“Kalau dari TNI memang tidak rutin, tergantung komandannya, karena TNI tidak mewajibkan anggotanya menggunakan dog tag,” urai Iqbal.

Dari pergaulannya di lingkungan TNI itu, akhirnya Iqbal pun “terseret” menjalani sejumlah aktivitas ekstrem yang memang ia sukai. Mulai dari menyelam, terjun payung, dan ekspedisi. Dengan bekal kemampuan ini, ia pun menjadi relawan tim SAR pencarian korban jatuhnya pesawat Lion Air JT-610 pada 29 Oktober 2018 di perairan Karawang bersama tim Kopaska.

Dengan apa yang sudah digapainya bersama dog tag, Iqbal tak lupa berucap syukur kepada Allah SWT. Karena 10 tahun menjalani usaha ini, ia mengaku sudah mendapat banyak kemudahan dalam menjalani kehidupan sosial maupun keluarganya.

Kalo ukurannya beli rumah, mobil, umrah bisa gua lakuin. Dan terutama dekat selalu dengan keluarga, itu tidak ternilai. Gua bisa liburan di hari biasa, itu kan hebat,” ungkapnya.

Alhasil dengan pencapaian dan kegigihannya menekuni usaha pembuatan dog tag selama 10 tahun, layak kiranya Mohammad Iqbal dijuluki sebagai master dog tag Indonesia.



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.