BISNIS

Nasib Sukhoi Superjet 100 yang Kian Tak Menentu Lantaran Nihil Penjualan

Jumat, 21 Februari 2020 17:00
Penulis : Remi
Nasib Sukhoi Superjet 100 yang Kian Tak Menentu Lantaran Nihil Penjualan

Sumber: SCAC.ru

Angkasa.news - Pesawat komersial buatan Rusia, Sukhoi Superjet 100 yang awalnya digadang-gadang bakal menjadi kuda hitam yang bersaing dengan Airbus dan Boeing tahun ini belum membukukan penjualan sama sekali. Pesanan terakhir datang tahun lalu dari maskapai milik negara, Aeroflot.

Pesawat yang mulai beroperasi sejak 2011 dan merupakan jet penumpang pertama yang dibangun di Rusia sejak jatuhnya Uni Soviet itu memiliki sejarah yang agak kelam meskipun Rusia telah menyuntikkan miliaran dolar untuk pengembangannya. Tahun lalu, sebuah kecelakaan Superjet mendarat di Moskow, menewaskan 41 orang.

Di tahun 2011 saat pesawat itu pertama kali diperkenalkan di Indonesia, Superjet 100 malah menewaskan lebih dari 100 orang saat satu pesawatnya menabrak Gunung Salak di kawasan Bogor, Jawa Barat.


Sukhoi Civil Aircraft, yang dikendalikan oleh perusahaan induk Rusia Rostec hingga saat ini berharap bisa menjual ratusan unit lagi . Namun permintaan justru menurun. Calon pengguna yang awalnya tertarik malah mundur dari pesanan akibat adanya masalah servis serta keterlambatan dalam pengadaan suku cadang.

Saat ini tercatat hanya ada 142 unit Sukhoi Superjet 100 yang beroperasi di seluruh dunia.

Aeroflot sendiri saat ini masih mengoperasikan 54 unit Superjet 100. Perusahaan menargetkan akan menerima hingga 17 unit tahun ini. Maskapai itu telah menandatangani kontrak jangka panjang pada 2018 untuk menyewa 100 Superjets antara 2019 dan 2026.

"(Proyek Superjet) tergantung pada keputusan pemerintah, karena itu belum berfungsi secara komersial," ujar seorang sumber di dalam Sukhoi seperti dikutip oleh Reuters.

Superjet 100 sebagian besar dioperasikan di Rusia oleh maskapai penerbangan regional, korporasi, dan entitas pemerintah. 

Sedangkan di luar Rusia, rata-rata operator Sukhoi Superjet 100 sudah menonaktifkan pesawat itu. Maskapai penerbangan Irlandia, CityJet, tercatat berhenti mengoperasikan tujuh Superjet tahun lalu. Begitu juga dengan Mexican Interjet, maskapai asal Meksiko, yang mengatakan bahwa pihaknya berencana untuk menjual 22 Superjetnya.

Di Indonesia sendiri, Superjet 100 pernah hadir menjadi bagian dari armada Sky Aviation sebelum akhirnya maskapai itu gulung tikar di tahun 2014.

Sukhoi dalam sebuah pernyataan menolak untuk mengungkapkan portofolio pelanggannya.

"Perusahaan sedang berupaya menerapkan kontrak untuk kepentingan operator dan pelanggan pesawat, yang utama adalah maskapai penerbangan Rusia Aeroflot," katanya.

 



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.