BISNIS

Kerja Keras Layak Diapresiasi, Boyong dan Pugar 30 Pesawat Saksi Sejarah Kedirgantaraan Indonesia

Kamis, 02 Januari 2020 19:38
Penulis : Beny Adrian
Kerja Keras Layak Diapresiasi, Boyong dan Pugar 30 Pesawat Saksi Sejarah Kedirgantaraan Indonesia

Marsda TNI Dento Priyono dan buku “Boyong Pusaka Angkasa, Menarasikan Kembali Sejarah Kedirgantaraan Indonesia". Sumber: angkasa.news/ beny adrian

Angkasa.news - Karya yang baik apalagi terbaik, perlu dan wajib diberi apresiasi. Penghargaan adalah semata bentuk pengakuan terhadap hasil perbuatan seseorang atau kelompok sehingga menghasilkan sesuatu yang dapat dimanfaatkan orang banyak.

Tak heran sampai ada lembaga khusus yang memberikan penghargaan seperti Museum Rekor Indonesia.

Di antara pekerjaan besar yang layak dihargai itu adalah proses pemindahan dan pemugaran 30 pesawat yang pernah berdinas di lingkungan TNI AU. Sebagian besar dari pesawat ini menambah koleksi Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala (Muspusdirla) di Lanud Adi Sucipto, Yogyakarta.

Bukan pekerjaan sederhana, karena beberapa pesawat harus dipindahkan dari Bandung, Bogor, Jakarta, dan Biak di Papua ke Yogyakarta. Semua pekerjaan ini berlangsung dari tahun 2017 hingga 2019.

Singkat kata, pekerjaan hebat inilah yang oleh Komandan Koharmatau (Komando Pemeliharaan Materiil Angkatan Udara) Marsda TNI Dento Priyono, ditampilkan di dalam sebuah buku eksklusif.

Buku “Boyong Pusaka Angkasa, Menarasikan Kembali Sejarah Kedirgantaraan Indonesia” ini diluncurkan untuk pertama kali pada 29 Juli 2019.

Proyek pemindahan pesawat ini diawali dengan diboyongnya pesawat A-4E Skyhawk TT-0438 dari Lanud Hasanudin di Makassar ke Jakarta. Pesawat ini bisa disaksikan di Museum Pusat Satria Mandala, Jakarta.

Saat pertama kali menerima perintah dari KSAU Marsekal TNI Hadi Tjahjanto untuk memindahkan pesawat A-4, Dento masih menjabat sebagai Kepala Dinas Aeronautika Angkatan Udara (Kadisaero).

Buku setebal 248 halaman yang ditulis sendiri oleh Dento Priyono bersama Bambang Tri Sutrisno ini, diterbitkan oleh Lembaga Kajian Pertahanan Strategis (Keris).

Buku dikemas secara premium, dengan tampilan full color dan pilihan kertas yang membuat foto-fotonya terlihat bagus. 

Kepada angkasa.news yang menemuinya di ruang kerjanya di Koharmatau beberapa hari lalu, Dento mengaku mencetak buku ini secara khusus 2.000 eksemplar.

“Saya cetak 2.000 dan saya kirim ke Lanud-Lanud, ke sekolah di bawah Yayasan. Saya mencatat sebetulnya apa yang sudah diperbuat, itu saja,” ungkap marsekal kelahiran Boyolali, Jawa Tengah, 28 Maret 1963 ini.

Buku ini cukup menarik dibaca. Karena porsi foto dan tulisan diatur sedemikian rupa untuk membuat pembaca tidak buru-buru meletakkan bukunya. Foto-foto yang seluruhnya berwarna ini seperti sengaja disuguhkan sebagai legacy bagi siapapun yang mencintai dunia penerbangan.

Menurut Dento, buku ini berisi tentang semua hal yang sudah ia kerjakan bersama tim untuk memindahkan lusinan pesawat yang sudah tidak bermanfaat dan menyulapnya jadi bermanfaat. “Total 30 pesawat dan paling jauh saya ambil dari Biak,” aku alumni AAU 1986 ini.

Yang dimaksud adalah pesawat tempur Belanda Hawker Hunter yang ketika diselamatkan hanya tinggal rangkanya saja.

Ketika ditanyakan dimana buku dengan jilid hard cover ini bisa dibeli, Dento menjawab singkat, tidak dijual.

“Saya tidak jual, kalau ada yang mau bukunya ya minta ke saya saja,” tegasnya tersenyum.

Idealisme ini didasari dari keprihatinannya untuk melestarikan jejak sejarah TNI AU agar tidak hilang ditelan zaman.

“Banyak pesawat kita yang sudah tidak diterbangkan, dijual, sayang,” katanya.

Dento mencontohkan sebuah pesawat latih yang dibawa ke Amerika Serikat. Sebetulnya pesawat ini masih bisa terbang, namun karena sudah dihapus dari daftar aset negara, akhirnya dijual. Dento masih bersyukur beberapa pesawat sudah dijadikan monumen.

Dalam pikirannya, alangkah lebih baik jika pesawat-pesawat ini dibagi-bagikan ke pangkalan udara di daerah untuk dipasang di gerbang pangkalan.

Dari sekian pesawat yang dipindahkan dan dipugar, paling berkesan adalah ketika memboyong pesawat C-130 Hercules dari Lanud Sulaiman di Bandung ke Yogyakarta melalui jalur darat.

“Perjalanan 10 hari ke Yogya lewat darat. Kalau lewat jalan tol saya harus bongkar dua pintu tol dan harus mengembalikan biaya pembongkaran Rp 650 juta. Akhirnya lewat Selatan, Kebumen sana dan sampai Yogya dalam 10 hari,” kenang Dento.

Perjalanan darat ini dikawal oleh 15 anggota TNI AU dibantu petugas polisi yang secara estafet mengawal dari satu polres ke polres berikutnya.

Diakui Dento, sesungguhnya masih ada satu pesawat lagi yang harus dipindahkan ke Museum Pusat TNI AU Dirgantara Mandala, yaitu pesawat N250 yang saat ini teronggok di PT Dirgantara Indonesia.

“Karena PTDI mau mindahin sendiri, ya, silakan, tapi sampai sekarang belum dipindah juga,” celetuknya.

Selain memperbaiki dan melengkapi koleksi pesawat di Museum, Dento juga mendirikan Museum Engine R. Ahmad Imanullah. "Ada 37 engine dan renovasi gedung yang dikerjakan," ujar Dento. Tentu saja Museum Engine ini bisa ditemukan di dalam buku.

Museum Engine ini terletak persis di seberang bangunan utama Muspusdirla, atau lebih persisnya di depan deretan koleksi pesawat tempur. Ruangannya dilengkapi pendingin ruangan.

Koleksi Museum Engine R. Ahmad Imanullah dibagi menjadi tiga kelompok. Yaitu kelompok Jet Engine, Rotary Wing Engine, dan Propeller Engine.

Nama museum ini diambil dari Mayor (Pnb) R. Ahmad Imanullah yang gugur saat menjadi instruktur penerbang di Lanud Adisucipto. Almarhum adalah penerbang helikopter SA-330 Puma di Skadron Udara 8 Lanud Atang Senjaya, Bogor.

Kecelakaan terjadi pada 20 Februari 1998, saat Mayor Ahmad menerbangkan pesawat T-34C Charlie bersama siswa. Ahmad sebagai instruktur penerbang, tengah memberikan materi navigasi kepada siswanya saat terjadi malfungsi di pesawat.

Pesawat jatuh di grass trip Runway 09 Lanud Adisucipto dan mengakibatkan kedua awaknya gugur.

Tentu Anda tertarik dengan buku ini dan mau tahu apa saja yang sudah dikerjakan Marsda Dento bersama timnya.  So, silakan hubungi Komandan Koharmatau Marsda TNI Dento Priyono.

Jika beruntung, pasti anda akan membawa pulang buku eksklusif ini. 



Komentar



Sign Up for Our Newsletters
Get awesome content in your inbox every week.