BISNIS

Ini Alasan Kenapa A380 Bisa Gagal di Pasar

Kamis, 05 September 2019 17:00
Penulis : Remigius Septian
Ini Alasan Kenapa A380 Bisa Gagal di Pasar

Sumber: Airbus

Angkasa.news - Airbus A380 adalah pesawat jet penumpang terbesar di dunia yang awalnya menawarkan kenyamanan lebih tinggi daripada para pesaingnya. Saat awal diperkenalkan, hampir seluruh pengamat menebak A380 bakal mengulang kesuksesan Boeing 747. Namun ternyata popularitasnya tak sampai dua dekade.

Jadi mengapa Airbus memutuskan untuk membunuhnya?

Alasan utama perusahaan akan menghentikan produksi di tahun 2021 adalah karena rendahnya jumlah pesawat yang terjual. "Pada akhirnya, Anda harus menghadapi fakta dan kita bisa melihat bahwa kami membangun A380 lebih cepat daripada jumlah pemesanannya," kata Senior Vice President, Head of Market and Product Strategy Airbus seperti dikutip oleh wired.co.uk.


Hingga saat ini Emirates masih menjadi operator A380 terbesar di dunia. Maskapai itu memiliki 110 A380 dan  masih ada 13 lainnya yang ada dalam antrean produksi.

Namun maskapai yang berbasis di Dubai itu akhirnya juga memutuskan untuk memotong 39 unit pesanan dari total 162 menjadi 123 pesawat. Keputusan Emirates ini berlanjut dengan pengumuman Airbus yang mengatakan akan berhenti memproduksi A380.

Rata-rata operator A380 menawarkan kemewahan bak hotel bintang 5 bagi setiap penumpang kelas satu A380.

Kesuksesan Emirates ini ternyata menginspirasi banyak maskapai lain yang kemudian ikut memesan A380. Nyatanya, para pengikut itu kesulitan menemukan pasar yang setara dengan pasar Emirates.

Ketika mengumumkan keputusannya untuk berhenti membeli A380, pada Juni lalu Emirates mengatakan akan membeli 40 pesawat Airbus A330-900 dan 30 pesawat A350-900. Mereka akan mulai menerima pesanan pertama pada awal 2021.

Selain Emirates, sejumlah maskapai penerbangan lain, termasuk Lufthansa dan Air France juga telah memutuskan untuk berhenti memesan A380. Lange mengatakan bahwa jika sebuah maskapai penerbangan dapat mengoperasikan A380, pesawat itu akan menghasilkan pendapatan Rp2 triliun per tahun.

Tetapi tantangan terbesarnya adalah bagaimana cara mengisi semua kursi itu. A380 dengan dua lantai dapat diisi secara maksimum dengan 868 orang.

Lufthansa menjual enam A380 kembali ke Airbus awal tahun ini sambil mengatakan bahwa pesawat itu tidak menguntungkan. Qantas membatalkan pesanan A380 terakhirnya pada bulan Februari. Qatar Airlines, yang memiliki 10 unit A380 telah mengumumkan akan beralih ke Boeing 777X mulai 2024. 

Awalnya, maskapai penerbangan utama di dunia mengatakan kepada Airbus bahwa mereka membutuhkan pesawat yang lebih besar untuk mengatasi pertumbuhan lalu lintas udara yang terus melonjak. Pesawat yang lebih besar berarti lebih sedikit gerbang terminal yang dibutuhkan di bandara dan lebih banyak kursi di pesawat, lebih banyak penumpang, yang ujung-ujungnya bisa menekan tarif penerbangan.

Masalahnya, dalam beberapa tahun sekali, kabin A380 harus dirombak dan ditingkatkan demi kenyamanan penumpang. Semakin banyak kursi yang diganti maka akan makin mahal pula biayanya. Itulah salah satu alasan Air France memutuskan untuk meninggalkan A380.

Perkiraan biaya untuk meningkatkan kelas ekonomi dan bisnis bisa pebih dari Rp675 miliar. Harga ini dianggap terlalu tinggi jika dibandingkan dengan membeli pesawat yang lebih baru sebagai gantinya. 

Belum lagi soal desain eksternal. A380 menggunakan empat mesin yang konsekuensinya, perusahaan harus berinvestasi lebih banyak pada perawatan mesin pesawat. Teknologi berkembang dengan cepat dan generasi baru pesawat saat ini hanya menggunakan dua mesin yang super efisien, seperti Boeing 787 Dreamliner dan Airbus A350. 

Mengingat bahan bakar adalah biaya operasional terbesar untuk sebuah maskapai penerbangan, apa pun yang bisa dilakukan maskapai untuk mengurangi bahan bakar dan biaya perawatan pesawat tentu akan sangat menarik.

Saat ini rata-rata maskapai penerbangan di dunia telah memilih untuk membuat rencana peremajaan armada mereka dengan pesawat-pesawat dengan dua mesin.

Namun, kegagalan A380 ini bukan merupakan sesuatu yang sia-sia. Meskipun merugi hingga puluhan miliar Dolar AS, namun Airbus telah berhasil melipatgandakan keuntungannya pada paruh pertama tahun ini, dibandingkan dengan periode yang sama pada 2018.

Lebih dari itu, teknologi yang dikembangkan untuk A380 pun masih digunakan untuk produk pesawat lainnya. "Ada lebih dari 380 paten pada A380," kata Lange.



Komentar